Rabu, 11 Februari 2026

Ketika Banjir Datang, Sinyal Menghilang: Catatan Publik atas Layanan Telkomsel di Tengah Musibah Aceh dan Sumatera

Evi Tanjung - Sabtu, 27 Desember 2025 08:13 WIB
Ketika Banjir Datang, Sinyal Menghilang: Catatan Publik atas Layanan Telkomsel di Tengah Musibah Aceh dan Sumatera
Ist
Perbaikan Telkomsel memberi pelayanan terbaik bagi pelanggan

POSMETRO MEDAN, Medan -Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat sejak akhir November lalu bukan hanya merendam rumah dan jalan. Di sejumlah titik, banjir juga melumpuhkan satu hal yang kini nyaris setara kebutuhan dasar, akses komunikasi.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, relawan kemanusiaan mengaku harus kembali pada teknologi lama untuk bertahan. Handy Talky (HT)- alat komunikasi radio yang hanya bisa menjangkau sesama pengguna-menjadi satu-satunya harapan ketika sinyal Telkomsel mati total.

Baca Juga:

"Kalau tidak pakai HT, rombongan bisa terpisah. Sama sekali tidak ada sinyal," ujar salah satu relawan Mitra Arsitektur Indonesia (MAI) yang terlibat langsung dalam distribusi bantuan di Aceh Tamiang.

Kesaksian serupa datang dari sejumlah rombongan lain, termasuk anggota DPRD Sumut, yang berada di wilayah terdampak pada 20 Desember lalu. Mereka menyebut komunikasi seluler praktis lumpuh di beberapa jalur utama dan titik pengungsian.

Baca Juga:

Ironisnya, di tengah keterbatasan sinyal tersebut, harga paket data justru dikeluhkan melonjak tinggi. Keluhan ini beredar luas di lapangan, meski belum disertai klarifikasi resmi soal kebijakan tarif darurat dari operator.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik, di mana negara-dan korporasi strategis-berdiri ketika bencana datang?

Rilis Resmi vs Fakta Lapangan

Dalam keterangan tertulisnya, Telkomsel menyatakan telah memulihkan lebih dari 80 persen site terdampak di Aceh, sekitar 97 persen di Sumatera Utara, dan 98 persen di Sumatera Barat. Sebanyak 21 site di Aceh Tamiang disebut sudah kembali aktif, sementara 67 site lainnya masih dalam proses pemulihan bertahap.

VP Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menegaskan bahwa kendala utama bukan pada perangkat jaringan, melainkan pasokan listrik yang belum stabil.

"Secara teknis, banyak perangkat sudah siap beroperasi. Namun site baru dapat hidup sepenuhnya apabila pasokan catu daya memadai," ujarnya.

Penjelasan ini rasional. Namun di lapangan, persoalan tidak berhenti pada teknis semata. Bagi warga dan relawan, jaringan yang 'siap' tapi belum bisa digunakan tetap berarti satu hal, sunyi komunikasi.

Di beberapa wilayah Kota Medan sendiri-yang relatif tidak terdampak langsung banjir-gangguan sinyal juga dilaporkan. Di sekitar RS Mitra Medan saja, banyak pengguna Telkomsel yang mengaku kehilangan sinyal secara total pada waktu tertentu. Saat bimcanf-bincang kepada petugas pendaftaran BPJS Mitra Sejati, mereka mengatakan bahwa sinyal Telkomsel tidak bisa masuk selain XL dan TRI.

Telkomsel menyatakan telah menyalurkan bantuan air bersih, pakaian layak pakai, dan sembako ke sejumlah posko pengungsian. Upaya ini patut dicatat. Namun di era ketika akses informasi menentukan keselamatan, publik berharap lebih dari sekadar bantuan logistik.

Dalam situasi bencana, konektivitas bukan komoditas biasa. Ia adalah urat nadi koordinasi evakuasi, distribusi bantuan, hingga pencarian korban. Ketika sinyal hilang dan biaya akses terasa memberatkan, yang terputus bukan hanya jaringan-melainkan rasa kehadiran negara dan empati korporasi.

Di titik inilah kritik publik menemukan relevansinya. Bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan.

Seperti kata filsuf publik.

Krisis sering kali bukan soal teknologi yang gagal, melainkan kepekaan yang tertinggal. Bencana menuntut lebih dari klaim persentase pemulihan; ia menuntut keberpihakan yang terasa nyata.

Menunggu Jawaban yang Lebih Jelas

Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pemulihan dan mendukung masyarakat agar segera bangkit. Pernyataan ini menutup rilis resmi mereka dengan nada optimistis.

Namun bagi warga Aceh Tamiang, relawan di lapangan, dan para pengguna yang kehilangan sinyal di saat genting, optimisme memerlukan satu prasyarat akses yang benar-benar hadir, bukan sekadar dilaporkan.

Musibah adalah ujian bersama. Dan bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Telkomsel, ujian itu bukan hanya soal kecepatan memulihkan jaringan melainkan bagaimana etika layanan ditegakkan ketika publik berada dalam posisi paling rentan.(erni)

Tags
beritaTerkait
Taruna Akpol Bersihkan Dispora Aceh Tamiang, Siapkan Posko Satlat Kijang Jelang Pembukaan Latsitardanus 2026
PEP Rantau Field Salurkan Bantuan Berkelanjutan pada Desa yang Hilang di Aceh Tamiang
Pemko Medan Kirim Bantuan Alat Berat 3 Tahap, Misi Kemanusiaan Bantu Percepatan Pemulihan Bencana Aceh Tamiang
Puskesmas Sentosa Baru Dan KUA Medan Perjuangan Salurkan Donasi Bantuan ke Aceh Tamiang
Misi Kemanusiaan Sebulan Penuh, Personel Damkarmat Kota Medan Bahu- Membahu Bersihkan Aceh Tamiang Pancabanjir
Dukung Penanganan Bencana di Sumatra, PINTU Bagikan Starlink untuk Konektivitas Darurat
komentar
beritaTerbaru