Rabu, 30 September 2026
Catatan Perjalanan 8 Hari Keliling Sumatera

Mengangkat Batang (yang Menolak) Terendam

Toga Nainggolan - Rabu, 30 September 2026 19:54 WIB
Mengangkat Batang (yang Menolak) Terendam

Tiba di Palembang, asap tebal mengucapkan selamat datang. Dua hari di sana, kami sempat bertemu dengan Suherman, Hendra, dan the one and only: Kak Nisa Pardede.

Sabtu pagi, kami beranjak menuju Jambi. Jadi juga ke "Kota Beradat" ini. Di sana kami bertemu dengan Gusti Nasution. Istirahat satu malam, Minggu pagi lanjut ke Pekanbaru, disambut Lae Situmorang, yang akrab disapa Kombes.

Baca Juga:

Karena besok paginya, Senin, 28 September dia mengajak kami minum kopi kacang di Kedai Kaya Raya, sontak kisah perjalanan mencari lontong sayur itu terungkap lagi, memancing gelak tawa. Terlalu absurd memang, kalau dipikir-pikir.

Siangnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Rencananya, dari Pekanbaru langsung ke Medan. Akan tetapi, sambutan dan jamuan Lae Samuel Tampubolon di Rantauprapat membuat kami memutuskan menginap lagi di sana, sebelum benar-benar bertolak menuju Medan, pada Selasa, 29 September 2026.

Baca Juga:

*****

Begitulah. Selasa sore, 29 September setelah delapan hari dan ribuan kilometer, kami akhirnya tiba di Medan. Mobil boleh berhenti, koper boleh diturunkan, pakaian kotor boleh dicuci. Tetapi rasanya perjalanan ini belum benar-benar selesai. Percakapan dengan teman-teman jurnalis di kota-kota yang kami lewati seperti menolak lekang dari ingatan.

Ada kegelisahan yang hampir sama di banyak tempat. Dunia pers sedang menghadapi perubahan besar. Dulu, orang menantikan koran pagi, menunggu berita di televisi. Sekarang, sebuah peristiwa bisa diketahui masyarakat bahkan sebelum wartawan sempat membuka laptop. Media sosial telah mengubah semuanya.

Siapa saja bisa menjadi penyampai informasi. Sebuah video dari telepon genggam bisa menyebar lebih cepat daripada berita yang disusun newsroom dengan segala macam prosedurnya. Informasi bergerak begitu cepat, walau kebenaran kadang tercecer di belakang.

Media sosial memang terlalu cepat untuk dikejar. Tetapi kecepatan tidak serta merta berbingkai kebenaran. Di sanalah jurnalisme masih dan akan selalu memiliki ruang.

Hanya saja, insan pers harus siap dengan perubahan, dan ingat, dunia tidak akan mau menunggu sampai Anda siap. Teknologi terus bergerak. Cara orang membaca dan menonton berubah. Cara orang mempercayai informasi pun tak lagi sama.

Editor
: Administrator
Tags
beritaTerkait
Mengenal Lebih Dekat Sosok AKBP Hendri Nupia Dinka Barus, Kapolres Simalungun yang Kembali ke Tanah 'Habonaron Do Bona'
Kepala Bapenda Kota Medan, M. Agha Novrian Apresiasi Keberhasilan Tim Penagihan Tunggakan Pajak Juli 2026 Dengan Nilai Rp 1,4 Miliar
Dua Cewek Ngadu ke DPRD Binjai Ngaku Diusir dan Ditindas Preman Suruhan dan Sat Pol PP
Ibu Asuh Polwan Polda Sumut Tekankan Integritas dan Soliditas Personel
Rico Waas Ingatkan MMB: Legalitas Wajib, Peran Jelas dan Jadi Pemersatu
Ketua Lembaga Fokus Rehabilitasi Narkotika Indonesia Apresiasi Suksesnya Pengamanan Idul Fitri 1447 H di Kota Medan
komentar
beritaTerbaru