Kamis, 10 September 2026

Penghijauan Belawan Tak Bisa Asal Tanam, Pakar USU: Belawan Bukan Tapak Jalan Biasa

Faliruddin Lubis - Rabu, 09 September 2026 23:59 WIB
Penghijauan Belawan Tak Bisa Asal Tanam, Pakar USU: Belawan Bukan Tapak Jalan Biasa
IST/Raden Arman
Pelatihan Penghijauan dan Penanaman Pohon Berbasis Masyarakat yang digelar Baitulmaal Muamalat (BMM) sebagai mitra pelaksana PT Pelindo Regional 1 di Kantor Camat Medan Belawan, Rabu (9/8/2026).

POSMETRO MEDAN, Medan--Penghijauan di kawasan pesisir Medan Belawan tidak bisa dilakukan sekadar dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya.

Kondisi lingkungan yang dipengaruhi rob, salinitas, genangan, angin, tanah padat hingga keterbatasan ruang akar membuat pemilihan jenis pohon dan lokasi penanaman menjadi faktor penting agar program penghijauan benar-benar berkelanjutan.

Hal itu terdengar dalam Pelatihan Penghijauan dan Penanaman Pohon Berbasis Masyarakat yang digelar Baitulmaal Muamalat (BMM) sebagai mitra pelaksana PT Pelindo Regional 1 di Kantor Camat Medan Belawan, Rabu (9/8/2026).

Baca Juga:

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, Ph.D., yang menjadi narasumber dalam kegiatan itu, menekankan bahwa keberhasilan penghijauan tidak semata-mata diukur dari jumlah bibit yang ditanam.

Baca Juga:

"Ukuran keberhasilan bukan berapa batang yang ditanam hari ini, melainkan berapa pohon yang tiga tahun lagi masih hidup, sehat, stabil, tidak mengganggu infrastruktur, dan benar-benar berfungsi," ujar Onrizal.

Menurutnya, penanaman pohon di kawasan pesisir harus menerapkan prinsip right tree, right place, right care. Artinya, karakteristik tapak harus dikenali terlebih dahulu, kemudian ditentukan fungsi yang dibutuhkan sebelum memilih jenis pohon yang sesuai.

Sejumlah faktor yang harus diperiksa antara lain kondisi drainase, paparan rob dan garam, ruang tumbuh akar, jaringan utilitas, kondisi tanah, hingga jarak pandang pengguna jalan.

"Belawan bukan tapak jalan biasa," kata Onrizal.

Ia menjelaskan, panas dari aspal dan beton, tanah yang padat, ruang perakaran terbatas, terpaan angin, genangan dan banjir pesisir dapat memberikan tekanan terhadap tanaman secara bersamaan.

Bahkan, pohon yang memiliki toleransi terhadap kondisi kering maupun percikan garam belum tentu mampu bertahan apabila sistem perakarannya berulang kali terendam air asin.

Dalam pelatihan itu, peserta mendapat pembekalan mengenai tiga jenis pohon yang direncanakan untuk ditanam, yakni tabebuya kuning (Handroanthus chrysotrichus), angsana (Pterocarpus indicus) dan gelodokan (Monoon longifolium).

Onrizal menjelaskan, ketiga jenis itu memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan sama untuk seluruh lokasi.

Tabebuya kuning, misalnya, dapat menjadi pilihan tanaman ornamental dengan kanopi sedang pada lokasi terbuka dan memiliki drainase baik.

Sementara angsana memiliki kemampuan memberikan naungan lebih luas. Namun, jenis itu membutuhkan ruang tumbuh akar dan tajuk yang lebih besar sehingga lebih sesuai ditanam pada jalur hijau yang memiliki ruang cukup.

Adapun gelodokan, khususnya kultivar Pendula, memiliki pertumbuhan yang relatif ramping sehingga lebih hemat ruang. Namun, kemampuan memberikan naungan ke arah samping tidak sebesar angsana.

Karena itu, pemilihan jenis pohon harus disesuaikan dengan kondisi lokasi dan fungsi yang diharapkan.

Onrizal bahkan mengingatkan, pada median jalan dengan lebar kurang dari dua meter, ketiga jenis pohon tersebut tidak direkomendasikan. Vegetasi rendah dinilai lebih aman selama tidak mengganggu jarak pandang pengguna jalan.

Kehati-hatian juga diperlukan pada lokasi yang berulang kali terdampak rob atau memiliki kadar garam tinggi.

"Penanaman massal di area semacam ini sebaiknya menunggu hasil uji terbatas, pengukuran tanah dan air, serta pemantauan yang memadai," ujarnya.

Lebih jauh, Onrizal mengingatkan bahwa penghijauan harus dipandang sebagai investasi lingkungan jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial menanam bibit.

Lubang tanam yang besar, belum tentu menjamin pohon dapat tumbuh dengan baik. Faktor yang lebih menentukan adalah volume tanah yang dapat ditembus akar, sistem drainase, kualitas bibit, posisi leher akar, penggunaan mulsa, penyiraman, pembentukan tajuk serta perlindungan tanaman setelah penanaman.

Pemantauan juga idealnya dilakukan sejak pohon ditanam hingga berusia 36 bulan.

Menurutnya, persentase pohon yang bertahan hidup memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Kondisi tajuk, pertumbuhan, stabilitas tanaman, kerusakan, potensi konflik dengan perkerasan maupun utilitas, serta fungsi pohon terhadap lanskap juga perlu dicatat secara berkala.

Data hasil pemantauan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan pola perawatan, mengganti pohon yang gagal tumbuh maupun memperbaiki desain penanaman pada tahap berikutnya.

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat, pemerintah setempat dan PT Pelindo Regional 1 diharapkan memiliki pemahaman teknis yang sama dalam menjalankan program penghijauan di kawasan Medan Belawan.

Sebab, pohon yang ditanam di koridor jalan bukan sekadar elemen estetika. Jika dipilih, ditempatkan dan dirawat dengan tepat, keberadaan pohon dapat memberikan keteduhan, meningkatkan kenyamanan lingkungan sekaligus menjadi bagian dari infrastruktur hijau untuk memperkuat ketahanan kawasan pesisir.

Pelatihan Penghijauan dan Penanaman Pohon Berbasis Masyarakat tersebut merupakan tindak lanjut peringatan Hari Lingkungan Hidup sekaligus bagian dari upaya meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat di sekitar Medan Belawan. (Den)

Tags
beritaTerkait
Pemkab Deli Serdang Dorong Lulusan UNUSU Berkontribusi untuk Masyarakat
Diduga Buat Tawuran, Tim Macan Amankan 13 Sajam dan 1 Martil
INALUM Tegaskan Komitmen Green Aluminium, Mendorong Hilirisasi Berkelanjutan dan Kedaulatan Industri
Kena Lapor, Pengedar Sabu di Rusunawa Diciduk Saat Naik Kereta
Budidaya Lele Warga Jadi Perhatian Babinsa Serbelawan Tekankan Pentingnya Kebersihan Kolam
Bupati Bujuk Kartini Berobat, Harapan Siti untuk Kesembuhan Ibunya Kembali Tumbuh
komentar
beritaTerbaru