Pos Polisi di Kisaran Terbakar, Seorang Pria Diamankan
Pos Polisi di Kisaran Terbakar, Seorang Pria Diamankan Polres Asahan.
Peristiwa 17 detik lalu
POSMETRO MEDAN, Jakarta — Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Guntur Romli menyoroti penggunaan algoritma desil dalam menentukan status kesejahteraan masyarakat yang menjadi dasar pemberian berbagai bantuan dan subsidi pemerintah.
Melalui video yang diunggah di akun Threads miliknya, Gunromli menilai sistem tersebut berpotensi keliru membaca kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, kesalahan klasifikasi justru dapat mengancam hak masyarakat kecil untuk mendapatkan bantuan pemerintah.
Kritik itu disampaikan karena, menurut Guntur, bukan hanya satu atau dua orang yang status desilnya dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya.
Baca Juga:
Guntur mencontohkan kasus Timbul, tukang becak di Malioboro, Yogyakarta, yang disebut mengalami perubahan status desil hingga dianggap masuk kelompok masyarakat yang lebih sejahtera.
Selain itu, ia menyoroti kasus di Bandung. Sekitar 130 mahasiswa Universitas Padjadjaran disebut terancam kehilangan KIP Kuliah setelah status desil ekonomi keluarga mereka mengalami kenaikan tanpa penjelasan yang memadai.
Baca Juga:
"Algoritma desil ini sungguh ancaman nyata terhadap nasib rakyat kecil. Bukan cuma Pak Timbul, tukang becak Malioboro Jogja yang naik pangkat jadi Kong Lomrat gara-gara perubahan desil. Di Bandung, 130 mahasiswa Universitas Pajajaran mendadak terancam kehilangan KIP Kuliah karena desil keluarga mereka melonjak tanpa penjelasan," ungkapnya, dikutip Kamis (3/9/2026).
Menurut Guntur, persoalan serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain. Ia mencontohkan pekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu yang disebut dapat tercatat dalam desil 10.
"Di berbagai daerah, pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu tercatat di desil 10. Kasta tertinggi kesejahteraan setara pengusaha besar. Bahkan ada dosen honorer berpenghasilan pas-pasan pun ikut terlempar ke desil atas," sambungnya.
Guntur menilai klasifikasi berdasarkan desil tidak selalu mampu menggambarkan kondisi finansial seseorang secara utuh.
"Hanya karena algoritma menilai profesi dosen otomatis identik dengan kemakmuran. Sistem yang tidak melihat gaji, tidak melihat utang, tidak melihat beban hidup nyata. Ia hanya membaca kategori di atas kertas," terangnya.
Pos Polisi di Kisaran Terbakar, Seorang Pria Diamankan Polres Asahan.
Peristiwa 17 detik lalu
POSMETRO MEDAN,MEDANTurnamen Badminton ke2 Tahun 2026 PB Mitra Sporty Medan dibuka oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota
Sport 17 menit lalu
Sinergi Pemkab Tapanuli Utara dan DPR RI, Dorong Akses KUR dan Hilirisasi Pertanian Demi Kesejahteraan Warga
Sumut 60 menit lalu
Politisi PDIP Guntur Romli Kritik Algoritma Desil Ancaman Nyata bagi Rakyat Kecil.
Politik satu jam lalu
POSMETRO MEDAN, Percut Sei Tuan Bunda PAUD Kabupaten Deli Serdang, Jelita Asri Ludin Tambunan, mengapresiasi Gebyar PAUD yang diselengga
Sumut satu jam lalu
POSMETRO MEDAN, STM Hilir Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Deli Serdang mendorong penguatan peran orangtua dalam membentuk karakter anak
Medan 2 jam lalu
Praktik perjudian online yang diduga beroperasi di wilayah hukumnya digulung Polres Asahan.
Peristiwa 2 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Lubuk Pakam Bupati Deli Serdang, dr H Asri Ludin Tambunan, meminta Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi
Sumut 2 jam lalu
Brimob Polda Sumut menyiram abu vulkanik di sepanjang Jalan Lau Kawar, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo.
Sumut 2 jam lalu
Polres Asahan kunjungan silaturahmi ke Kantor Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) setempat.
Sumut 3 jam lalu