Kamis, 13 Agustus 2026

ASN Ramai Ramai Resign,ada Apa Ini ?

Evi Tanjung - Rabu, 12 Agustus 2026 16:01 WIB
ASN Ramai Ramai Resign,ada Apa Ini ?
ist

Data bahwa 58 persen ASN yang mengundurkan diri memiliki masa kerja di bawah lima tahun perlu menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan manajemen SDM. Pegawai yang relatif masih berada pada tahap awal karier justru mendominasi kelompok yang mengundurkan diri. Padahal, mereka semestinya menjadi sumber energi baru bagi birokrasi. Narasi pengabdian tetap penting dalam birokrasi, tetapi tidak lagi cukup sebagai sumber utama motivasi kerja. Generasi pekerja saat ini semakin sadar akan pentingnya lebih sadar akan kompensasi yang layak, kesempatan pengembangan karier, lingkungan kerja yang sehat, serta sistem karier yang adil dan berbasis merit.

Talenta muda yang progresif perlu dijaga gairah dan idealismenya. Mereka akan sulit bertahan jika budaya feodal, patronase, atau praktik perkoncoan masih ditemukan dalam pengelolaan karier ASN.

Baca Juga:

Tak hanya itu, organisasi perlu pula berbenah dengan meningkatkan perhatian terhadap sejumlah isu di lingkungan kerja yang selama ini belum mendapat cukup ruang di sebagian instansi, seperti membangun ekosistem kerja yang mendukung kesehatan mental dan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, serta membuka ruang bagi pegawai untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi secara konstruktif dengan tetap menghormati hierarki organisasi. Semakin baik pengelolaan retensi talenta di kementerian/lembaga pemerintah, semakin besar peluang bagi para ASN untuk melihat masa depan kariernya di dalam organisasi, alih-alih melirik peluang di sektor lain. Pada saat yang sama, kemampuan mempertahankan talenta terbaik akan memperkuat daya saing organisasi publik dalam menarik sumber daya manusia berkualitas di pasar kerja.

Talenta yang bertahan dan terus berkembang akan memperkuat kapasitas organisasi serta mendorong perbaikan kinerja secara berkelanjutan. Pada akhirnya, persoalan pengunduran diri ASN bukan semata-mata soal berapa banyak pegawai yang pergi. Yang tak kalah penting, siapa yang pergi, mengapa mereka pergi, dan apakah organisasi telah melakukan cukup banyak hal untuk membuat mereka bertahan.

Baca Juga:

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.(***)

Tags
beritaTerkait
Bea Cukai dan Polri Temukan 30 Kg Sabu dalam Kemasan Teh Tiongkok di Perairan Asahan
Kapolda Sumut Pastikan Penyidikan Terus Diperdalam, Dugaan Bunuh Diri Winda Lorenza
Satpolairud Polres Sibolga Intensifkan Patroli dan Pemantauan Wilayah Pesisir
Pemkab Buka Festival Drumband Piala Bupati Taput
PWPM: Wartawan Senior tak Boleh Dilupakan...
Wali Kota Sibolga Buka Turnamen Sepak Bola Gebyar Kemerdekaan, Pererat Sinergi Forkopimda
komentar
beritaTerbaru