Kelompok itu juga meminta seluruh aktivitas sipil terkait perayaan HUT RI dihentikan dan mengancam melabeli warga yang terlibat sebagai mata-mata pemerintah.
Ebarowak mengklaim pasukannya telah bersiaga di Kota Wamena serta menyerukan penghentian aktivitas di jalur Trans-Wamena. Namun, klaim mengenai keberadaan pasukan tersebut masih perlu diverifikasi aparat keamanan.
Baca Juga:
Dalam pernyataan yang sama, Ebarowak menyinggung konflik sebelumnya dengan aparat. Ia mengklaim serangan pada 15 April 2023 dilakukan sebagai balasan atas tewasnya Mayor Wisilul Gwijangge pada 24 Maret 2023.
Dia mengklaim 15 personel militer Indonesia tewas dalam serangan itu. Klaim ini belum diverifikasi secara independen.
Baca Juga:
Ancaman terbaru muncul di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah pegunungan Papua menjelang HUT RI. Selain itu insiden kekerasan di sekitar Festival Lembah Baliem dan seruan penghentian aktivitas di jalur Trans-Wamena turut meningkatkan kekhawatiran masyarakat.
Dari peristiwa menegangkan tersebut, aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan di Wamena dan wilayah sekitarnya untuk mengantisipasi gangguan keamanan serta melindungi masyarakat sipil.***
Tags
beritaTerkait
komentar