Senin, 18 Mei 2026

Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis

Oleh Abdul Hakim, Kepala ANTARA Biro NTB
Faliruddin Lubis - Minggu, 08 Februari 2026 13:49 WIB
Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis
IST
Buku "Langkah Sunyi Menuju Puncak" karya wartawan ANTARA Abdul Hakim.

Perspektif ini terasa penting ketika organisasi profesi wartawan kerap diuji oleh perbedaan kepentingan dan dinamika internal. Dari dentuman Rock n' Roll hingga sunyi ruang redaksi, perjalanan itu memperlihatkan satu benang merah: keberanian bersuara harus selalu disertai tanggung jawab menjaga kebenaran.

Jalan sunyi

Baca Juga:

Istilah langkah sunyi menjadi benang merah biografi ini. Jalan sunyi adalah metafora tentang konsistensi tanpa gemerlap. Ia mengajarkan bahwa keteguhan lahir dari kesederhanaan dan kesabaran.

Munir memandang setiap amanah sebagai tanggung jawab menjaga nilai dan kepercayaan. Di tengah era serba instan, pesan ini terasa kontras namun menenangkan.

Baca Juga:

Saat memimpin kantor berita negara dan organisasi wartawan, Munir menghadapi realitas bahwa pers bukan hanya industri, tetapi institusi publik.

Dalam kerangka itu, pers dituntut mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan masyarakat. Biografi ini secara tidak langsung menegaskan pentingnya kepemimpinan yang memahami dimensi kebangsaan tersebut.

Indonesia dengan lebih dari 270 juta penduduk dan ribuan pulau membutuhkan media yang menjembatani pusat dan daerah. ANTARA, sebagai kantor berita negara, memainkan peran strategis dalam menyebarkan informasi pembangunan hingga ke wilayah terluar. Kepemimpinan yang menempatkan integritas di atas kepentingan sesaat menjadi syarat mutlak.

Buku ini juga membuka refleksi tentang regenerasi pers. Munir berharap kisahnya menjadi penyemangat bagi generasi muda dan insan pers di seluruh Indonesia.

Harapan itu tidak boleh berhenti pada romantisme biografi. Ia perlu diterjemahkan dalam kebijakan konkret. Pendidikan jurnalistik harus diperkuat, literasi media masyarakat ditingkatkan, dan organisasi profesi didorong membangun budaya kolaboratif.

Di tingkat kebijakan, negara perlu memastikan keberlanjutan media berbasis kepentingan publik. Dukungan terhadap media yang menjalankan fungsi edukatif dan pemberdayaan harus menjadi prioritas, tanpa mengurangi independensi redaksi. Sementara itu, insan pers perlu memperkuat disiplin etik dan verifikasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Tags
beritaTerkait
Rico Waas: Era Baru Tata Kelola Lingkungan Medan Dimulai
Perkuat Sinergitas, Polsek Medan Tuntungan Gelar Coffee Morning Bersama Wartawan
Pererat Kebersamaan, Kajari Karo Dukung Wartawan Tetap Kompak
Dugaan Intervensi Bupati Karo dalam Penyaluran Dana CSR, Kembali Disoal
Rico Waas Gelorakan Semangat Mahasiswa Berani Jadi Pemimpin
Tim Robotik MAN 1 Mandailing Natal Juara 3 Nasional Kompetisi Robot Soccer IKG Senior
komentar
beritaTerbaru