Bupati Deli Serdang Tekankan Integritas dan Larang Keterlibatan ASN dalam Proyek Fisik
POSMETRO MEDAN, Lubuk Pakam Bupati Deli Serdang, dr H Asri Ludin Tambunan, memimpin apel pagi di lingkungan Dinas Sumber Daya Air, Bina Ma
Sumut 12 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Medan -Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat sejak akhir November lalu bukan hanya merendam rumah dan jalan. Di sejumlah titik, banjir juga melumpuhkan satu hal yang kini nyaris setara kebutuhan dasar, akses komunikasi.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, relawan kemanusiaan mengaku harus kembali pada teknologi lama untuk bertahan. Handy Talky (HT)- alat komunikasi radio yang hanya bisa menjangkau sesama pengguna-menjadi satu-satunya harapan ketika sinyal Telkomsel mati total.

Baca Juga:
"Kalau tidak pakai HT, rombongan bisa terpisah. Sama sekali tidak ada sinyal," ujar salah satu relawan Mitra Arsitektur Indonesia (MAI) yang terlibat langsung dalam distribusi bantuan di Aceh Tamiang.
Kesaksian serupa datang dari sejumlah rombongan lain, termasuk anggota DPRD Sumut, yang berada di wilayah terdampak pada 20 Desember lalu. Mereka menyebut komunikasi seluler praktis lumpuh di beberapa jalur utama dan titik pengungsian.
Baca Juga:
Ironisnya, di tengah keterbatasan sinyal tersebut, harga paket data justru dikeluhkan melonjak tinggi. Keluhan ini beredar luas di lapangan, meski belum disertai klarifikasi resmi soal kebijakan tarif darurat dari operator.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik, di mana negara-dan korporasi strategis-berdiri ketika bencana datang?
Rilis Resmi vs Fakta Lapangan
Dalam keterangan tertulisnya, Telkomsel menyatakan telah memulihkan lebih dari 80 persen site terdampak di Aceh, sekitar 97 persen di Sumatera Utara, dan 98 persen di Sumatera Barat. Sebanyak 21 site di Aceh Tamiang disebut sudah kembali aktif, sementara 67 site lainnya masih dalam proses pemulihan bertahap.
VP Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menegaskan bahwa kendala utama bukan pada perangkat jaringan, melainkan pasokan listrik yang belum stabil.
"Secara teknis, banyak perangkat sudah siap beroperasi. Namun site baru dapat hidup sepenuhnya apabila pasokan catu daya memadai," ujarnya.
Penjelasan ini rasional. Namun di lapangan, persoalan tidak berhenti pada teknis semata. Bagi warga dan relawan, jaringan yang 'siap' tapi belum bisa digunakan tetap berarti satu hal, sunyi komunikasi.
Di beberapa wilayah Kota Medan sendiri-yang relatif tidak terdampak langsung banjir-gangguan sinyal juga dilaporkan. Di sekitar RS Mitra Medan saja, banyak pengguna Telkomsel yang mengaku kehilangan sinyal secara total pada waktu tertentu. Saat bimcanf-bincang kepada petugas pendaftaran BPJS Mitra Sejati, mereka mengatakan bahwa sinyal Telkomsel tidak bisa masuk selain XL dan TRI.
Telkomsel menyatakan telah menyalurkan bantuan air bersih, pakaian layak pakai, dan sembako ke sejumlah posko pengungsian. Upaya ini patut dicatat. Namun di era ketika akses informasi menentukan keselamatan, publik berharap lebih dari sekadar bantuan logistik.
Dalam situasi bencana, konektivitas bukan komoditas biasa. Ia adalah urat nadi koordinasi evakuasi, distribusi bantuan, hingga pencarian korban. Ketika sinyal hilang dan biaya akses terasa memberatkan, yang terputus bukan hanya jaringan-melainkan rasa kehadiran negara dan empati korporasi.
Di titik inilah kritik publik menemukan relevansinya. Bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan.
Seperti kata filsuf publik.
Krisis sering kali bukan soal teknologi yang gagal, melainkan kepekaan yang tertinggal. Bencana menuntut lebih dari klaim persentase pemulihan; ia menuntut keberpihakan yang terasa nyata.
Menunggu Jawaban yang Lebih Jelas
Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pemulihan dan mendukung masyarakat agar segera bangkit. Pernyataan ini menutup rilis resmi mereka dengan nada optimistis.
Namun bagi warga Aceh Tamiang, relawan di lapangan, dan para pengguna yang kehilangan sinyal di saat genting, optimisme memerlukan satu prasyarat akses yang benar-benar hadir, bukan sekadar dilaporkan.
Musibah adalah ujian bersama. Dan bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Telkomsel, ujian itu bukan hanya soal kecepatan memulihkan jaringan melainkan bagaimana etika layanan ditegakkan ketika publik berada dalam posisi paling rentan.(erni)
POSMETRO MEDAN, Lubuk Pakam Bupati Deli Serdang, dr H Asri Ludin Tambunan, memimpin apel pagi di lingkungan Dinas Sumber Daya Air, Bina Ma
Sumut 12 menit lalu
Apel Rutin Dinas SDABMBK Kota Medan, Pegawai Diminta Tingkatkan Kinerja Dan Utamakan Keselamatan Kerja.
Medan 2 jam lalu
POSMETRO MEDAN Kasus dugaan penggelapan dana nasabah yang melibatkan mantan Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara, Andi Hakim Febriansyah, terus
Kriminal 4 jam lalu
Skuad Garuda mengawali perjalanan dengan manis di FIFA Series 2026 hingga sukses melesat ke final. Di partai puncak, pasukan John Herdman ak
Sport 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara menggelar Halal Bihalal Hari Raya Idul Fitri 1447H/2026M us
Medan 8 jam lalu
Silalahi Raja Sektor Medan Kota menggelar syukuran perayaan HUT ke 36 di MJ Kafe Medan.
Medan 9 jam lalu
Kata Warga soal Sosok Pria yang Tewas dalam Freezer di Bekasi.
Peristiwa 9 jam lalu
POSMETRO MEDANSemangat pengabdian dan jiwa korsa mulai ditempa sejak langkah pertama. Satuan Brimob Polda Sumatera Utara melaksanakan Upaca
Sumut 9 jam lalu
Crash, Buat Veda Ega Pratama Gagal Finish di Moto3 Amerika Serikat.
Sport 10 jam lalu
Marco Bezzecchi Kuasai Klasemen Usai Menang di Austin, Persaingan Ketat Aprilia Racing.
Sport 10 jam lalu