Selasa, 18 Agustus 2026
Catatan Redaksi Posmetro Medan

Di Antara Kabut Berastagi dan Masa Depan Jurnalisme

Toga Nainggolan - Selasa, 18 Agustus 2026 19:45 WIB
Di Antara Kabut Berastagi dan Masa Depan Jurnalisme

Berastagi menjadi tempat favorit untuk mengadakan pertemuan, bukanlah tanpa alasan. Mungkin karena udara yang lebih dingin membuat orang lebih mudah berpikir jernih. Barangkali juga kabut yang turun perlahan dengan caranya sendiri menghadirkan ruang untuk merenung.

Pada Sabtu dan Minggu, 15-16 Agustus 2026 lalu, keluarga besar Posmetro Medan berkumpul dalam Rapat Kerja Daerah di sana. Segala macam makhluk hadir. Unsur pimpinan, dewan redaksi, pimpinan perusahaan, redaktur, reporter, mulai dari para senior yang dulu membangun fondasi media ini, hingga anak-anak muda yang baru memulai perjalanan sebagai jurnalis.

Baca Juga:

Di sela-sela agenda yang formal, ada malam keakraban. Macam-macam permainan. Tentu saja bertabur tawa. Rahang yang sebagian sudah habis masa garansinya itu bahkan sampai kram. Kisah, pertanyaan, dan keresahan yang tadinya mengendap di sudut hati, ada juga keluar sikit-sikit. Barangkali, di situlah makna sebuah organisasi media yang (berusaha) kembali menemukan bentuknya. Sebab, media pada akhirnya bukan hanya tentang berita. Media adalah tentang manusia.

Baca Juga:

Tema besar yang diangkat dalam pertemuan itu adalah transformasi. Kata yang terdengar sederhana. Namun, sesungguhnya transformasi adalah salah satu kata yang paling menakutkan dalam kehidupan. Ia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang pernah membuat kita nyaman. Seperti meninggalkan mantan yang tak pernah benar-benar lekang dari ruang ingatan. Eh?

Posmetro Medan pernah berada pada "abad kejayaannya" sebagai surat kabar cetak. Belasan tahun lalu ia dikenal sebagai harian yang kuat dalam pemberitaan hukum dan kriminal. Pernah mencatatkan diri sebagai surat kabar dengan oplah terbesar di Kota Medan.

Bagi generasi yang tumbuh bersama koran, suara mesin cetak pada dini hari adalah musik yang menandai lahirnya sebuah edisi baru. Ada kebanggaan ketika melihat koran tersusun rapi di kios-kios. Ada kepuasan ketika mengetahui berita yang ditulis dibaca oleh puluhan, bahkan ratusan ribu orang.

Namun, zaman tidak pernah meminta izin sebelum berubah.

Internet datang. Media sosial berkembang. Telepon genggam berubah menjadi ruang redaksi baru. Cara masyarakat mengonsumsi informasi pun berubah secara drastis. Jika dulu orang menunggu berita esok pagi, kini mereka ingin mengetahui peristiwa yang terjadi lima menit yang lalu.

Editor
: Administrator
Tags
beritaTerkait
Wakil Bupati Karo di Yayasan Perguruan Bersama Berastagi: Kalian Tidak Sendirian...
Bupati Karo Tegaskan Pemerintah Hadir Pastikan Keselamatan dan Pemulihan Siswa SMAN 1 Berastagi
'Gonggongan' Bertuan Publik: Bedah Redaksi Debut POSMETRO MEDAN
Sambut HUT Perak, Posmetro Medan Bikin Rakerda
Usai Santap MBG Siswa SMA di Berastagi Diduga Keracunan, Dilarikan ke RS Efarina
Forkopimca Berastagi Bagikan dan Pasang Bendera Merah Putih di Sekitar Tugu Perjuangan
komentar
beritaTerbaru