Kamis, 12 Februari 2026

Kasus Pembunuhan Anak 12 Tahun , Pendiam Bukan Berarti tak Bermasalah

Administrator - Minggu, 14 Desember 2025 11:50 WIB
Kasus Pembunuhan Anak 12 Tahun , Pendiam Bukan Berarti  tak Bermasalah
Ist
Pengamat sosial Sumatera Utara/Ketua Prodi Kesejahteraan FISIP USU, Dr. Agus Suriadi, M.Si,

Agus menekankan hal ini penting untuk mencegah anak memendam konflik batin sendirian. Anak yang tidak mendapatkan ruang bicara di rumah berisiko mencari pelampiasan dengan cara yang tidak sehat.

"Anak-anak dengan minim interaksi sosial juga lebih rentan mengalami isolasi emosional. Rasa terasing dan kurangnya dukungan sosial dapat mendorong mereka menyimpan konflik dalam diam. Ketika tekanan tersebut mencapai titik tertentu, bukan tidak mungkin muncul perilaku ekstrem sebagai bentuk pelampiasan emosi yang selama ini terpendam," ujar Agus.

Lingkungan sekitar, seperti sekolah, tetangga, dan teman sebaya, memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan perilaku anak. Guru dan teman sering kali menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan sikap, penurunan emosi, atau perilaku menyimpang. Namun, kepekaan ini harus diikuti dengan kepedulian orang dewasa untuk memberikan perhatian dan dukungan yang tepat.

"Sayangnya, dalam masyarakat masih terdapat kecenderungan mengabaikan anak-anak yang terlihat pendiam. Sifat introvert kerap dianggap wajar, sehingga potensi masalah psikososial di balik sikap diam tersebut luput dari perhatian. Kurangnya kesadaran akan kesehatan mental anak membuat banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini," kata Agus.

Selain itu, konflik antara orang tua dan anak pertama juga dapat berdampak pada anak lain dalam keluarga. Ketegangan di dalam rumah menciptakan suasana emosional yang tidak stabil. Anak-anak lain dapat merasa terjebak di tengah konflik, memicu kecemasan, dan ketidakamanan emosional.

Tekanan sosial, rasa tidak diperhatikan, serta perasaan "tidak terlihat" juga berperan besar dalam membentuk perilaku anak. Anak yang merasa diabaikan dapat mencari perhatian dengan cara negatif. Dalam beberapa kasus, tindakan ekstrem muncul sebagai bentuk ekspresi atas kekecewaan dan ketidakpuasan yang tidak tersampaikan.

Secara sosiologis, lanjut Agus, terdapat pola kasus di masyarakat yang menunjukkan bahwa anak-anak yang tertutup secara sosial lebih berisiko mengalami gangguan emosional atau perilaku menyimpang. Oleh karena itu, deteksi dini dan pendampingan menjadi sangat penting untuk mencegah masalah berkembang lebih jauh.

Untuk mencegah isolasi emosional pada anak introvert, Agus menyarankan agar keluarga dan lingkungan aktif membangun komunikasi terbuka, mendorong interaksi sosial yang sehat, mengawasi perubahan perilaku, serta memberikan dukungan emosional yang konsisten.

""Dengan langkah-langkah tersebut, anak diharapkan dapat merasa lebih terhubung, aman, dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan," tutup Agus. (Gas)

Editor
: Evi Tanjung
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru