Ada pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan tersebut, bahwa organisasi wartawan tidak hanya berbicara tentang program dan agenda ke depan, tetapi juga tentang bagaimana menghargai mereka yang telah lebih dahulu menapaki jalan panjang jurnalistik.
Kunjungan itu diwarnai dengan pemberian bingkisan sebagai bentuk penghormatan kepada sejumlah wartawan senior lainnya.
Baca Juga:
Selain mengunjungi masing-masing kediaman para wartawan senior, pemberian bingkisan atau tanda penghormatan tersebut berlangsung di Sekretariat PWPM di Kantor Wali Kota Medan, Jalan Kapten Maulana Lubis Nomor 2, Medan.
Mata Berkaca-kaca
Baca Juga:
Hj Mardiana Chaniago alias Bundo tak bisa menyembunyikan rasa harunya usai menerima kunjungan dari pengurus PWPM.
"Di usia 84, Bundo bersyukur kita bisa berkumpul. Bundo sangat-sangat tersanjung kedatangan anak-anak Bundo yang masih aktif sebagai jurnalis. Indonesia harga mati. Mungkin fisik terbatas, tapi pikiran belum lemah," ucap Bundo sembari menyeka air mata.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang telah melewati berbagai zaman dalam sejarah pers Indonesia.
Lahir pada 17 Juli 1942 dan berdomisili di kawasan Jalan SM Raja, Kampung Masjid, Medan saat itu, Bundo menjadi saksi hidup perubahan wajah jurnalistik dari masa ke masa.
Dia menjalani profesi ketika berita masih ditulis dengan tangan, kemudian mengetik menggunakan mesin tik, beralih ke komputer, hingga memasuki era laptop dan telepon pintar yang membuat berita dapat dikirim dalam hitungan detik. Teknologi berubah. Cara kerja berubah. Zaman berganti. Namun satu hal yang tidak berubah dalam diri Bundo: kecintaannya terhadap jurnalistik.
Tags
beritaTerkait
komentar