"Begitu anggota sampai, api sudah padam. Anggota langsung pulang karena agak dipersulit juga masuk ke lokasi," tegas Sofyan. Pihaknya baru dijadwalkan melakukan pendataan pada Senin (20/4) mendatang.
Di sisi lain, General Manager PT LTS, Gerbang Siahaan, memilih enggan berkomentar. Sementara, Direktur PT LTS, Sumarno, saat dikonfirmasi hanya melemparkan urusan ini ke bagian umum dengan dalih informasi "satu pintu".
Baca Juga:
Di balik puing-puing pabrik yang menghitam, tersimpan bara amarah warga Desa Kampung Pajak. Selama bertahun-tahun, warga mengaku tersiksa oleh polusi asap hitam pekat dari cerobong pabrik yang kini luluh lantak tersebut.
Dedi, salah seorang warga setempat, melontarkan komentar pedas yang menunjukkan frustrasi publik terhadap lemahnya pengawasan pemerintah.
Baca Juga:
"Sudah bertahun-tahun kami lapor soal asap hitam ini ke Pemkab Labura, tapi mandul. Sekarang biarlah alam yang bekerja. Sudah selayaknya terjadi (kebakaran) agar mereka sadar," ketus Dedi.
Pabrik yang berada tepat di samping Kantor Kepala Desa ini dikabarkan memang dalam kondisi uzur. Sejak beralih manajemen dari PJLU ke LTS, proses pembaruan suku cadang disebut-sebut tengah berjalan.
Namun, alih-alih melakukan perbaikan dengan aman, aktivitas operasional justru berakhir dengan petaka yang kini tengah diupayakan untuk "dijinakkan" secara informasi oleh pihak-pihak terkait.
Hingga berita ini diturunkan, bau hangus sisa sawit masih menyengat di Kampung Pajak, seiring dengan tuntutan publik agar pihak kepolisian melakukan investigasi transparan dan tidak sekadar berlindung di balik diksi "bencana". (HBB)
Tags
beritaTerkait
komentar