Sempat Ngeluh Sakit Kepala, Penjaga Rumah Eks Jampidsus Tewas dengan Mulut Berbusa
Penjaga Rumah Eks Jampidsus Meninggal dengan Mulut Berbusa Sehari Sebelum Febrie Adriansyah Ditahan.
Peristiwa satu jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan -
Peristiwa pembunuhan ibu kandung oleh anak keduanyaL yang masih berusia 12 tahun di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Rabu (10/12/2025) lalu, masih menyisakan banyak tanda tanya.
Bukan sedikit warga yang tidak percaya bahwa sang anak tega dan mampu melakukan pembunuhan terhadap ibunya dengan sekitar 20 tusukan.
Warga sekitar yang mengenal keluarga tersebut mengaku hubungan keduanya tampak akrab. Namun, mereka membenarkan bahwa sang anak memiliki sifat introvert dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar rumahnya.
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius, apakah anak seusia itu mampu melakukan tindakan ekstrem, dan apakah sifat introvert meningkatkan risiko perilaku agresif? Meski motif sebenarnya masih didalami pihak kepolisian, sempat beredar informasi sebelum peristiwa itu terjadi, sempat ada teguran sang ibu terhadap anak pertamanya. Situasi tersebut diduga turut memicu ketegangan emosional di dalam rumah.
Menanggapi hal ini, pengamat sosial Sumatera Utara, Dr. Agus Suriadi, M.Si, mengatakan bahwa perilaku ekstrem pada anak tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor psikologis dan lingkungan sosial. Anak yang introvert dan minim interaksi sosial berisiko memendam emosi yang tidak tersalurkan, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa berkembang menjadi tindakan agresif atau menyimpang.
Agus yang juga Ketua Prodi Kesejahteraan FISIP USU itu menilai lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak, terutama anak dengan kecenderungan introvert.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung keterbukaan, komunikasi, dan interaksi sosial umumnya lebih mampu menyalurkan emosi serta beradaptasi dengan situasi di sekitarnya. Sebaliknya, lingkungan yang minim dukungan atau terlalu menekan dapat memperkuat sifat tertutup, membuat anak merasa tidak aman untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya.
Sifat introvert yang tidak diimbangi dengan ruang ekspresi yang sehat berpotensi menyebabkan penumpukan emosi. Anak-anak yang jarang berinteraksi dan tidak memiliki saluran komunikasi yang memadai cenderung memendam perasaan seperti marah, sedih, atau frustrasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi kecemasan, depresi, bahkan ledakan emosi yang tidak terkontrol.
Dalam konteks keluarga, keberadaan ruang komunikasi yang aman menjadi faktor kunci. Keluarga yang mampu menciptakan suasana terbuka akan membantu anak pendiam merasa didengar dan dipahami.
Penjaga Rumah Eks Jampidsus Meninggal dengan Mulut Berbusa Sehari Sebelum Febrie Adriansyah Ditahan.
Peristiwa satu jam lalu
30 Tahun Tanpa Gelar, Nadeo Argawinata Bertekad Bawa Timnas Indonesia Juara Piala AFF 2026.
Sport satu jam lalu
Sambut HUT ke 25, Demokrat Binjai Gelar Dialog Interaktif
Sumut 3 jam lalu
Bobol Bengkel Las, Residivis Rayap Besi Diamankan Polsek Medan Kota, Rekannya Buron.
Kriminal 3 jam lalu
Mengenal dari dekat sosok Roma Hotpasu Simanungkalit yang lolos di 2 PTN bergengsi.
Profil 3 jam lalu
Bupati Dairi bersama Forkopimda Lepas dan Sambut Dandim 0206/Dairi
Medan 8 jam lalu
Dumas Presisi Berbuah Hasil, Satresnarkoba Polres Labusel Ringkus Pengedar Sabu di Bis II Kampung Rakyat Dengan Barang Bukti 3,41 Gram
Sumut 8 jam lalu
Pemko Sibolga Pererat Silaturahmi dengan Pemko Padang Sidempuan melalui Pertandingan Persahabatan
Sumut 9 jam lalu
Putra Batak Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, S.H., M.H.yang kini diangkat menjabat Jampidum.
Profil 9 jam lalu
Sentuhan Humanis Babinsa Koramil 14/Raya mendampingi warga untuk mengolah hasil panen jagung.
Sumut 10 jam lalu