Rabu, 11 Februari 2026
10 Kru dan Penumpang Pegawai KKP Ada di Dalam Pesawat

Jatuh Menabrak Bukit, Begini Penampakan Puing-puing Pesawat ATR 42-500

Faliruddin Lubis - Minggu, 18 Januari 2026 15:19 WIB
Jatuh Menabrak Bukit, Begini Penampakan Puing-puing Pesawat ATR 42-500
Fajar
Puing-puing pesawat dilihat dari ketinggian saat ditemukan Tim SAR. (fajar)

POSMETRO MEDAN,Maros- Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Suryanto, menyampaikan pernyataan terbaru terkait insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan perbukitan Bulusaraung.

Ia menegaskan, berdasarkan temuan awal, pesawat dalam kondisi masih dapat dikendalikan oleh pilot sebelum akhirnya menabrak bukit.

"Jadi pesawat itu masih bisa dikendalikan oleh penerbangnya. Tapi karena sesuatu hal, pesawatnya menabrak bukit," ujar Suryanto di Media Centre Bandara Sultan Hasanuddin, Minggu (18/1/2026).

Baca Juga:

Dikatakan Suryanto, hingga saat ini KNKT belum menemukan indikasi adanya gangguan pada sistem pengendalian pesawat.

Ia memastikan, secara teknis pesawat tidak mengalami masalah kendali saat peristiwa terjadi.

Baca Juga:

"Tidak ada masalah dari proses pengendalian pesawatnya. Itu yang akan kita cari tahu anunya, yang jelas dipastikan ini menabrak bukit dengan kondisi yang ada," jelasnya.

Suryanto menambahkan, KNKT masih terus mengumpulkan data dan bukti di lapangan untuk mengetahui faktor pasti yang menyebabkan pesawat tersebut menabrak perbukitan.

Ia menekankan bahwa proses investigasi belum sampai pada kesimpulan akhir.

"Bahwa dengan berbagai kondisi, kita belum tahu, tapi yang jelas pesawat menabrak bukit," katanya.

Terkait kemungkinan faktor cuaca, Suryanto menilai cuaca bukan menjadi penyebab utama dalam insiden ini.

Menurutnya, teknologi penerbangan saat ini memungkinkan pesawat untuk mengantisipasi dan menghindari kondisi cuaca tertentu.

"Kalau cuaca itu kan given dari yang Maha Kuasa. Manusia diberi pengetahuan bagaimana mengendalikan cuaca, mau terbang ke situ atau menghindar. Teknologinya bisa mengatasi cuaca. Jadi kalau masalah cuaca, tidak," tegasnya.

Pesawat jenis ATR 42-500 tujuan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar hilang kontak di sekitar wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu seharusnya mendarat tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel.

Pesawat ATR 400 milik maskapai Indonesia Air Transport itu diperkirakan hilang kontak sekitar wilayah Kabupaten Maros, Sabtu siang ini sekitar pukul 13.17 WITA.

Basarnas Makassar menyebut Pesawat ATR 42-500 membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.

Jumlah itu diralat dari sebelumnya sebanyak 11 orang terdiri atas 8 kru dan 3 penumpang.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memastikan tiga penumpang yang ikut terbang dalam Pesawat udara jenis ATR 42-500 merupakan pegawai kementeriannya.

Menurut Trenggono tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan sedang melakukan misi pengawasan melalui udara (air Surveillance). Ketiganya bertugas di Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan atau PSDKP.

"Kehadiran kami saat ini adalah melakukan klarifikasi terkait adanya informasi yang beredar di masyarakat mengenai logo Kementerian Kelautan dan Perikanan. Perlu kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Sabtu malam (17/1/2026).

Mereka adalah, pertama, Ferry Irawan, pangkat penata muda tingkat satu, dengan jabatan analis kapal pengawas.

Kedua, Deden Mulyana, pangkat penata muda tingkat satu, jabatan pengelola barang milik negara.

Ketiga, Yoga Naufal, jabatan operator foto udara.

"Tim air surveillance dari PSDKP atau dari Direktorat Jenderal PSDKP sejumlah tiga orang, yaitu saudara Ferry Irawan, saudara Deden Mulyana dan saudara Yoga Naufal," ungkap Trenggono.

Trenggono menjelaskan, KKP memiliki tim air surveillance untuk melakukan pengawasan di seluruh wilayah Indonesia. Dalam hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan menggandeng PT IAT untuk kebutuhan operasional.

"Kita memang punya air surveillance, nah itu kita kerja sama dengan PT IAT. Jadi selalu kita gunakan untuk beroperasi di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, khususnya untuk pengawasan di daerah-daerah perbatasan. Jadi laut kita berbatasan dengan laut tetangga, sehingga kita akan melakukan itu," terangnya.

Trenggono menambahkan KKP terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau perkembangan pencarian pesawat yang hilang kontak. Ia menyerahkan sepenuhnya pencarian dan penyebab insiden kepada otoritas berwenang.

"KKP tentu telah dan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau perkembangan pencarian pesawat air surveillance tersebut. Terkait hal pencarian dan penyebab insiden, kami serahkan seluruhnya kepada Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan," tutupnya.(fajar/cnn/detik)

Tags
beritaTerkait
Baru Terbang 20 Menit Ada Kerusakan Mesin, Pesawat Putar Balik
Viral! Aksi Heroik Dokter Selamatkan Bayi Kejang di Dalam Pesawat
Identifikasi Rampung, Polisi Serahkan Data Lengkap Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500
1 dari 11 Body Pack Korban Pesawat ATR 42-500 Berisi Potongan Tulang
Pramugari ATR 42-500 yang Jatuh di Maros Ternyata Punya Rencana Menikah
Jasad Kedua Berjenis Kelamin Perempuan Ditemukan di Lokasi Terjal dan Curam
komentar
beritaTerbaru