Dalam perspektif sosiologi kriminal, kasus di Padang Pariaman itu disebut Erianjoni, tergolong kejahatan yang disebut dengan defensif mutilasi.
Baca Juga:
"Saya melihat bahwa di dalam perspektif sosiologi kriminal ini tergolong sebuah kejahatan yang disebut dengan depensif mutilasi ya. Depensif mutilasi itu adalah mutilasi yang dilakukan oleh para pelaku bisa biasanya psikopat itu dalam rangka menghilangkan jejak . Dan bisa saja terjadi dari bentuk namanya opensif mutilasi kalau tujuannya adalah untuk tujuan-tujuan seks ya," jelas Erianjoni.
Baca Juga:
Sekretaris UNP itu juga menyebut, kasus Wanda adalah femisida. Kasus seperti ini disebut paling sering terjadi terhadap orang-orang terdekat.
"Ada yang menyebutnya dengan femisida ini, pembunuhan yang dilakukan oleh laki-laki pada perempuan ya dalam perspektif gender ini ya. Dan memang benar ya kalau kita lihat di dalam kasus-kasus mutilasi itu paling banyak memang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Nah orang-orang terdekat itu diantaranya adalah pacar, teman, bawahan ya dalam hubungan ekonomi atasan bawahan, dan bisa saja tetangga ini," katanya lagi.
SJ alias Wanda diamankan setelah potongan demi potongan tubuh yang ditemukan warga, teridentifikasi sebagai Septia Adinda.
Kepada polisi, tersangka membuat pengakuan mengejutkan. Ia ternyata juga telah membunuh dua gadis lainnya tahun 2024 silam. Jasad kedua korban dimasukkan sumur dalam rumah yang ditinggalinya bersama ibu dan adik kakaknya.(dts)
Tags
beritaTerkait
komentar