Tapi kisah Whisnu bertahan di kursi Kapolda Sumut saat gelombang mutasi tampak bukan tanpa test case.
Itu karena empat bulan lalu Sumut mendadak riuh. Media sosial menggambarkan itu. Ini buntut viral dendang satir yang meminta Tuhan menghabisi bandar sabu.
Baca Juga:
Anda ingat plesetan remake lagu 'Siti Fatimah'?
Reaksi sosial via nyanyian itu kontan menggugah feeling Whisnu. Peraih award The Best Leadership In Law And Crime Prevention ini bahkan menggelar operasi sapu jagat.
Baca Juga:
Gelombang razia 'petir siang bolong' arahannya menyikat jejaring bandar gede di 10 wilayah kabupaten-kota Sumut. Tensi publik di Sumut pun mereda.
Tapi sejurus itu, Panipahan malah 'meledak'. Ini daerah pesisir di Provinsi Riau. Di sini, gelombang nyanyian bernada koor itu membakar dua kubu warga hingga berbuntut kerusuhan massa.
Insiden Panipahan serasa menjawab feeling serse Whisnu empat bulan lalu.
"Separuh diri saya lama sudah seperti Batak," demikian Whisnu menganalogikan dirinya dalam kekayaan kultur Sumut. Pemahaman itu mendukung kepiawaiannya soal psikoanalisa.
Tapi dasar analogi itu sejatinya tentang istri tercinta, Ny. Mona, yang berdarah Batak. Whisnu bahkan dikenal sebagai sosok penyayang inang simatua yang bermukim di Sinaksak, nun ... wilayah pintasan ke Danau Toba dari Tapian Dolok Simalungun.
Itulah radiks kultur yang membuat spirit Sumut sudah lama menyala di hati, ucap, dan tindakan mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri ini.
Tags
beritaTerkait
komentar