Rabu, 22 April 2026
Reforma Agraria Desa Soso

Menguatkan Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

Evi Tanjung - Rabu, 22 April 2026 14:50 WIB
Menguatkan Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan
Ist
Patma dengan sertipikat di tangan jadi menguasai lahan yang dulunya tak punya kepastian hukum

POSMETRO MEDAN, Jatim - Memiliki tanah bukan sekadar soal kepastian hukum, tetapi juga tentang harapan akan kehidupan yang lebih layak. Dengan kepemilikan tanah yang jelas, petani perempuan di Desa Soso kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Patma (55), petani perempuan asal Desa Soso, Kabupaten Blitar, menilik kisah yang terjadi di desanya. Sejak 2012, Desa Soso menjadi lokasi konflik tanah berkepanjangan antara masyarakat dengan perusahaan yang beroperasi di wilayah desa. Saat memperjuangkan lahan tempatnya berkebun, Patma bahkan pernah mengalami penghadangan oleh pihak keamanan perusahaan.

Baca Juga:

"Dulu kalau mau nanam itu takut. Tapi kalau tidak nanam, gimana kita butuh makan," ucap Patma, saat ditemui di Desa Soso.

Pada 2022 melalui program Reforma Agraria yang diusung Kementerian ATR/BPN, lahan yang semula tidak memiliki kepastian hukum, akhirnya menjadi milik Patma sendiri. Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar menerbitkan sertipikat hasil redistribusi tanah seluas 83,85 hektare untuk Patma dan 527 keluarga penerima Sertipikat Hak Milik lainnya di Desa Soso.

Baca Juga:

"Sekarang, setelah Reforma Agraria kan sudah diredistribusi tanahnya, ya pasti lebih aman, lebih tenang," terang Patma.

Kini, dengan sertipikat tanah di tangan, masyarakat merasa lebih tenang dan percaya diri dalam mengelola kebunnya. Hal ini juga dirasakan petani perempuan lainnya, Indra (32). Ia menyebut, kepastian hukum atas tanah membuat mereka lebih leluasa menentukan jenis tanaman serta merencanakan masa depan keluarga.

"Apalagi sertipikat sudah atas nama sendiri. Jadi kan kita merasa bangga, lebih percaya diri," tutur Indra.

Perubahan signifikan juga terlihat dari sisi ekonomi. Warga jadi bisa memanfaatkan lahan secara optimal, salah satunya dengan menanam jagung. Melalui kerja sama dengan PT Syngenta Indonesia, petani mendapatkan bantuan bibit, pendampingan, hingga akses pasar dengan harga jual yang lebih baik, yakni sekitar Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram.

Hasil kebun pun meningkat. Dari lahan sekitar 1.500 meter persegi, petani mampu menghasilkan hingga 1 ton jagung dengan nilai mencapai sekitar Rp9 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, di mana jagung lokal hanya menghasilkan sekitar Rp4 hingga Rp5 juta. "Kalau hasilnya meningkat sudah pasti bahagia, senang," pungkas Indra.

Tags
beritaTerkait
Wujudkan Kepedulian Antar-Daerah, Pemko Medan Terima Penghargaan dari Mendagri
Dokter Puskesmas Onan Ganjang Susah Ditemui
Aksi Begal Sadis Siang Bolong di Marelan Dibolongin Pakai Timah Panas
Wartawan Dihajar Begal Hingga Patah Tulang di Jalinsum Kampung Baru Labuhanbatu
Langkah Cepat Atasi Kelangkaan Pupuk Subsidi, Ketua Komisi B DPRD Karo Koordinasi dengan DPR RI
Rumah Zakat Salurkan Bantuan Modal Usaha bagi Penyintas Banjir di Aek Sitio-tio
komentar
beritaTerbaru