Kamis, 12 Februari 2026

100 Hari Menggoyang 'The Real Teroris' Medan

Faliruddin Lubis - Sabtu, 17 Januari 2026 09:57 WIB
100 Hari Menggoyang 'The Real Teroris' Medan
Adam Wizard
Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak menggerebek dan menghancurkan kartel narkoba Jermal XV.

POSMETRO MEDAN, Medan- Negeri ini masih punya keberanian menyudahi petualangan kartel narkoba yang meracuni generasi muda bangsa. Gebrakan Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak di Medan mengantar bukti kiprah baru soal itu. Ini analisisnya.

Narkoba di Medan kian menggila. Daya edarnya terus menguat. Sudah menguasai 97 persen. Itu secara teritori.

Laporan jelang tutup 2025 Wali Kota Rico Waas menggambarkan itu. Kata dia, 145 wilayah kelurahan di Medan pekat dengan peredaran barang laknat. Praktis kini hanya 6 kelurahan "yang bersih".

Baca Juga:

Laporan itu mengingatkan jejak gaya edar opium masa kolonial. Sejarah serasa terulang. Narkoba dijual secara masif dan tanpa rasa takut.

Testimoni Fredy Budiman jelang eksekusi mati turut menggambarkan edannya narkoba di Medan.

Baca Juga:

Walhasil, rumah candu era Tanah Deli kini berganti barak sabu. Juga kelab malam sarang pesta ekstasi. De Tonga adalah bukti anyar tempat ajojing malam di Medan menjadi "apotik gelap".

Pun berstatus darurat narkoba, kota wajah vital Indonesia wilayah barat ini belum punya fasilitas BNNK (Badan Narkotika Nasional Kota).

Fakta pilu masa ke masa itu serasa menegaskan aura Medan dalam akronim, "Masuklah Engkau Dalam Api Neraka".

Sejarah Medan menyapu narkoba mencatat dua operasi menohok jantung Sumatera Utara ini.

Kisah Buwas alias Budi Waseso dan BNN sedekade lalu di Kampung Kubur adalah debut menggebrak narkoba Medan. Operasi gencarnya sukses menamatkan kisah "supermarket" narkoba di tengah kota itu.

Tapi mafia narkoba sehebat hydra, naga sakti sembilan kepala. Kepala baru makhluk mitologi Yunani itu tumbuh saban berhasil dipotong musuh.

Begitu pula reinkarnasi mega bisnis madat. Kepala baru selalu muncul pasca rantai besar peredaran narkoba putus ditebas nasib.

Film dokumenter 'Griselda' menjelaskan praktik itu. Griselda, lengkapnya Griselda Blanco. Inilah ratu kokain bengis asal Kolombia, ditakuti Pablo Escobar.

Kisah nyata Griselda sebagai kepala baru di balik peredaran besar narkoba di Miami tahun-tahun berlalu menggetarkan publik Florida, Amerika Serikat.

Begitu pula buntut Buwas memenggal kekuatan kartel narkoba Kampung Kubur. Penerus kejayaan dagang barang surgawi kampung tepi Sungai Babura itu pun segera lahir.

Kemunculan "kepala baru" ini bahkan lebih edan. Itu karena ukurannya lebih besar. Lebih dikelilingi banyak setan. Dan kehadirannya amat sulit diberangus.

Begitulah. Menantang supremasi hukum, "kepala baru" penerus Kampung Kubur itu adalah sindikat Jermal XV.

Geliat masif perdagangan narkoba di kawasan itu terendus sejak 2016. Sempat kendur pada 2020 karena pentolannya masuk bui.

Tapi hanya sesaat. Belakangan, formula gila manjur mendongkrak levelnya. Mengawinkan dagang narkoba dengan bisnis perjudian daring dan offline membuat praktik 'hitam' di hamparan lahan eks perkebunan itu meroket.

Sumber anonim di lingkaran sindikat Jermal XV menyebut puncak terjaya triad narkoba itu terjadi tiga tahun terakhir. Sepanjang masa itu, kata dia omzet koalisi bisnis haram geng Jermal XV nyaris menyentuh tiga ratus juta rupiah per hari.

Itu belum ditambah cuan hasil jual beli motor 'panas'. Yup, kawasan ini juga sempat menyediakan 'asbak' atau gudang motor hasil curian.

Bersama sejarah kejayaannya, sindikat ini pun mengantar borok sosial baru. Itu karena karakter narkoba yang menghilangkan rasa malu. Bahkan merangsang ulah brutal. Apalagi dalam peredarannya di kota "adu nyali" seperti Medan.

Demikian biang yang membuat 'lokalisasi' meriah Jermal XV kemudian menyumbangkan istilah 'pompa' dan 'rayap besi'.

Dua istilah mengartikan rutinitas mengisap sabu dan aksi maling para junkie itu ditemukan membumi di Medan dan sekitarnya.

Tapi buntut itu, kriminalitas meningkat. Dan aksi pencurian modus 'rayap besi' nangkring di posisi puncak.

Peningkatan paling edan terjadi pada 2023. Di situ kejahatan naik 26 persen. Lagi-lagi melulu aksi kawanan 'rayap besi'.

Masifnya kejahatan 'rayap besi' di Medan pantas membuat narkoba bergelar embahnya motif kriminalitas. Temuan sulit diberantas bahkan membuat narkoba dicap sebagai 'the real teroris.'

Fenomena geng berjuluk 'rayap besi' juga ternyata bikin Medan kian kesohor.

Wartawan POSMETRO MEDAN, Habib Syuhada, ditodong pertanyaan soal itu setiba dia di Manado, belum lama ini.

"Hai anak Medan, ayo ceritakan bagaimana itu 'pompa'. Juga 'rayap besi", ha ha ..." Habib mengulang penasaran publik ibu kota Sulawesi Utara.

"Mereka sebelumnya mendengar soal (dua istilah tulen Medan) itu dari medsos," jelas Habib.

Dia menyebut banyak warga Menado geleng-geleng soal ulah edan anak Medan -buntut kecanduan sabu.

Beruntung kepolisian di Medan mendapatkan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak. Inilah tokoh anyar dalam babak terbaru operasi besar melawan narkoba di Medan.

Pun dikenal punya seabreg prestasi memberantas narkoba di Jakarta dan Sumatera Utara, kisahnya didapuk menjadi Kapolrestabes Medan sejak 9 Oktober 2025 lalu tak membuat Kombes Calvijn sekonyong-konyong menusuk basis terbesar sabu kota itu.

Menelusuri ulah massal 'rayap besi' menjadi debut tugasnya di Medan. Why ?

Seiring mendalami anatomi sindikat Jermal XV, Calvijn mengaku ingin cepat mengakhiri derita masyarakat korban aksi 'rayap besi' yang berbiak karena budaya mudarat 'pompa".

Hasilnya nampak sejak pekan pertama dia menjaga keamanan Kota Medan. Kawanan 'rayap besi' digulung, lengkap bersama penadah.

Begitu seterusnya. Sampai sekarang, nyaris setiap pekan polisi di Medan menciduk kawanan 'rayap besi'.

Buntut aksi penangkapan berantai selama tiga bulan itu mengantar polisi menemukan data sejumlah bandar narkoba. Itulah muara aliran uang hasil aksi kawanan 'rayap besi'.

Uang kejahatan itu di antaranya banyak mengalir ke bandar di kawasan Jermal XV. Temuan itu kontan jadi penabuh genderang perang.

Penggerebak ke semua barak narkoba dan judi kawasan Jermal XV digelar Kombes Calvijn sejak Desember 2025. Puluhan orang diciduk.

Operasi Rabu (14/1/2026) malam lalu menjadi aksi ke-delapan dia memimpin misi penyelamatan generasi muda bangsa dari racun kartel narkoba.

Dan, Sabtu, 17 Januari 2026, tercatat sebagai hari ke-100 Kombes Calvijn menggoyang teroris sesungguhnya di Medan.

"Show must go on," tegasnya. Operasi ke Jermal XV akan terus digelar. Sampai kawasan itu bebas dari geliat musuh bangsa. Wow. (fm)

Tags
beritaTerkait
Pemasoknya Lari, 2 Pengedar Sabu Diringkus dari Dua Lokasi Berbeda di Bilah Hilir
Polres Tanah Karo Ungkap Ladang Ganja di Desa Cinta Rakyat, 33 Batang Tanaman Disita
Polsek Panai Tengah Akhirnya Grebek Sarang Narkoba di Teluk Sentosa
Timsus Ditresnarkoba Polda Sumut Gagalkan Peredaran 500 Gram Sabu
Viral Korban Pencurian Jadi Tersangka di Medan, Kapolrestabes Beri Penjelasan Lengkap
Polsek Sunggal Gerebek Sarang Narkoba di Lembah Berkah, Tiga Pria Diamankan
komentar
beritaTerbaru