Terima LHP BPK TA 2025, Pemko Binjai Perkuat Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Daerah
Terima LHP BPK TA 2025, Pemko Binjai Perkuat Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Daerah.
Sumut 2 jam lalu
Oleh: Zulkifli Tanjung
POSMETRO MEDAN, Medan-Jagat politik Sumut bergetar! Kadis PUPR Sumut, Topan Ginting, dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Topan, dikenal sebagai 'tangan kanan' Bobby. Sejak menjabat sebagai Walikota Medan, pun setelah kini mantu Jokowi itu jadi Gubernur Sumut. Topan selalu ada dimanapun Bobby. Tapi dua hari ini, Bobby serasa 'patah kaki'. Peringatan dini untuk Gubernur termuda se-Indonesia ini.
Bobby kini tak bisa lagi lari kencang, setidaknya untuk beberapa bulan sebelum ada pengganti Topan. Malah spekulasi beredar, Bobby akan nyusul Topan hingga ke Gedung Merah Putih. Dengan mengenakan rompi orange khas milik anti rasuah itu. Tapi spekulan jangan lupa, bahwa Bobby menantu mantan Presiden, yang 'menjadikan' Prabowo sebagai orang nomor satu di negeri ini. Kecil kemungkinan Presiden Prabowo tak mendengar rengekan Jokowi membela Bobby.
Baca Juga:
Namun di balik semua itu, publik bertanya-tanya: benarkah Bobby tak tahu-menahu soal sepak terjang Topan? Atau justru selama ini ia membiarkan, bahkan menikmati kenyamanan dari jaringan kekuasaan yang dibangun sang Kadis? Dalam politik, loyalitas bawahan bisa menjadi berkah—atau bom waktu. Dan hari ini, tampaknya bom itu meledak tepat di pangkuan Bobby.
Isu ini juga menyulut dinamika baru di internal pemerintahan Sumut. Para pejabat lain mulai pasang kuda-kuda. Beberapa memilih 'tiarap', menunggu arah angin. Yang lain mulai menjaga jarak, khawatir ikut terseret arus. Apalagi KPK dikenal tidak main-main. Mereka sabar, diam, lalu menebas dalam sekali tebas. Jika dugaan KPK terbukti mengait pada pengambil kebijakan yang lebih tinggi, bukan mustahil petaka ini bukan akhir—melainkan pembuka.
Baca Juga:
Apakah Bobby akan ditahan? Pertanyaan ini mulai bergulir pelan namun pasti di ruang-ruang diskusi politik, warung kopi, hingga grup WhatsApp elite. Pasalnya, pusaran kasus Topan Ginting bukan sekadar soal proyek dan fee. Ini tentang jejaring kekuasaan, tentang siapa melindungi siapa, dan tentang bagaimana kekuasaan digunakan—atau disalahgunakan.
Jika KPK menemukan benang merah yang mengarah ke ruang kerja Gubernur, maka tak ada jaminan Bobby akan tetap bebas, meski punya nama belakang "Jokowi".
Tentu, politik tak sesederhana hukum pidana. Ada kalkulasi, ada pertimbangan, dan ada negosiasi. Tapi publik juga semakin cerdas. Tak cukup hanya melempar tanggung jawab pada bawahan atau bersembunyi di balik narasi "tidak tahu-menahu". Apalagi jika rekam jejak Topan selama ini menunjukkan kedekatan luar biasa dengan Bobby—dari masa di Pemko Medan hingga kini di Pemprov Sumut. Sulit dipercaya, seorang Kepala Dinas bisa sebebas itu tanpa ada restu dari atas.
Namun apakah KPK cukup berani menyentuh Bobby? Di sinilah tarik-ulur antara hukum dan politik kembali terjadi. Jokowi bukan lagi Presiden, tapi bayangannya masih panjang. Dan Prabowo, meski baru seumur jagung, tentu tak ingin awal pemerintahannya diganggu dengan isu politis yang menyangkut keluarga Jokowi. Maka bisa saja, Bobby tidak akan disentuh—bukan karena tak bersalah, tetapi karena terlalu banyak kepentingan yang sedang dijaga.
Jika benar begitu, maka publik harus bersiap menerima satu kenyataan pahit: hukum ternyata masih bisa ditawar. Tapi jika KPK ingin membuktikan diri independen dan berani, maka kasus ini adalah panggungnya. Dan jika Bobby memang bersih, ia seharusnya tak perlu takut. Justru ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar menantu mantan Presiden, tapi pemimpin yang siap bertanggung jawab, bahkan atas lingkaran terdekatnya.
Akhirnya, apakah Bobby akan terseret Topan atau tidak bukan sekadar soal bukti. Ini juga tentang siapa yang sedang memegang kendali narasi. Dan dalam politik Indonesia, terkadang yang bersalah bukan yang ditangkap—melainkan yang kalah dalam permainan kekuasaan.
Di sisi lain, publik pun mulai menimbang: apakah Bobby akan mengambil langkah tegas membersihkan lingkarannya? Atau justru memilih bertahan dalam kubah loyalitas lama demi menjaga stabilitas kekuasaannya? Pilihan ini krusial, sebab bisa menentukan apakah Bobby akan bangkit dari 'patah kaki'-nya, atau benar-benar ambruk sebelum mencetak satu pun 'gol' prestasi.
Dalam dunia politik, persepsi publik adalah segalanya. Dan hari ini, persepsi itu tidak sedang berpihak pada Bobby. Jika tak segera mengambil kendali narasi, ia bisa jadi bulan-bulanan lawan politik, bahkan kehilangan simpati publik yang dulu mempercayainya sebagai sosok muda harapan. Kini, Bobby dihadapkan pada pilihan: membersihkan diri atau tenggelam bersama pusaran loyalitas yang membusuk.
Pastinya beberapa hari ini, Bobby 'Patah-Kaki' Yes, Gol No! Ini hanya peringatan dini, agar Bobby mengubah segalanya. Tak hanya Topan dan lingkarannya yang butuh 'makan'. Adanya kabar syukuran saat penangkapan Topan, salah satu bukti bahwa komplotannya selama ini 'makan sendiri'. Dan ketika dia gol, banyak yg bersorak. Semoga Bobby mawas diri.(*)
Terima LHP BPK TA 2025, Pemko Binjai Perkuat Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Daerah.
Sumut 2 jam lalu
Remaja berusia 13 tahun yang hanyut terbawa arus Sungai Silau, tepatnya di bawah rel kereta api Lingkungan IV, Kelurahan Kedai Ledang.
Peristiwa 2 jam lalu
Paris SaintGermain takluk 13 di kandang Rennes. Hasil tersebut bikin Les Parisiens gagal menjauhkan jarak di puncak klasemen Ligue 1.
Sport 3 jam lalu
Kasus Penggelapan Jabatan Rp1 Miliar Kapolda Sumut Diminta Evaluasi Kasat Reskrim Samosir
Sumut 3 jam lalu
POSMETROMEDAN, Simarpinggan Ia berbicara pelan, lewat jalan yang retak, drainase yang tersumbat, harga pupuk yang merangkak naik, dan masj
Sumut 10 jam lalu
POSMETROMEDAN, Percut Sei Tuan Harapan nelayan Bagan Percut memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI), akhirnya terkabul. TPI tersebut pun suda
Sumut 10 jam lalu
POSMETROMEDAN, Percut Sei Tuan Penurunan angka stunting menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang. Salah
Sumut 11 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Medan Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, menghadiri kegiatan launching serentak Satuan Pelayana
Medan 16 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Jakarta Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya kepada sejumlah pejabat Polri
Medan 16 jam lalu
POSMETROMEDAN, Lubuk Pakam Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang menerima bantuan stimulan perbaikan rumah rusak akibat bencana Hidro
Sumut 16 jam lalu