2 Terduga Pelaku Pencurian di Binjai Ditangkap Polisi
2 Terduga Pelaku Pencurian di Binjai Ditangkap Polisi.
Sumut 36 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Medan - Hujan yang tak kunjung pamit sejak sepekan terakhir dari 21 hingga saat ini, 27 November 2025 menjadikan Sumatera Utara seperti sebuah panggung bencana yang diputar ulang tanpa jeda. Air meluap dari hulu, memutus jalan, menenggelamkan rumah, menghanyutkan jembatan, dan meninggalkan wajah pucat pada warga yang tiba-tiba kehilangan tanah berpijak.
Tapi hujan, sebagaimana kata banyak orang tua, hanyalah rahmat.
Yang tidak rahmat adalah ketika rahmat itu jatuh di atas tanah yang telah lama digerogoti keserakahan.
Baca Juga:
Dan di tengah kepanikan banjir yang menyeret kayu-kayu gelondongan lebih cepat dari kabar pemerintah daerah, perlahan muncul jejak,
Ada tangan manusia di balik air bah Sumut.
Baca Juga:
Di Medan, Tapanuli Tengah, Dairi, Karo, hingga Mandailing Natal, banjir besar tahun ini terjadi meski hujan hanya berlangsung 7 hari. Padahal tahun lalu hujan turun sebulan penuh namun dampaknya tak separah 2025. Ada yang aneh. Ada yang janggal. Ada yang bocor di tubuh hutan Sumatera Utara.
Di sela percakapan, Ketua Bapemperda DPRD Sumut Darma Putra Rangkuti mengabarkan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju salah satu titik terdampak.
"Lagi otw, kejebak macet…" ujarnya singkat. Kalimat itu bukan sekadar laporan lokasi, itu menegaskan bahwa situasi di lapangan bukan hanya banjir, tetapi juga arus kemacetan yang menahan gerak para pemangku kebijakan.
Jalanan yang sempit, tersumbat luapan air dan kendaraan yang sama-sama panik mencari arah, menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur ketika diuji air. Darma mengatakan ia tengah fokus turun langsung meninjau dampak banjir, mencoba memastikan bantuan dan penanganan berjalan meski medan melelahkan.
Ketua Bapemperda DPRD Sumut, Darma Putra Rangkuti, dari Fraksi Golkar, saat ditanya, tak menutupi fakta itu.
"Jelas ada keterlibatan manusia."
Diucapkan singkat, tetapi bunyinya seperti pintu tua yang diretas paksa di tengah malam.
Saat ditanya soal kayu gelondongan yang hanyut di arus banjir, Darma kembali menegaskan,
"Kalau hutan kita masih lestari, nggak akan separah ini situasinya,"jelasnya melalui pesan whatsapp-nya.
Pernyataan itu seperti menutup debat: hujan bukan penyebab utama, hutan yang dicabik-cabiklah pelaku sebenarnya.
Hutan Gundul, DAS Rusak, Air Jadi Murka
Dari Komisi B DPRD Sumut, suara lain mengiyakan dugaan itu.
Munir Ritonga, anggota Fraksi PKB, memberikan gambaran lebih terang
"Ada banyak laporan penebangan ilegal di sejumlah titik, Audit izin perkebunan belum dilakukan secara menyeluruh celah empuk bagi pelaku nakal, Tata kelola DAS (Daerah Aliran Sungai) buruk, tak sesuai kondisi riil lapangan, Kayu-kayu hanyut adalah bukti diam yang tak bisa dibantah.
Ketika ditanya apakah kayu hanyut itu tanda keterlibatan manusia dalam bencana, Munir menjawab lugas
"Bisa jadi dan sangat memungkinkan sekali,"ungkapnya kepada Posmetro Medan melalui pesan whatsapp.
Inilah pengakuan yang tak banyak pejabat mau ucapkan.
Pengakuan yang menunjukkan, banjir bukan turun dari langit, tapi bangkit dari akar masalah yang dibiarkan membusuk bertahun-tahun
Menurut Munir, Komisi B kini sedang berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumut dan pemerintah kabupaten/kota untuk mengevakuasi warga, membangun tenda-tenda penampungan, menyalurkan bahan makanan, memverifikasi laporan masyarakat mengenai kerusakan lingkungan.
Namun pertanyaan terbesar
Jika akar masalahnya tak disentuh, apa gunanya menambal luka setiap tahun?
Yang terjadi di Sumut bukan bencana alam.
Ini adalah bencana lingkungan, hasil dari hutan yang dipotong tanpa ampun, lereng yang digunduli investor, izin–izin perkebunan yang entah siapa yang menjaga, sungai yang diganggu jalannya, DAS yang tidak dipulihkan pengawasan yang lebih sering hadir di rapat, bukan di lapangan.
Banjir besar 2025 adalah bukti paling terang bahwa tanah sudah kehilangan daya tahan, dan air yang seharusnya menjadi rahmat akhirnya menjadi murka.
Wawancara singkat dengan dua anggota DPRD Sumut menunjukkan satu kesimpulan tegas
Banjir ini bukan musibah semata.
Ini peringatan.
Dan peringatan itu datang dari bumi yang sudah lama kita abaikan.
Jika pemerintah daerah tidak segera mengaudit izin, mengusut penebangan, menata ulang DAS, dan menindak pelaku perusakan hutan, maka banjir tahun depan hanya menunggu jadwal.
Karena ketika hutan habis,
air tidak lagi mencari jalan,
air mencari korban.(erni)
2 Terduga Pelaku Pencurian di Binjai Ditangkap Polisi.
Sumut 36 menit lalu
POSMETRO MEDAN,MEDANAkrobat penegakan hukum di wilayah Kejaksaan Negeri Langkat meyeruak hingga puncak. Eksekusi Alexander Halim alias Lim
Medan 56 menit lalu
2 terduga pembunuh Wakil Rektor IT&B Indonesia Kabanjahe Ditangkap.
Peristiwa 2 jam lalu
Membongkar Tipikal Oknum Intel yang Jadi Sempat Viral Karena Mengejek Massa Pendemo.
Peristiwa 3 jam lalu
Sembunyikan Sabu di Bawah Bunga, Lansia di Pegajahan Diringkus Polres Sergai
Sumut 3 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Jakarta Kain tenun Deli Serdang tampil dalam Parade Pakaian Daerah (Wastra) Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota pada Kriyanus
Inter-Nasional 14 jam lalu
POSMETRO MEDANMEDAN Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Tebing Tinggi menuntut terdakwa dugaan suap proyek jaringan internet Dinas K
Sumut 15 jam lalu
POSMETROMEDAN, Medan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi menin
Medan 15 jam lalu
POSMETROMEDAN, Medan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengajak mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)
Medan 16 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Lubuk Pakam Pemkab Deli Serdang berkonsultasi dengan Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri terk
Sumut 16 jam lalu