Kamis, 19 Februari 2026

Dari Dolok Batu Nanggar, Bapemperda DPRD Sumut Menabuh Genderang Baru: Pemuda Harus Jadi Penggerak

Evi Tanjung - Senin, 08 Desember 2025 21:17 WIB
Dari Dolok Batu Nanggar, Bapemperda DPRD Sumut Menabuh Genderang Baru: Pemuda Harus Jadi Penggerak
Ist
Darma Putra Rangkuti

POSMETRO MEDAN, Simalungun - Kelurahan Amansari, Dolok Batu Nanggar, Simalungun siang itu seperti memiliki denyutnya sendiri. Di bawah redupnya cuaca nan sejuk, warga berkumpul. Dari kursi-kursi plastik yang tersusun rapi, tampak wajah-wajah yang menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar sosialisasi biasa.

Di sanalah Darma Putra Rangkuti, Ketua Bapemperda DPRD Sumatera Utara (Sumut) Sekaligus Ketua Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong Sumut (MKGR) melangkah masuk. Tidak dengan langkah seorang pejabat, tapi dengan nada seorang pendengar yang tenang, sederhana, dan penuh kesadaran bahwa apa yang dibicarakan siang itu bukan soal aturan, melainkan masa depan.

Itulah momen ketika Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Sumut (Ranperda) tentang Kepemudaan dimulai.

Sebuah rancangan yang akan menentukan siapa sebenarnya yang memegang masa depan daerah ini pemerintah, atau pemudanya sendiri.

Pemuda bukan lagi penonton.

Kalimat itu diucapkan Darma dengan suara datar, tetapi mengalun seperti kebenaran yang selama ini terlambat kita akui.

Ranperda Kepemudaan hadir karena zaman menuntutnya.

Hari ini kreativitas bergerak lebih cepat daripada birokrasi.

Inovasi anak-anak muda melaju lebih cepat.

Semangat mereka jauh melompat, bahkan sebelum negara sempat menyediakan tangga.

Karena itu, Ranperda ini bukan sekadar pasal-pasal yang disusun rapi.

Ia adalah perisai bagi kreativitas, pijakan bagi inovasi, dan lorong legal bagi wirausaha,

Dan ruang sosial bagi pemuda untuk mengambil peran.

Pemuda tidak lagi berdiri di pinggir lapangan sejarah.

Merekalah pemain utama.

Amansari, siang itu Ketika Harapan Terasa di desa kecil itu, suara tepuk tangan warga mengalun pelan tetapi tulus.

Ada ibu-ibu yang mengangguk pelan, seolah memahami bahwa peraturan ini kelak akan menentukan masa depan anaknya.

Ada pemuda yang duduk paling depan dengan tubuh sedikit condong, seperti seseorang yang baru saja menemukan tempat ia akan mengayunkan langkah hidupnya.

Dan ada MKGR Simalungun yang malam itu datang bukan membawa pidato, tetapi membawa kesediaan untuk mendengar.

"Terima kasih atas sambutan masyarakat Amansari," kata Darma.

"Semoga Ranperda ini menjadi awal dari ekosistem kepemudaan yang kuat, inklusif, dan produktif,"tambahnya.

Tidak menggelegar. Tidak dramatis.

Tetapi cukup untuk membuat ruangan itu mengerti,

bahwa perubahan besar kadang dimulai dari kalimat yang sederhana dan tulus.

Di Balik Sosialisasi, Ada Pertaruhan Masa Depan

Hari ini, Sumatera Utara sedang dihantam oleh realitas baru,

pemuda tidak ingin hanya diberikan "janji", mereka ingin jalur bukan cuma wacana, tetapi akses.

Mereka haus ruang.

Mereka ingin titik berangkat.

Dan Ranperda Kepemudaan mencoba menyediakan itu semua.

"Saudara-saudara, negara ini tak akan maju bila pemudanya hanya jadi penonton.

Dan peraturan hanya berarti apabila ia menghidupkan manusia di dalamnya,"ungkap Darma.

Di Amansari siang itu, kita melihat bagaimana peraturan bukan lagi menjadi milik pejabat, tetapi milik pemuda yang namanya jarang masuk berita.

Kita menyaksikan bagaimana politik bisa kembali menjadi alat membangun, bukan menghitung suara.

Dan kita melihat seorang Darma Putra Rangkuti, yang memilih satu jalan, jalan mendengar, jalan merangkul, jalan membenahi dari akar.

Ranperda Kepemudaan mungkin hanya dokumen.

Tapi siang itu di Amansari, ia berubah menjadi harapan.

Harapan bahwa Sumut tak lagi hanya bertumpu pada elite, tetapi pada semangat anak muda yang memilih untuk maju.

Dan jika sejarah mencatat siang itu, ia akan menuliskan satu kalimat,

"Di Amansari, akhirnya bersentuhan kembali dengan masa depan."(erni)

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru