Pelanggaran Turun 56,7 Persen, Edukasi dan Pengawasan Semakin Masif
POSMETRO MEDAN Medan Memasuki hari ke10 pelaksanaan Operasi Keselamatan Toba 2026 yang dimulai sejak 2 Februari 2026, jajaran Polda Sumut
Medan 17 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Medan -Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat sejak akhir November lalu bukan hanya merendam rumah dan jalan. Di sejumlah titik, banjir juga melumpuhkan satu hal yang kini nyaris setara kebutuhan dasar, akses komunikasi.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, relawan kemanusiaan mengaku harus kembali pada teknologi lama untuk bertahan. Handy Talky (HT)- alat komunikasi radio yang hanya bisa menjangkau sesama pengguna-menjadi satu-satunya harapan ketika sinyal Telkomsel mati total.

Baca Juga:
"Kalau tidak pakai HT, rombongan bisa terpisah. Sama sekali tidak ada sinyal," ujar salah satu relawan Mitra Arsitektur Indonesia (MAI) yang terlibat langsung dalam distribusi bantuan di Aceh Tamiang.
Kesaksian serupa datang dari sejumlah rombongan lain, termasuk anggota DPRD Sumut, yang berada di wilayah terdampak pada 20 Desember lalu. Mereka menyebut komunikasi seluler praktis lumpuh di beberapa jalur utama dan titik pengungsian.
Baca Juga:
Ironisnya, di tengah keterbatasan sinyal tersebut, harga paket data justru dikeluhkan melonjak tinggi. Keluhan ini beredar luas di lapangan, meski belum disertai klarifikasi resmi soal kebijakan tarif darurat dari operator.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik, di mana negara-dan korporasi strategis-berdiri ketika bencana datang?
Rilis Resmi vs Fakta Lapangan
Dalam keterangan tertulisnya, Telkomsel menyatakan telah memulihkan lebih dari 80 persen site terdampak di Aceh, sekitar 97 persen di Sumatera Utara, dan 98 persen di Sumatera Barat. Sebanyak 21 site di Aceh Tamiang disebut sudah kembali aktif, sementara 67 site lainnya masih dalam proses pemulihan bertahap.
VP Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menegaskan bahwa kendala utama bukan pada perangkat jaringan, melainkan pasokan listrik yang belum stabil.
"Secara teknis, banyak perangkat sudah siap beroperasi. Namun site baru dapat hidup sepenuhnya apabila pasokan catu daya memadai," ujarnya.
Penjelasan ini rasional. Namun di lapangan, persoalan tidak berhenti pada teknis semata. Bagi warga dan relawan, jaringan yang 'siap' tapi belum bisa digunakan tetap berarti satu hal, sunyi komunikasi.
Di beberapa wilayah Kota Medan sendiri-yang relatif tidak terdampak langsung banjir-gangguan sinyal juga dilaporkan. Di sekitar RS Mitra Medan saja, banyak pengguna Telkomsel yang mengaku kehilangan sinyal secara total pada waktu tertentu. Saat bimcanf-bincang kepada petugas pendaftaran BPJS Mitra Sejati, mereka mengatakan bahwa sinyal Telkomsel tidak bisa masuk selain XL dan TRI.
Telkomsel menyatakan telah menyalurkan bantuan air bersih, pakaian layak pakai, dan sembako ke sejumlah posko pengungsian. Upaya ini patut dicatat. Namun di era ketika akses informasi menentukan keselamatan, publik berharap lebih dari sekadar bantuan logistik.
Dalam situasi bencana, konektivitas bukan komoditas biasa. Ia adalah urat nadi koordinasi evakuasi, distribusi bantuan, hingga pencarian korban. Ketika sinyal hilang dan biaya akses terasa memberatkan, yang terputus bukan hanya jaringan-melainkan rasa kehadiran negara dan empati korporasi.
Di titik inilah kritik publik menemukan relevansinya. Bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan.
Seperti kata filsuf publik.
Krisis sering kali bukan soal teknologi yang gagal, melainkan kepekaan yang tertinggal. Bencana menuntut lebih dari klaim persentase pemulihan; ia menuntut keberpihakan yang terasa nyata.
Menunggu Jawaban yang Lebih Jelas
Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pemulihan dan mendukung masyarakat agar segera bangkit. Pernyataan ini menutup rilis resmi mereka dengan nada optimistis.
Namun bagi warga Aceh Tamiang, relawan di lapangan, dan para pengguna yang kehilangan sinyal di saat genting, optimisme memerlukan satu prasyarat akses yang benar-benar hadir, bukan sekadar dilaporkan.
Musibah adalah ujian bersama. Dan bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Telkomsel, ujian itu bukan hanya soal kecepatan memulihkan jaringan melainkan bagaimana etika layanan ditegakkan ketika publik berada dalam posisi paling rentan.(erni)
POSMETRO MEDAN Medan Memasuki hari ke10 pelaksanaan Operasi Keselamatan Toba 2026 yang dimulai sejak 2 Februari 2026, jajaran Polda Sumut
Medan 17 menit lalu
POSMETRO MEDANTapanuli Selatan Personel Satuan Brimob Polda Sumut terus menunjukkan komitmen dalam mendukung pemulihan pascabencana banj
Sumut 22 menit lalu
POSMETRO MEDAN,Medan Komisaris dan Direksi PT Bank Sumut (Perseroda) kompak bicara tentang transformasi perusahaan yang diharapkan dapat
Medan 27 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Taoanuli Selatan Kepedulian terhadap warga terdampak bencana kembali ditunjukkan oleh personel Satuan Brimob Polda Sumut. P
Sumut 33 menit lalu
Polda Sumut Gagalkan Peredaran 20 Kg Ganja Asal Aceh, Tiga Pelaku Diamankan di Medan
Kriminal 45 menit lalu
Rico Waas Terima Kunjungan Reses DPRD Sumut, Bahas Soal Infrastruktur Hingga Banjir.
Medan 59 menit lalu
Pemerintah Kota Medan melalui Inspektorat menyatakan menghormati sepenuhnya proses hukum yang saat ini tengah berjalan terkait Lurah Terjun.
Medan satu jam lalu
Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Tapanuli Tengah, BPBD Siagakan GOR Pandan untuk Evakuasi
Peristiwa 2 jam lalu
Zakiyuddin Harahap Harap HIPMI Sumut Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah.
Medan 3 jam lalu
Pelaku Curat dan Penadah Sepeda Motor Curian Diringkus Unit Reskrim Polsek Teluk Nibung.
Kriminal 4 jam lalu