Kamis, 19 Maret 2026

Mabes TNI Buka Suara: 4 Anggota BAIS Terlibat Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus

Faliruddin Lubis - Kamis, 19 Maret 2026 12:48 WIB
Mabes TNI Buka Suara: 4 Anggota BAIS Terlibat Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
Ist/DetikNews
Tersangka kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.

POSMETRO MEDAN,Jakarta - Mabes TNI buka suara terkait kasus penyiraman air keras kepada Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. TNI mengatakan empat prajuritnya terlibat dan telah diamankan.

Keterangan TNI itu disampaikan dalam jumpa pers yang digelar di Mabes TNI, Jakarta, pada Rabu (18/3/2026). Empat prajurit TNI terduga pelaku merupakan anggota BAIS yang berasal dari matra Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

Puspom TNI menahan empat anggota TNI yang diduga melakukan penyiraman air keras kepada aktivis KontraS, Andrie Yunus. Puspom TNI juga telah melakukan pemeriksaan terhadap pelaku.

Baca Juga:

"Melakukan kegiatan membuat laporan polisi, mungkin nanti dari saksi korban. Kemudian melakukan penahanan sementara kepada terduga empat orang tadi," kata Danpuspom TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto dalam jumpa pers di Mabes TNI.

Puspom TNI juga akan mengajukan permohonan visum ke RSCM. "Kita akan mengajukan permohonan visum et repertum ke RSCM," lanjutnya.

Baca Juga:

Para tersangka kini telah diamankan dan menjalani pemeriksaan. Mereka akan ditahan di Pomdam Jaya.

"Para tersangka sudah kita amankan sudah kita lakukan pemeriksaan di Puspom TNI. Untuk tempat penahanannya, kita akan lakukan penahanan dititipkan di Pomdam Jaya, di sana ada tahanan super security maximum," tuturnya.

Adapun keempat pelaku itu berinisial NDP, SL, BHW dan ES. Puspom TNI tengah melakukan pendalaman.

"Ini sekarang yang diduga 4 tersangka sudah kita amankan di Puspom TNI untuk dilakukan pendalaman ke tingkat penyidikan," kata Yusri.

Para terduga pelaku ini baru diserahkan ke Puspom TNI pada pagi hari ini. Danpuspom TNI Mayor Jenderal TNI Yusri Nuryanto menyebut keempat pelaku merupakan anggota Denma BAIS TNI dengan matra angkatan laut (AL) dan angkatan udara (AU).

"Kami sampaikan bahwa keempat yang diduga pelaku ini semuanya anggota dari Denma BAIS TNI, bukan dari satuan mana-mana tapi dari Denma BAIS TNI," kata Mayjen Yusri saat konferensi pers di Mabes TNI.

"Dari AL dan AU," imbuh dia menjawab pertanyaan.

Yusri juga menyampaikan 3 dari 4 tersangka berpangkat perwira. Yang tertinggi, lanjut dia, berpangkat kapten.

"Jadi Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, Serda ES. Waktu penyidikan kita akan bekerja semaksimal mungkin dengan harapan dapat kita lakukan secepatnya secara profesional," ujar dia.

Puspom TNI saat ini masih mendalami dugaan apakah ada sosok pemberi perintah kepada empat pelaku tersebut.

"Terkait perintah siapa nih? Jadi nanti kita masih sedang mendalami karena perlu istilahnya pengumpulan saksi, kemudian bukti-bukti yang ada," kata Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto dalam jumpa pers di Mabes TNI.

Yusri mengatakan Puspom TNI juga masih mendalami motif penyiraman air keras yang dilakukan pelaku. Dia memastikan pengusutan kasus ini akan dilakukan secara transparan.

"Kemudian masalah transparansi untuk masalah penyidikan, jadi Puspom TNI akan bekerja secara professional. Kita nanti akan sampaikan bagaimana tahap-tahap mulai proses penyidikan, pemberkasan kemudian penyerahan berkas ke Otmil sehingga nanti dalam proses persidangan," jelas Yusri.

"Percaya sama kita, kita akan berlaku, akan bertindak professional kemudian akan transparan," tambahnya.

Puspom TNI saat ini juga masih mendalami peran dari empat prajurit TNI yang terlibat penyiraman air keras kepada Andrie Yunus. Terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif.

"Jadi kita masih mendalami ya, mendalami karena baru tadi pagi diserahkan ke kita nih, sedang proses penyidikan. Jadi kita akan nanti akan sampaikan dari empat pelaku ini siapa berbuat apa, kemudian masing-masing perannya apa kan kita belum tahu," kata Danpuspom Mayjen TNI Yusri Nuryanto.

Berdasarkan rekaman CCTV yang ditemukan, eksekutor penyiram air keras berjumlah dua orang. Dia mengatakan akan mendalami peran dua prajurit lainnya.

"Betul, kalau dari hasil CCTV kan ada dua orang nih yang melakukan. Nah, yang dua lagi di mana dan sebagai apa nanti kan masih kita dalami ya," ucapnya.

Dia juga mengatakan penyidik akan mendalami apakah ada yang memerintahkan penyiraman tersebut. Saksi dan barang bukti saat ini, menurut dia, tengah dalam pengumpulan.

"Jadi yang terkait dalam perintah siapa, nanti kita masih sedang kita dalami ya. Jadi karena perlu istilahnya pengumpulan saksi, kemudian bukti-bukti yang ada ya. Kemudian yang kedua tadi masalah motif juga sama," bebernya.

Sementara itu Polisi juga telah mengungkapkan sosok terduga pelaku penyiraman air keras ke aktivis KontraS Andrie Yunus. Sosok pelaku dipamerkan ke publik berdasarkan yang muncul dalam pemantauan CCTV.

Polisi menegaskan sosok yang dipamerkan dalam konferensi pers, Rabu (18/3/2026) siang, merupakan wajah asli. Penegasan disampaikan usai sempat beredar wajah terduga pelaku di medsos yang dikonfirmasi polisi merupakan modifikasi artificial intelligence (AI).

Pada Minggu (15/3) lalu, sempat beredar wajah terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie. Tampak ada dua orang berada di sebuah sepeda motor.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kemudian buka suara terkait wajah terduga pelaku yang viral tersebut. Budi menegaskan gambar tersebut berupa artificial intelligence (AI) dan menyesatkan.

"Kami juga menyampaikan bahwa ada perkembangan di lapangan, termasuk di medsos (media sosial), adanya foto hasil screenshot CCTV dua orang yang tergambarkan," kata Budi dalam keterangannya, Minggu (15/3/2026).

"Kita yakini bahwa itu merupakan hasil dari AI, dan ini mungkin juga ada dugaan untuk menyesatkan proses penyelidikan," tambahnya.

Selang beberapa hari kemudian, polisi menampilkan rekaman CCTV yang memperlihatkan pergerakan pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie. Polisi mengatakan pelaku sudah mengikuti korban sejak di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta Pusat.

"Berawal dari pada pukul 19.45 WIB termonitor di sana rekan-rekan sekalian, video pertama menunjukkan pada pukul 19:45 WIB korban memasuki kantor YLBHI untuk mengikuti kegiatan podcast. Kemudian selanjutnya termonitor di sana korban keluar dari kantor YLBHI. Dan dari sejak dari kantor YLBHI termonitor berdasarkan CCTV yang kami ambil itu sudah ada yang mengikuti oleh terduga pelaku orang tak dikenal," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imannudin dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (18/3/2026).

Iman mengatakan pelaku yang memantau di kantor YLBHI memberikan kode ke terduga pelaku lainnya bahwa korban sudah keluar dari kantor YLBHI. Kemudian, pelaku lainnya yang menjadi eksekutor penyiraman mengikuti korban.

Rekaman CCTV itu juga menunjukkan momen korban mengisi BBM di SPBU. Iman mengatakan para pelaku juga berpencar melakukan pemantauan sejak di SPBU hingga menuju lokasi penyiraman.

"Video dua, ketika korban mengisi BBM di SPBU juga termonitor di layar rekan-rekan sekalian perhatikan yang kami beri tanda merah. Ini adalah dua orang yang diduga melakukan eksekusi di TKP nanti. Akan ada kesesuaian antara pakaian yang digunakan dengan kendaraan yang digunakan," kata Iman.

"Termonitor setelah dari SPBU, posisi sudah ada yang menunggu. Ini adalah bagian dari kelompok terduga pelaku adalah kendaraan kedua yang melakukan monitoring terhadap korban. Ini posisi mengarah ke arah TKP," tambahnya.

Rekaman CCTV itu lalu menampilkan momen korban mengalami penyiraman air keras tersebut. Korban tampak meminggirkan motornya dan berteriak kesakitan.

"Ini adalah pelaku eksekutornya yang kami bulati warna merah berputar arah kemudian berpapasan menunggu. Nah, ini yang hijau adalah korban itu pada saat dilempar dengan cairan. Ini yang kuning adalah motor kedua yang ditunggangi oleh terduga juga, jaringan dari pelaku, kelompoknya pelaku," ujarnya.

Iman mengatakan dua motor yang diduga menjadi eksekutor penyiraman lalu berpisah arah setelah melakukan aksi tersebut. Salah satu motor melawan arah di Jalan Diponegoro dan berhenti menepi karena diduga terkena cipratan air keras.

Iman mengatakan dua eksekutor penyiraman air keras tersebut berinisial BHC dan MAK. Dia menduga pelaku penyiraman ini lebih dari empat orang.

Polisi memastikan gambar wajah kedua pelaku tersebut tidak dilakukan perubahan dan bukan hasil artificial intelligence (AI).

"Ini hasil dari pengambilan gambar terhadap CCTV yang sudah kami peroleh. Kami tekankan kepada rekan-rekan sekalian, ini sama sekali tidak dilakukan perubahan ataupun pengolahan sehingga kami dapat pertanggungjawabkan bahwa ini bukan hasil artificial intelligence," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imannudin di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (17/3/2026).

Iman juga mengungkap dua eksekutor berinisial BHC dan MAK. Gambar wajah kedua eksekutor itu murni diambil dari rekaman CCTV di sepanjang jalan yang merekam pergerakan eksekutor tersebut.

"Kami sampaikan bahwa ini adalah murni kami ambil dari CCTV yang tertangkap kamera pengawas di sepanjang jalur yang dilalui oleh para pelaku sehingga bukan hasil artificial intelligence," ujarnya.

Lebih lanjut, Iman mengatakan pihaknya telah memeriksa 15 orang saksi dalam perkara ini. Ia menduga pelaku penyiraman lebih dari empat orang.

"Saat ini kami menduga dapat kami informasikan bahwa dua orang yang tadi kami tunjukkan tersebut dari satu Data Polri ini satu inisial BHC, dua inisial MAK. Namun demikian dari hasil penyelidikan kami tidak menutup kemungkinan juga ini pelaku dapat diduga lebih dari empat," ujarnya.(detiknews)

Tags
beritaTerkait
Polda Sumut Tetapkan Mantan Kepala Kas Tersangka, Terdekteksi Kabur Ke Australia
Sebelum Ditemukan Tewas, Korban Rahmadani Masuk Hotel Bersama Tersangka
Aktivis KontraS Andrie Yunus Alami Luka Bakar 24%, Polda Metro Jaya Buru Pelaku
2 Orang jadi Tersangka Tambang Emas Ilegal di Madina, 15 Orang Dilepas
Ini Tampang dan Peran 2 Tersangka Pelaku Pembunuh Cewek Asal Labura
2 Tersangka Pelaku Masih ABG, Terekam CCTV Bawa Boks Berisi Mayat Naik Sepeda Motor
komentar
beritaTerbaru