Rabu, 21 Oktober 2026

Krisis Guru Disabilitas Netra di Sumut, Pertuni Minta Dinas Pendidikan Buka Akses di SLB

Jafar Sidik - Rabu, 21 Oktober 2026 14:18 WIB
Krisis Guru Disabilitas Netra di Sumut, Pertuni Minta Dinas Pendidikan Buka Akses di SLB
(ist)

POSMETRO MEDAN-Persoalan minimnya guru disabilitas netra di Sumatera Utara mencuat dalam kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Cabang yang digelar Plt Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumatera Utara, Selasa (20/10/2026) sore.

14 Dewan Pengurus Cabang (DPC) se-Sumatera Utara ambil bagian dalam kegiatan konsolidasi itu, tiga pengurus cabang lain berhalangan hadir.

Ketua Umum, Setiawan Gema Budi, S.Pd., M.Pd yang hadir mengatakan latar belakang kegiatan ini menegaskan bahwa kegiatan pembinaan ini adalah mandat penting dari Pelaksana Tugas DPD untuk menjaga stabilisasi organisasi.

Baca Juga:

"Kegiatan hari ini berlatar belakang dari pelaksana tugas dewan pengurus daerah Pertuni di mana PLT ini bertugas untuk menjaga stabilisasi organisasi," jelasnya.

Titik poin utamanya adalah peningkatan kapasitas SDM teman-teman DPC di kabupaten/kota agar memahami alur organisasi berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Baca Juga:

"Selain itu, ini menjadi pondasi awal supaya mereka mengenal bagaimana latihan kepemimpinan serta manajemen organisasi. Karena kita ketahui bersama, dengan era digital ini teman-teman masih lesu, lemah untuk membaca terkait literasi digital. Hal ini menjadi tantangan," ujarnya.

Ia menekankan bahwa tantangan terbesar Pertuni saat ini adalah minimnya kaderisasi di kalangan anak muda. Padahal, dalam AD/ART Pertuni, keanggotaan tidak mengenal usia, termasuk anggota pemula yang masih duduk di bangku SLB.

"Tolong adik-adik kita yang masih di SLB dilibatkan. Kita ajarkan bagaimana bertumbuh. Hadir untuk semuanya. Berikan ruang kepada mereka untuk berpartisipasi secara bermakna supaya teman-teman muda ini ada wadah," harapnya.

Plt Ketua DPD Pertuni Sumut, Linda Wati, menjelaskan bahwa kegiatan tatap muka ini adalah tindak lanjut yang harus dilakukan karena pembinaan online sebelumnya kurang menggugah.

"Hari ini kita melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas cabang, lanjutan dari yang sudah kami lakukan sebelumnya secara online. Cuma kami rasa ini kurang optimal sehingga kami membutuhkan pertemuan langsung. Kebetulan juga ada bantuan dari orang baik hati, gayung bersambut, terjadilah kegiatan ini," ujar Linda.

Harapan Linda, setelah kembali ke daerah masing-masing, para pengurus DPC mampu mengaplikasikan pedoman berorganisasi dan memimpin cabang dengan lebih baik.

"Dengan memahami AD/ART, maka semua akan terjawab. Kalau katanya miring atau apa, kalau kita sudah memahami pasti semua akan terjawab," tegasnya.

Linda menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi DPC, baik secara online maupun offline.

"Kami sebagai PLT juga akan melanjutkan ini, bukan hanya selesai sampai di sini. Nanti kami akan tetap dampingi lagi dalam berbagai bentuk yang memungkinkan. Ini adalah semangat organisasi yang melayani, sifatnya sukarela dan nirlaba. Dari nasional sampai cabang kita sama-sama berjuang untuk memperoleh perhatian dan kebijakan. Ayo kolaborasi, saling mendukung, saling mengingatkan," pungkasnya.

Sementara itu seorang peserta asal, Pertuni Pematangsiantar, Hilda Deslina Lauli. Ia berharap kepemimpinan PLT di bawah Linda Wati mampu membawa Pertuni lebih maju dan tidak terjebak dalam cara-cara manual.

"Kalau bisa jangan manual-manual terus. Kita sebagai tunanetra kalau bisa lebih diarahkan lagi ke modern, contohnya laptop, Android, baik di tingkat DPD kalau bisa ada pelatihannya," harap Ketua DPC Pertuni Pematangsiantar itu.

Ia mencontohkan dirinya sendiri yang sudah mulai merintis usaha peternakan dan berjualan online melalui live streaming. Namun, menurutnya, masih banyak anggota di daerah yang belum melek teknologi.

"Masih banyak teman-teman, tidak usah jauh-jauh, yang tidak paham menggunakan teknologi. Diharapkan untuk dibina agar bisa mendapatkan penghasilan secara mandiri," katanya.

Hilda juga menyoroti fenomena banyaknya tunanetra yang ditemuinya di dunia maya, yang belum pernah mengenyam pendidikan di asrama atau SLB, namun memiliki potensi besar.

"Saya menemukan tunanetra di dunia maya, mereka belum pernah masuk asrama sekolah tapi saya kenal banyak sekali. Kalau bisa mereka direkrut supaya Pertuni ini lebih terpandang, lebih jaya," tutupnya.

Kegiatan ini pun menjadi penanda kebangkitan kembali Pertuni Sumut untuk lebih solid, modern, dan inklusif.

Usai acara, Humas Pertuni Sumut, Andy menyampaikan terkait minumnya guru tuna netra di Sumatera Utara. Andy meminta agar Dinas Pendidikan Sumatera Utara turun tangan.

"Saya meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Pendidikan untuk memberikan afirmasi dan ruang yang nyata bagi penyandang disabilitas netra untuk menjadi tenaga pengajar di SLB di Sumatera Utara," tegas Andy.

Menurut data yang ia pegang, kondisi guru SLB dari kalangan netra di Sumut sangat memprihatinkan. Dari puluhan SLB yang tersebar di kabupaten/kota, hanya tercatat satu orang guru netra yang aktif mengajar di Labuhanbatu Utara (Labura).

"Karena apa? SLB kita di Sumatera Utara ini sangat banyak. Kami berharap Sumut melalui Dinas Pendidikan memberikan ruang kepada teman-teman kita yang nantinya akan menjadi tenaga pengajar, jangan dipersulit. Ada beberapa orang teman kita yang hanya untuk perpindahan saja sangat-sangat susah," ungkapnya.

Ia bahkan menyebut adanya kasus diskriminasi, di mana salah satu SMP di Sumut menolak menerima penyandang disabilitas netra.

"Itu saja bang, terima kasih. Kami hanya ingin mengajar dan mengabdi," tutupnya. (R)

Tags
beritaTerkait
Murid MAN Sibolga Tembus Final Nasional Kompetisi Sains Ruangguru
Siswa MIN 4  Dairi, Nikmati MBG dengan duduk di Lantai, Sesuai Sunnah
Pengurus Forum Alumni UINSU Medan Periode 2024–2027 Dikukuhkan
Ratusan Anggota Pramuka Bersihkan Danau Toba
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Putra Sang Proklamator yang Keluar dari Politik dan Menepi di Dunia Seni
Pelet Ikan Bawa Siswa MAN Karo Raih Medali Emas WICE 2026 di Malaysia
komentar
beritaTerbaru