Selain Honda, Daihatsu juga tak mau ketinggalan. Karuan saja, mereka hanya membanderol Rocky Hybrid mulai dari Rp 290 jutaan. Nominal tersebut, untuk ukuran mobil hybrid yang berstatus CBU Jepang.
Pabrikan Mobil China-Jepang
Pabrikan mobil asal China belakangan ramai-ramai menurunkan harga mobilnya di Indonesia. Bahkan, ada sejumlah nama yang merevisi harga kendaraan hingga ratusan juta rupiah. Menurut pakar otomotif, situasi tersebut berbahaya untuk industri otomotif di Tanah Air.
Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu mengatakan, penurunan angka yang agresif bisa memicu perang harga selanjutnya. Hal ini, kata dia, akan berdampak ke pemangkasan biaya operasional perusahaan!
"Tren produsen China yang ramai-ramai menurunkan harga jual mobil di Indonesia memang sedang menjadi sorotan dan dampaknya cukup kompleks. Tren ini jelas berpotensi membahayakan industri otomotif dalam jangka panjang," ujar Yannes, belum lama ini.
"Karena penurunan harga yang agresif bisa memicu perang harga selanjutnya, ini akan semakin menekan margin keuntungan yang bisa mengarah pada pemangkasan/efisensi biaya operasional perusahaan, dan bahkan bisa mendisrupsi struktur pasar otomotif yang telah mapan," tambahnya.
Pemangkasan biaya operasional, kata Yannes, bisa menghambat inovasi pabrikan dalam mengembangkan teknologi kendaraan. Bahkan, jika ini terus-terusan berlanjut, ujung-ujungnya industri otomotif nasional yang terkena dampaknya.
"Ketika harga terus ditekan, produsen lain, termasuk yang sudah mapan, terpaksa ikut menurunkan harga untuk bertahan, yang pada akhirnya bisa menghambat inovasi dan investasi dalam teknologi baru," tuturnya.
Tags
beritaTerkait
komentar