Rabu, 25 Februari 2026
Kapan Terakhir Kali Kamu Sendiri Bahagia?

Selalu Mengutamakan Orang Lain, juga Ada Batasnya

Evi Tanjung - Rabu, 25 Februari 2026 16:13 WIB
Selalu Mengutamakan Orang Lain, juga Ada Batasnya
ist

POSMETRO MEDAN, Medan - Banyak orang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Mereka sigap membantu, mudah mengalah, dan jarang berkata tidak. Di mata sekitar, sikap seperti ini terlihat mulia dan penuh kepedulian. Namun ada satu pertanyaan penting yang sering terlewat: kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa bahagia karena dirimu sendiri, bukan karena berhasil menyenangkan orang lain?

Mengutamakan orang lain memang bukan hal yang keliru. Itu mencerminkan empati dan perhatian. Tetapi ketika kebiasaan tersebut membuatmu terus-menerus lelah, merasa kosong, atau kehilangan arah, ada yang perlu ditinjau ulang.

Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi "baik" berarti selalu siap berkorban. Ada ketakutan dianggap egois jika memprioritaskan diri sendiri. Ada kekhawatiran ditinggalkan jika berhenti menyenangkan orang lain. Padahal hidup yang terus diisi dengan memenuhi ekspektasi orang lain perlahan bisa mengikis kebahagiaan pribadi.

Baca Juga:

Keinginan untuk diterima sering menjadi alasan utama seseorang terus mengutamakan orang lain. Rasa ingin disukai membuat banyak orang rela menekan kebutuhan pribadi. Pujian karena dianggap perhatian terasa menyenangkan, tetapi tanpa sadar kebahagiaan menjadi bergantung pada penilaian orang lain.

Selain itu, rasa takut terhadap konflik juga berperan besar. Mengatakan "tidak" terasa lebih berat dibanding menerima beban tambahan. Demi menghindari ketegangan, kamu memilih diam dan menanggung sendiri rasa lelah tersebut.

Baca Juga:

Tidak jarang pola ini berasal dari kebiasaan lama. Jika sejak kecil terbiasa diminta mengalah atau menjadi penopang emosional keluarga, peran itu terbawa hingga dewasa. Kamu merasa bertanggung jawab menjaga orang lain tetap nyaman, meski harus mengorbankan diri sendiri.

Lantas bagaimana cara merubahnya,langkah awal yang penting adalah belajar berkata tidak tanpa rasa bersalah berlebihan. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Tidak semua masalah orang lain menjadi tanggung jawabmu. Kadang, orang lain pun perlu belajar menyelesaikan persoalannya sendiri.

Mengatakan tidak bukan berarti menolak orangnya, melainkan menolak situasinya. Kalimat sederhana seperti, "Saat ini belum bisa membantu," sudah cukup. Tidak perlu penjelasan panjang atau pembenaran berlebihan. Awalnya memang terasa tidak nyaman, tetapi batasan justru membuat hubungan lebih sehat.

Selain itu, luangkan waktu untuk mengenali kembali kebutuhan pribadi. Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu hanya karena itu membuatmu senang? Bukan karena tuntutan pekerjaan, keluarga, atau pasangan, melainkan karena kamu memang ingin melakukannya.

Kebahagiaan sering hadir dalam hal sederhana: membaca buku dengan tenang, berjalan sendirian tanpa gangguan, menekuni hobi lama, atau sekadar beristirahat tanpa rasa bersalah. Namun kebahagiaan membutuhkan ruang. Jika seluruh waktumu habis untuk orang lain, ruang itu tidak pernah tersedia.

Perubahan tidak harus ekstrem. Mulailah dengan langkah kecil, seperti menetapkan batas waktu atau menyisihkan satu hari dalam seminggu untuk diri sendiri. Komunikasikan perubahan ini dengan tenang. Orang yang benar-benar peduli akan berusaha memahami. Jika ada yang kecewa, itu bukan berarti kamu salah. Tidak semua orang nyaman ketika batasan baru muncul, terutama jika sebelumnya mereka terbiasa mendapatkan perhatian tanpa batas.

Yang tak kalah penting, hargai dirimu sendiri. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengorbanan yang dilakukan. Kamu berharga bukan karena selalu ada untuk semua orang, tetapi karena kamu adalah dirimu sendiri.

Menjadi baik tidak harus berarti selalu mengalah. Kadang, bentuk kebaikan terbesar adalah jujur pada diri sendiri. Tanyakan dengan lembut: kapan terakhir kali kamu merasa bahagia tanpa rasa bersalah?

Jika jawabannya sudah terlalu lama, itu bukan kegagalan. Itu hanya tanda bahwa sudah waktunya memberi ruang bagi diri sendiri. Tidak perlu drastis, cukup satu keputusan kecil hari ini yang menunjukkan bahwa kebahagiaanmu juga penting.

Mengutamakan orang lain memang sikap yang mulia. Namun jangan sampai kamu lupa bahwa dirimu juga layak diperjuangkan. Ketika kamu bisa bahagia tanpa merasa bersalah, kepedulianmu pada orang lain justru akan terasa lebih tulus dan tidak terpaksa.(fem/red)

Tags
beritaTerkait
4 Tanda Kamu Sedang Bertumbuh meski Hidup Terasa Berat
Soft Saving: Cara Menabung Lebih Tenang tanpa Tekanan Finansial
Topcer! Belum Sebulan Menikah, Amanda Manopo dan Kenny Austin Umumkan Kehamilan Anak Pertamanya
Polda Sumut Gelar Razia THM Platinum Bar dan Lion Bar & KTV, 16 Pengunjung Positif Narkoba
Warga Panik, Tiang Listrik di Jalan Bahagia By Pass Medan Terbakar
5 Zodiak yang Paling Jarang Update Status tapi Hidupnya Sangat Bahagia
komentar
beritaTerbaru