Usai membunuh istrinya, pelaku tidak langsung melapor. Sebaliknya, ia **tidur bersama jasad korban hingga keesokan harinya**, lalu mulai menjalankan skenario untuk merekayasa kematian tersebut.
Sekitar pukul 07.00 WIB, pelaku menjemput ibu mertuanya yang sedang berbelanja di Pasar Sei Sikambing. Ia berpura-pura panik dan menyampaikan bahwa korban tidak kunjung bangun dari tidur.
Baca Juga:
Saat ibu korban mendatangi rumah tersebut, korban ditemukan sudah tidak bernyawa. Pelaku berpura-pura terkejut dan mengaku tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Pada saat itu tersangka tidak mengakui perbuatannya dan berlagak seolah-olah kaget melihat istrinya meninggal dunia," ujar Jean Calvijn.
Baca Juga:
Merasa ada kejanggalan, ibu korban melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Polisi kemudian melakukan penyelidikan mendalam menggunakan metode Scientific Crime Investigation (SCI).
Awalnya, pelaku tidak mengakui perbuatannya dan bersikap santai saat diperiksa. Namun, polisi menemukan bekas luka cakaran di tubuh tersangka yang diduga merupakan perlawanan korban saat dibunuh.
Setelah dilakukan pemeriksaan intensif selama sekitar satu pekan dan didukung alat bukti kuat, tersangka akhirnya mengakui perbuatannya. Motif pembunuhan diketahui dipicu oleh emosi pelaku karena ajakannya berhubungan intim ditolak korban dengan alasan kelelahan.
"Terjadi cekcok, lalu tersangka emosi dan melakukan pembekapan," jelas Kapolrestabes.
Hasil visum et repertum menunjukkan adanya luka lecet dan memar di bibir bagian dalam dan daun telinga, buih halus di saluran pernapasan, serta bintik pendarahan pada jantung dan paru-paru yang menandakan korban meninggal akibat mati lemas.
Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya bantal warna kuning, pakaian korban yang robek, serta pakaian tersangka yang koyak akibat cakar korban.
Tags
beritaTerkait
komentar