"Persaingan bukan hanya soal konten. Kita harus menyelaraskan kemajuan teknologi dengan jurnalisme berkualitas, tanpa pernah melepaskan diri dari kode etik jurnalistik," kata Munir menegaskan.
Ia menekankan bahwa taat kode etik adalah benteng terakhir agar pers tetap menjadi penjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi palsu (hoaks) dan jurnalisme instan yang kian merajalela.
Baca Juga:
Munir juga menyoroti pentingnya peran PWI daerah. Baginya, konsolidasi organisasi tidak bisa hanya berpusat di Jakarta, melainkan harus diperkuat hingga ke provinsi dan kabupaten/kota.
"Ujung tombak PWI ada di daerah. Jika daerah bergerak, ekosistem media nasional yang sehat dan berkualitas bisa terbangun," tandasnya.
Baca Juga:
Terpilihnya Akhmad Munir disambut gegap gempita. Banyak pihak menaruh harapan agar ia mampu membawa PWI keluar dari bayang-bayang konflik internal, sekaligus menjawab tantangan besar era digital.
Dengan visi rekonsiliasi, penguatan ekosistem media, dan komitmen menjaga marwah profesi, Munir kini berdiri di garis depan sebagai "panglima pers nasional".
Lima tahun ke depan akan menjadi panggung ujian: apakah Munir mampu membawa PWI bangkit kembali sebagai benteng pers Indonesia, atau justru terjebak dalam turbulensi politik internal yang tak kunjung usai.(red)
Tags
beritaTerkait
komentar