Selasa, 18 Agustus 2026

Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis

Oleh Abdul Hakim, Kepala ANTARA Biro NTB
Faliruddin Lubis - Minggu, 08 Februari 2026 13:49 WIB
Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis
IST
Buku "Langkah Sunyi Menuju Puncak" karya wartawan ANTARA Abdul Hakim.

Ia belajar bukan dari ruang kuliah yang tenang, melainkan dari sorotan lampu, riuh penonton, dan dinamika kelompok musik yang menuntut kekompakan sekaligus ketegasan sikap. Dunia itu mungkin tampak jauh dari redaksi, tetapi justru di sanalah fondasi mentalnya dibangun.

Jika dibaca lebih dalam, pengalaman bermusik adalah latihan menghadapi publik. Di atas panggung, seorang musisi belajar mengelola emosi, menerima kritik secara langsung, bahkan menghadapi penolakan.

Baca Juga:

Ia dituntut tetap berdiri tegak ketika sorakan tak selalu ramah. Ketika kelak memasuki ruang redaksi, pelajaran itu menjelma keberanian menyampaikan fakta, sekalipun tidak populer. Ada kesinambungan antara keberanian memetik gitar di hadapan massa dan keberanian menulis berita yang mungkin mengguncang kepentingan.

Transformasi dari musik ke jurnalisme menunjukkan bahwa integritas tidak selalu lahir dari jalur lurus. Ia kerap tumbuh dari pergulatan identitas, dari fase pencarian yang kadang bising dan penuh eksperimen.

Baca Juga:

Dalam konteks generasi muda yang akrab dengan budaya populer dan media sosial, kisah ini terasa relevan. Kreativitas dan idealisme tidak harus dipertentangkan. Energi kreatif dapat diarahkan menjadi kekuatan advokasi publik, selama ditopang nilai yang kokoh.

Dunia jurnalistik kemudian menjadi ruang pengabdian Munir. Ia melewati fase reporter lapangan, berpacu dengan tenggat, menyusuri lokasi peristiwa, dan berhadapan dengan tekanan yang tak jarang menguji ketahanan pribadi.

Di sanalah sekolah integritas berlangsung. Ia memahami bahwa berita bukan sekadar produk informasi yang dikejar demi kecepatan, melainkan tanggung jawab moral yang berdampak pada persepsi publik. Setiap kata memiliki konsekuensi, setiap judul memengaruhi cara masyarakat memahami realitas.

Dalam konteks Indonesia yang terus memperkuat demokrasi, gagasan ini menjadi krusial. Kepercayaan publik terhadap media adalah fondasi demokrasi yang sehat. Tanpa kepercayaan, pers kehilangan legitimasi moralnya.

Buku ini secara implisit mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya tekanan eksternal seperti intervensi kekuasaan atau arus disinformasi, tetapi juga godaan internal. Komersialisasi berlebihan, kecepatan tanpa verifikasi, serta fragmentasi organisasi menjadi ujian yang tak kalah berat.

Munir digambarkan memaknai kepemimpinan bukan sebagai simbol struktural atau sekadar jabatan, melainkan sebagai teladan integritas. Ia menempatkan nilai di atas popularitas dan konsistensi di atas sensasi.

Tags
beritaTerkait
DPN LKLH Meminta KPK Pantau Kinerja PT Agrinas Palma Nusantara dan Selesaikan Konflik Agraria serta Audit KSO
PWPM: Wartawan Senior tak Boleh Dilupakan...
Sambut HUT Ke-81 RI, Ketua GRIB Jaya Labuhanbatu Gelar Turnamen Catur Antarwartawan
Siswa MAN IC Tapsel Raih Beasiswa di Yangzhou Polytechnic College Cina
Aksi Damai Wartawan Sibolga-Tapteng Tak Direspons Pemko Sibolga, Gubernur dan Ombudsman Didesak Tindak Tegas Pelanggaran Hukum
Disdik Sumut Dukung Kejuaraan Catur SIWO PWI - STOK Bina Guna 2026
komentar
beritaTerbaru