Deli Serdang Raih Terbaik II PPD Nasional 2026
POSMETRO MEDAN, Jakarta Kabupaten Deli Serdang meraih Terbaik II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) tingkat nasional Tahun 2026 katego
Sumut 2 jam lalu
Lebih sepekan, 3 jurnalis yang sudah sama-sama di ambang sore, bersama seorang anak muda tangguh, melakukan perjalanan keliling sebagian Sumatera. Ribuan kilometer, ribuan cerita.
Misinya sebenarnya tidak begitu jelas. Namun, kalau kalian memaksa mau tahu: mengangkat batang terendam, berbagi semangat bersama teman-teman sesama pewarta di sepanjang jalan yang belum saatnya tinggal kenangan.
Baca Juga:
Minggu, 20 September 2026, saat sedang berleha-leha di teras rumah menyaksikan gerimis mempercepat datangnya kelam petang itu, teleponku berbunyi. "Besok ke Palembang kita, ya."
Zulkifli Tanjung, teman lamaku ini memang penuh spontanitas dan kejutan. Ya, tapi tidak ujug-ujug mengajak ke Palembang juga. Rasa terkejutku belum juga mengendap, dia sudah menimpali, "Jalan darat kita." Entah sadar atau tidak, tanpa bertanya apa tujuannya, berapa lama perjalanannya, apa saja rutenya, langsung pula kujawab, "Gas!"
Baca Juga:
Begitulah. Senin pagi kami sarapan di Jalan Sempurna, Medan. Di sela kunyahan nasi gurih, dia menelepon Edrin Ardiansyah. Spesies kami bertiga sama: wartawan sepatu atau separuh tua.
"Sudah mandi? Biar ke Palembang kita. Jalan darat. Berangkat sekarang." Lagi-lagi orang ini membuat ajakan perjalanan sejauh ribuan km itu seperti jalan-jalan sore keliling kompleks. Dari speaker ponsel terdengar jawaban yang sama singkat (dan gila)-nya: "Oke!"
*****
Jadinya kami berangkat berempat. Ada Fadil, anak lajang Bang Zul yang cekatan di belakang kemudi. Saat melaju di jalan tol, barulah mulai kami tanya dia; sebenarnya kita ini mau ke mana, menemui siapa, nanti malam berbuat apa.
"Tak ada. Jalan-jalan aja. Kalau nanti Kapolda Sumsel ada waktu, kita temui. Kalau ada teman-teman wartawan yang berkenan ketemu dan ngopi tipis-tipis, ngobrol-ngobrol kita. Healing kita, healing," katanya tergelak. Mereka berdua memang juragan dan punggawa media Tribrata TV. Wartawannya tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Pulau Sumatera.
Tidak butuh waktu lama untuk menyadari kami bertiga ternyata punya persamaan: kapasitas tangki terbatas dan "klep" yang melemah. Hampir di tiap minimarket kami berhenti. Belanja ini-itu, sekadar sopan santun untuk menumpang ke kamar mandi. Fadil berjuang menyembunyikan rasa kesalnya melihat truk dan bus yang disalip dengan susah payah kembali berada di depan.
Rantauprapat jadi perhentian pertama. Bukan cuma mengopi, tapi menginap. Rencananya memang begitu. Menginap tiap malam. Sore itu kami bertemu dengan Habibi, seorang jurnalis yang trengginas, dan Bang Marwansyah, yang setelah purnabakti berkenan menjadi Kepala Perwakilan Posmetro Medan di Labuhan Batu Raya. Pagi harinya kami ngopi lagi, kali ini ada juga Kholik Saragih dan Berman Sinaga.
Matahari beranjak, kami pun bertolak menuju Pekanbaru. Sebuah kenyataan pahit langsung menyambut. Biosolar menjadi makhluk langka di sepanjang jalan. Kalaupun ada SPBU yang menyediakan, antreannya bisa dipastikan mengular bahkan menganakonda.
Ngilu juga ketika harus membayar Dexlite seharga Rp24 ribu sekian per liter. Diisi setengah juta, asli jarumnya macam malas kali bergerak.
Coklah, kalian yang di Pertamina atau siapalah yang berwenang, pikirkanlah membuat pilihan produk solar di antara dua opsi dengan selisih harga sangat jauh itu. Terserahlah apa namanya. Bisa Bio Solar Promax, HaloDex, atau apalah gitu. Jangan seolah memaksa kami memilih antara harga hidup dan harga mati.
Sampai Pekanbaru, kami menginap di Hotel Khas. Bersih, petugasnya sangat memudahkan.
Pagi itu, Rabu, 23 November 2026, kami mencari tempat sarapan sekalian jalan pagi. Si Anak muda kami biarkan punya waktu ekstra untuk istirahat. Target: lontong sayur agar mirip-mirip dengan sarapan di Medan.
Ternyata hampir semua tempat sarapan menu utamanya lontong pecal. Tak putus asa, kami terus berjalan mencari, hingga setelah sekitar 1,5 km, akhirnya bertemu penjual lontong sayur. Lega sekali rasanya. Dengan tekad bulat, kami bertiga pun memesan lontong … kacang. Entah di mana silapnya.
Beranjak siang, kami bertolak menuju kota Jambi. Sebuah telepon dari Fitri, wartawan tangguh di Bangko, Merangin, langsung membuyarkan rencana ini. Haluan langsung berubah arah. Mengubah arah itu sungguh bukan keputusan yang salah. Sambutan dan jamuan Fitri sangat berkesan selama di sana. Esok harinya, Kamis 24 November 2026, kami diajak bertemu dengan Kapolres Merangin, AKBP Kiki Firmansyah Efendi. Perbincangan yang hangat.

Setelahnya, perjalanan panjang berlanjut ke Palembang via Lubuklinggau. Tidak hanya minimarket, semak belukar pun kadang menjadi tempat singgah. Mobil sampai terperosok ke parit karena sesak tak tertahankan.
Tiba di Palembang, asap tebal mengucapkan selamat datang. Dua hari di sana, kami sempat bertemu dengan Suherman, Hendra, dan the one and only: Kak Nisa Pardede.
Sabtu pagi, kami beranjak menuju Jambi. Jadi juga ke "Kota Beradat" ini. Di sana kami bertemu dengan Gusti Nasution. Istirahat satu malam, Minggu pagi lanjut ke Pekanbaru, disambut Lae Situmorang, yang akrab disapa Kombes.
Karena besok paginya, Senin, 28 September dia mengajak kami minum kopi kacang di Kedai Kaya Raya, sontak kisah perjalanan mencari lontong sayur itu terungkap lagi, memancing gelak tawa. Terlalu absurd memang, kalau dipikir-pikir.
Siangnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Rencananya, dari Pekanbaru langsung ke Medan. Akan tetapi, sambutan dan jamuan Lae Samuel Tampubolon di Rantauprapat membuat kami memutuskan menginap lagi di sana, sebelum benar-benar bertolak menuju Medan, pada Selasa, 29 September 2026.
*****

Begitulah. Selasa sore, 29 September setelah delapan hari dan ribuan kilometer, kami akhirnya tiba di Medan. Mobil boleh berhenti, koper boleh diturunkan, pakaian kotor boleh dicuci. Tetapi rasanya perjalanan ini belum benar-benar selesai. Percakapan dengan teman-teman jurnalis di kota-kota yang kami lewati seperti menolak lekang dari ingatan.
Ada kegelisahan yang hampir sama di banyak tempat. Dunia pers sedang menghadapi perubahan besar. Dulu, orang menantikan koran pagi, menunggu berita di televisi. Sekarang, sebuah peristiwa bisa diketahui masyarakat bahkan sebelum wartawan sempat membuka laptop. Media sosial telah mengubah semuanya.
Siapa saja bisa menjadi penyampai informasi. Sebuah video dari telepon genggam bisa menyebar lebih cepat daripada berita yang disusun newsroom dengan segala macam prosedurnya. Informasi bergerak begitu cepat, walau kebenaran kadang tercecer di belakang.
Media sosial memang terlalu cepat untuk dikejar. Tetapi kecepatan tidak serta merta berbingkai kebenaran. Di sanalah jurnalisme masih dan akan selalu memiliki ruang.
Hanya saja, insan pers harus siap dengan perubahan, dan ingat, dunia tidak akan mau menunggu sampai Anda siap. Teknologi terus bergerak. Cara orang membaca dan menonton berubah. Cara orang mempercayai informasi pun tak lagi sama.
Wartawan harus belajar lagi. Belajar teknologi. Belajar membaca data. Belajar memahami algoritma. Belajar membuat dan mengedit video. Belajar memanfaatkan media sosial. Belajar menggunakan kecerdasan buatan. Belajar bercerita dengan cara yang sesuai dengan kebiasaan generasi baru, tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
Dan memang itu pulalah tugas yang tak pernah selesai bagi seorang jurnalis: belajar. Kecuali Anda tidak termasuk golongan batang … yang menolak terendam. (Toga Nainggolan)
POSMETRO MEDAN, Jakarta Kabupaten Deli Serdang meraih Terbaik II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) tingkat nasional Tahun 2026 katego
Sumut 2 jam lalu
POSMETRO MEDANLebih sepekan, 3 jurnalis yang sudah samasama di ambang sore, bersama seorang anak muda tangguh, melakukan perjalanan kelilin
Editorial 2 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Asahan Gelombang aksi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Reformasi (GEMPPAR) Asahan mengguncang sejumlah kantor pemerin
Peristiwa 2 jam lalu
Transportasi danau menjadi bagian penting bagi masyarakat sekaligus wisatawan yang datang ke Samosir.
Sumut 4 jam lalu
Bupati Humbahas Menyerahkan SK Perpanjangan PPPK Paruh Waktu
Sumut 5 jam lalu
Sidang KSOP Belawan, Saksi sebut Penerimaan Jasa Pelabuhan Sudah Disetor ke Negara
Medan 5 jam lalu
Tanggapi Dumas Presisi, Polsek Torgamba Amankan ZAS, 1,7 Gram Barang Bukti Disita
Sumut 6 jam lalu
Awalnya Ditangkap Warga Kasus Penggelapan Motor, Pria di Perbaungan Malah Kedapatan Kantongi Sabu
Sumut 7 jam lalu
Mengenal Kombes Pol Alfonso Doly Gelbert Sinaga, Kabidpropam Polda Bali.
Profil 7 jam lalu
Polres Tapanuli Tengah Ringkus 2 Pengedar Sabu di Sorkam Barat, 12,50 Gram Barang Bukti Disita
Peristiwa 7 jam lalu