Kapolda Sonny Irawan dan Kesungguhan Memikul Amanah
POSMETRO MEDANDalam praktik kepemimpinan, penghargaan paling bermakna bukan berupa pujian di podium. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sahih
Editorial 2 jam lalu
Dalam praktik kepemimpinan, penghargaan paling bermakna bukan berupa pujian di podium. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sahih: sebuah kunjungan yang diputuskan dengan saksama, cermin kepercayaan yang diperlihatkan dengan benderang.
Baca Juga:
Itulah yang terbaca dari langkah Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto, SIK, SH, MSi, kepada Polda Sumatera Utara, dan terhadap sosok yang kini memimpinnya, Irjen Pol Sonny Irawan, SIK, MH.
Sumut menjadi salah satu daerah pertama yang dikunjungi Kapolri Suyudi sejak ia dilantik. Sumut bahkan menjadi tempat pertama ia merilis kasus berskala besar: penyelundupan 1,16 ton ketamin hidroklorida di perairan Tanjung Balai Asahan.
Baca Juga:

Dalam tradisi kepemimpinan, urutan semacam ini bukan kebetulan administratif. Seorang pemegang komando tertinggi memilih tempat pertamanya berdasarkan keyakinan, dan keyakinan itu tumbuh dari rekam jejak.
Rekam jejak itulah yang menjelaskan siapa sosok Sonny Irawan. Ia bukan wajah baru yang datang membawa peta kosong. Sebelum menakhodai Polda Sumut, ia lebih dulu mengabdi sebagai Wakapolda. Dari kursi itu ia mengamati, mencatat, dan memetakan.
Ia membaca denyut sebuah provinsi yang luas, majemuk, dan sarat dinamika, dari hiruk-pikuk Medan hingga lengang pesisir Selat Malaka. Lazimnya, wakil adalah orang yang paling akrab dengan seluk-beluk rumah yang kelak ia pimpin.
Sonny tampaknya memanfaatkan masa itu dengan baik. Ketika amanah pucuk pimpinan kemudian jatuh ke tangannya, ia tidak perlu belajar dari nol. Ia tinggal menggerakkan apa yang sudah dipahaminya.
Buktinya terlihat dari berbagai gebrakan yang langsung menemukan tempat di hati masyarakat. Sonny datang langsung ke rumah-rumah ibadah, misalnya.
Ia menunaikan salat Jumat di berbagai masjid, bersilaturahmi dengan para ulama, dan menyapa jemaat gereja lewat program Minggu Kasih. Langkahnya tidak berhenti di sana. Ia juga mengunjungi umat Buddha dan Hindu, menyambangi mereka di tempat ibadahnya sendiri.
Di provinsi yang sejak lama dikenal sebagai miniatur kebinekaan, kehadiran semacam ini bernilai jauh melampaui protokoler. Ia mengirim pesan bahwa kepolisian hadir untuk semua, dan bahwa rasa aman tidak dibedakan oleh keyakinan.
Keberagaman tidak diperlakukan sebagai potensi gesekan yang harus diawasi dari jauh, melainkan sebagai kekayaan yang dirawat dengan kedekatan.
Kedekatan itu pula yang tampak di jalan raya. Sonny tidak segan turun langsung mengatur lalu lintas. Seorang jenderal bintang dua yang berdiri di tengah arus kendaraan, merasakan terik dan debu yang sama dengan anggotanya, menyampaikan sesuatu yang tidak sanggup dikatakan oleh seribu surat edaran: bahwa pemimpin tidak berjarak dari pekerjaan paling sederhana, dan bahwa pelayanan publik dimulai dari hal-hal yang dirasakan warga setiap hari.
Publik jarang keliru menilai ketulusan. Ia tahu mana langkah yang lahir dari pemahaman dan mana yang sekadar mengejar sorotan. Gebrakan Sonny diterima hangat karena menyentuh yang memang dirasakan warga, ditempuh dengan cara yang dipahami warga. Itulah buah dari pemetaan yang matang: kebijakan yang menjejak, bukan melayang.
Kasus ketamin 1,16 ton menjadi cermin lain untuk melihat semua itu. Pengungkapannya berawal dari pemantauan intelijen terhadap gerak kapal yang mencurigakan di Selat Malaka dan Laut Andaman.
Terputusnya sinyal AIS menjadi petunjuk yang tidak dilepaskan begitu saja, hingga berujung penyergapan. Kapal tanker MT Global 168 dibawa ke Belawan pada 21 Oktober 2026 untuk proses hukum lebih lanjut.
Di balik keberhasilan itu ada sinergi Polda Sumut dengan Bareskrim Polri, BNN, Bea dan Cukai, serta unsur kepolisian perairan. Orkestrasi sebesar ini hanya bisa berjalan di bawah pemimpin yang memahami medan dan mampu merangkul banyak pihak.
Kemampuan merangkul itu tidak lahir mendadak. Ia ditempa lewat kebiasaan hadir di tengah umat, ulama, dan warga.
Apresiasi Kapolri pun terasa bernada lebih dari sekadar seremoni. Ia menyebut dengan lugas bahwa Sumut menempati urutan teratas dalam data peredaran narkoba. Namun alih-alih menjadikannya alasan untuk murung, ia membaliknya menjadi pelecut.
Sumut memang nomor satu dalam peredaran, tetapi pengungkapannya juga yang terbanyak. Pesannya jelas: jangan kecil hati. Angka yang tinggi bukan aib yang disembunyikan, melainkan bukti bahwa aparat bekerja dan tidak menutup mata.
Kalimat Kapolri lainnya layak diingat lama. Barang bukti yang disita, katanya, bukan sekadar angka pencapaian, melainkan potensi penyelamatan jutaan jiwa generasi muda bangsa. Di situ tampak cara pandang yang menempatkan penegakan hukum sebagai ikhtiar kemanusiaan.
Setiap kilogram yang tertahan di dermaga adalah satu ancaman yang batal sampai ke ruang-ruang keluarga. Pandangan ini sejalan dengan penegasan beliau bahwa perang melawan narkotika tidak boleh berhenti pada penindakan, tetapi harus dimulai dari hulu: pencegahan, edukasi, dan pengawasan yang berjalan seiring.
Dan hulu itu, pada akhirnya, adalah masyarakat sendiri, tempat Sonny rajin menanam kepercayaan.
Maka ketika Kapolri menyampaikan terima kasih kepada Gubernur, Kapolda, dan Kapolrestabes Medan, kita tengah menyaksikan sebuah pengakuan yang berdasar. Pilihan atas Sumut sebagai tempat pertama merilis kasus besar, dan atas Sonny Irawan sebagai pemegang kendali di sana, adalah isyarat bahwa kepercayaan ini tidak diberikan dengan cuma-cuma. Ia dimenangkan lewat kerja, kecermatan membaca situasi, dan keberanian bertindak.
Tentu perjalanan masih panjang. Peredaran narkotika adalah musuh yang lentur dan pandai mencari celah baru. Tetapi sebuah institusi yang dipimpin oleh orang yang mengenal wilayahnya dengan baik, dekat dengan umat lintas iman, dan didukung pimpinan tertinggi yang percaya pada kerja nyata, memiliki bekal yang cukup untuk menghadapinya. Bagi masyarakat Sumatera Utara, hal itu pantas disyukuri sekaligus dikawal bersama. (Toga Nainggolan, Pemred Posmetro Medan)
POSMETRO MEDANDalam praktik kepemimpinan, penghargaan paling bermakna bukan berupa pujian di podium. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sahih
Editorial 2 jam lalu
POSMETRO MEDANMedan, Komitmen menghadirkan lingkungan yang tertata, nyaman, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat terus diwujudkan Pemer
Medan 2 jam lalu
POSMETRO MEDANMedan, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap praktik pungutan liar
Medan 6 jam lalu
POSMETRO MEDANMendukung program 100 hari Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Polisi Sektor Medan Helvetia semakin giat lakukan patrol
Medan 6 jam lalu
Posmetro Medan , Binjai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Pemko Binjai merehabilitasi Jalan Jamin Ginting di Kelurahan Ramb
Sumut 8 jam lalu
POSMETRO MEDANMedan, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas turun langsung menemui masyarakat dalam kegiatan Gotong Royong Massal dan S
Medan 8 jam lalu
POSMETRO MEDANMEDAN Gelombang kecaman dari warga terhadap Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Golkar, Viktor Silaen, belum juga reda
Peristiwa 9 jam lalu
Polres Karo Ikut Deklarasi "Polisi Bersama Masyarakat Sumut Tolak Narkoba".
Sumut 21 jam lalu
Dukung Program Ketahanan Pangan, Polres Simalungun Pendampingi Penyerapan 10 Ton Jagung Petani ke Bulog Pematang Siantar.
Bisnis 22 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Masa depan bangsa terancam ketika nalar kritis dikalahkan oleh kepentingan material, politik transaksional, dan k
Inter-Nasional 23 jam lalu