Rabu, 30 September 2026
Catatan Perjalanan 8 Hari Keliling Sumatera

Mengangkat Batang (yang Menolak) Terendam

Toga Nainggolan - Rabu, 30 September 2026 19:54 WIB
Mengangkat Batang (yang Menolak) Terendam

Tidak butuh waktu lama untuk menyadari kami bertiga ternyata punya persamaan: kapasitas tangki terbatas dan "klep" yang melemah. Hampir di tiap minimarket kami berhenti. Belanja ini-itu, sekadar sopan santun untuk menumpang ke kamar mandi. Fadil berjuang menyembunyikan rasa kesalnya melihat truk dan bus yang disalip dengan susah payah kembali berada di depan.

Rantauprapat jadi perhentian pertama. Bukan cuma mengopi, tapi menginap. Rencananya memang begitu. Menginap tiap malam. Sore itu kami bertemu dengan Habibi, seorang jurnalis yang trengginas, dan Bang Marwansyah, yang setelah purnabakti berkenan menjadi Kepala Perwakilan Posmetro Medan di Labuhan Batu Raya. Pagi harinya kami ngopi lagi, kali ini ada juga Kholik Saragih dan Berman Sinaga.

Baca Juga:

Matahari beranjak, kami pun bertolak menuju Pekanbaru. Sebuah kenyataan pahit langsung menyambut. Biosolar menjadi makhluk langka di sepanjang jalan. Kalaupun ada SPBU yang menyediakan, antreannya bisa dipastikan mengular bahkan menganakonda.

Ngilu juga ketika harus membayar Dexlite seharga Rp24 ribu sekian per liter. Diisi setengah juta, asli jarumnya macam malas kali bergerak.

Baca Juga:

Coklah, kalian yang di Pertamina atau siapalah yang berwenang, pikirkanlah membuat pilihan produk solar di antara dua opsi dengan selisih harga sangat jauh itu. Terserahlah apa namanya. Bisa Bio Solar Promax, HaloDex, atau apalah gitu. Jangan seolah memaksa kami memilih antara harga hidup dan harga mati.

Sampai Pekanbaru, kami menginap di Hotel Khas. Bersih, petugasnya sangat memudahkan.

Pagi itu, Rabu, 23 November 2026, kami mencari tempat sarapan sekalian jalan pagi. Si Anak muda kami biarkan punya waktu ekstra untuk istirahat. Target: lontong sayur agar mirip-mirip dengan sarapan di Medan.

Ternyata hampir semua tempat sarapan menu utamanya lontong pecal. Tak putus asa, kami terus berjalan mencari, hingga setelah sekitar 1,5 km, akhirnya bertemu penjual lontong sayur. Lega sekali rasanya. Dengan tekad bulat, kami bertiga pun memesan lontong … kacang. Entah di mana silapnya.

Beranjak siang, kami bertolak menuju kota Jambi. Sebuah telepon dari Fitri, wartawan tangguh di Bangko, Merangin, langsung membuyarkan rencana ini. Haluan langsung berubah arah. Mengubah arah itu sungguh bukan keputusan yang salah. Sambutan dan jamuan Fitri sangat berkesan selama di sana. Esok harinya, Kamis 24 November 2026, kami diajak bertemu dengan Kapolres Merangin, AKBP Kiki Firmansyah Efendi. Perbincangan yang hangat.

Setelahnya, perjalanan panjang berlanjut ke Palembang via Lubuklinggau. Tidak hanya minimarket, semak belukar pun kadang menjadi tempat singgah. Mobil sampai terperosok ke parit karena sesak tak tertahankan.

Editor
: Administrator
Tags
beritaTerkait
Mengenal Lebih Dekat Sosok AKBP Hendri Nupia Dinka Barus, Kapolres Simalungun yang Kembali ke Tanah 'Habonaron Do Bona'
Kepala Bapenda Kota Medan, M. Agha Novrian Apresiasi Keberhasilan Tim Penagihan Tunggakan Pajak Juli 2026 Dengan Nilai Rp 1,4 Miliar
Dua Cewek Ngadu ke DPRD Binjai Ngaku Diusir dan Ditindas Preman Suruhan dan Sat Pol PP
Ibu Asuh Polwan Polda Sumut Tekankan Integritas dan Soliditas Personel
Rico Waas Ingatkan MMB: Legalitas Wajib, Peran Jelas dan Jadi Pemersatu
Ketua Lembaga Fokus Rehabilitasi Narkotika Indonesia Apresiasi Suksesnya Pengamanan Idul Fitri 1447 H di Kota Medan
komentar
beritaTerbaru