Sabtu, 14 Maret 2026

Tenun Tradisional Tarutung: Dari Seuntai Benang Menjadi Karya Bernilai Tinggi

Jafar Sidik - Jumat, 13 Maret 2026 11:15 WIB
Tenun Tradisional Tarutung: Dari Seuntai Benang Menjadi Karya Bernilai Tinggi
Tenun Tradisional Tarutung: Dari Seuntai Benang Menjadi Karya Bernilai Tinggi

Namun perjalanan hidup membawanya kembali kepada keterampilan yang telah ia pelajari sejak kecil. Kini, sebagai seorang ibu rumah tangga, Frisca justru merasa bersyukur memiliki kemampuan menenun yang tidak semua orang miliki.

Menurutnya, kegiatan menenun tidak hanya menjadi cara untuk melestarikan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.

"Sekarang saya sangat bersyukur masih memiliki keterampilan ini. Walaupun saya hanya ibu rumah tangga, dari menenun saya bisa membantu perekonomian keluarga," katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa menjalankan kegiatan menenun tidak selalu mudah. Ia harus membagi waktu antara mengurus rumah tangga, suami, dan anak-anak. Namun dengan tekad dan kecintaan terhadap seni tenun, Frisca tetap berusaha melanjutkan pekerjaannya serta terus berinovasi menciptakan motif-motif baru.

Hingga saat ini, Frisca telah menghasilkan ratusan set kain tenun. Dalam satu set biasanya terdiri dari tiga lembar kain, yaitu satu lembar selendang dan dua lembar sarung.

Proses pembuatan kain tenun membutuhkan waktu yang bervariasi, tergantung tingkat kesulitan motif yang dibuat. Untuk motif yang sangat rumit seperti Tumtuman Ragi Idup, proses pengerjaannya bisa memakan waktu hingga satu bulan. Sementara motif dengan tingkat kesulitan sedang biasanya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu. Untuk motif yang lebih sederhana, pengerjaannya dapat selesai dalam waktu sekitar satu minggu.

Dari berbagai motif yang dihasilkan, motif Tumtuman menjadi salah satu yang paling diminati oleh pelanggan. Tenun dengan motif ini biasanya menggunakan benang dasar berwarna putih yang dihiasi motif gorga menggunakan benang emas atau perak sehingga menghasilkan tampilan yang elegan dan bernilai tinggi.

Songket dengan motif tersebut banyak digunakan dalam berbagai acara adat, terutama acara pernikahan, di mana kain ini biasanya dikenakan oleh pengantin wanita maupun orang tua pengantin. Selain itu, kain tenun Tarutung juga sering dipadukan dengan kebaya untuk digunakan dalam acara formal maupun nonformal.

Dalam hal pemasaran, Frisca memanfaatkan berbagai cara untuk memperkenalkan hasil karyanya. Selain menjual secara langsung, ia juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.

Melalui akun Facebook "Fris Sihombing Songket Tarutung" serta Instagram @fris_sihombing, hasil tenun buatannya telah dipesan oleh pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, pesanan datang dari berbagai wilayah mulai dari Sabang hingga Merauke.

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru