Spektakuler..! Nader Mohammadi Assist Lempar Lembing dan Gol
Nader Mohammadi, Bek Iran dengan Assist Lempar Lembing hingga tercipta gol.
Sport 4 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Jakarta-Industri perdagangan daring di Indonesia tengah mengalami pergeseran besar. Setelah lebih dari satu dekade didominasi platform marketplace besar seperti Shopee serta kolaborasi TikTok Shop dan Tokopedia, kini muncul tren baru di kalangan pelaku usaha, yakni "keluar dari platform" dan berjualan secara mandiri melalui WhatsApp maupun situs web pribadi.
Perubahan ini dipicu meningkatnya biaya layanan marketplace yang dinilai semakin membebani penjual. Berdasarkan data pelaku usaha, biaya administrasi di platform e-commerce saat ini berkisar antara 5 hingga 12 persen per produk, tergantung kategori barang dan status keanggotaan penjual.
"Dulu kami terbantu subsidi ongkir, tetapi sekarang biaya layanan naik berkali-kali dalam setahun. Jualan barang Rp100 ribu, yang diterima bersih kadang kurang dari Rp85 ribu setelah dipotong berbagai biaya," ungkap salah satu pelaku UMKM di bidang fashion.
Baca Juga:
Seperti dilansir Asosiasi E-Commerce Indonesia dan Survei Pelaku UMKM Nasional, fenomena ini dikenal dengan strategi Direct-to-Consumer (D2C), yakni pola bisnis di mana penjual mengarahkan calon pembeli dari media sosial langsung ke kanal pribadi mereka.
Dengan cara tersebut, pelaku usaha dapat memperoleh keuntungan penuh tanpa potongan komisi, sekaligus memiliki kendali lebih besar terhadap data pelanggan dan strategi promosi.
Baca Juga:
Tidak hanya menguntungkan penjual, pola transaksi langsung juga dinilai memberi manfaat bagi konsumen. Harga barang berpotensi lebih murah karena tidak ada tambahan biaya untuk menutupi potongan layanan marketplace.
Meski demikian, peralihan ke sistem mandiri bukan tanpa tantangan. Tanpa adanya fitur jaminan transaksi seperti di marketplace, risiko penipuan menjadi kekhawatiran utama pembeli. Kepercayaan antara penjual dan konsumen kini menjadi faktor paling penting dalam proses transaksi.
Selain itu, pengelolaan pengiriman barang juga dinilai lebih rumit dan ongkos kirim cenderung lebih mahal. Hal itu disebabkan penjual tidak lagi menikmati fasilitas kerja sama logistik massal yang selama ini disediakan platform e-commerce besar.
Pakar ekonomi digital menilai fenomena ini bukan menandakan berakhirnya peran marketplace, melainkan menunjukkan pasar digital Indonesia yang semakin matang. Marketplace tetap dianggap efektif sebagai etalase untuk menjaring pelanggan baru, sementara kanal mandiri dimanfaatkan untuk menjaga hubungan dengan pelanggan setia.
Ke depan, ekosistem perdagangan daring diperkirakan akan berjalan dengan dua model yang saling melengkapi, yakni penggunaan marketplace sebagai sarana promosi dan kanal mandiri sebagai pusat transaksi utama bagi pelaku usaha yang ingin mempertahankan margin keuntungan. (TikTok)
Nader Mohammadi, Bek Iran dengan Assist Lempar Lembing hingga tercipta gol.
Sport 4 menit lalu
Tim Gabungan Ringkus 3 Tersangka Pungli di Jalan Masuk Pemandian Air Panas Doulu
Sumut 6 menit lalu
Residivis Curanmor di Medan Johor Ditangkap
Kriminal 21 menit lalu
Perempuan Nigeria Ajukan Cerai Sepekan Setelah Menikah karena Ukuran Penis Suami Terlalu Besar
Inter-Nasional 23 menit lalu
POSMETRO MEDAN,Medan Universitas Negeri Medan (Unimed) menggelar Kuliah Umum Kepemimpinan dengan tema Memimpin di Era Mesin Cerdas Memba
Medan 28 menit lalu
Anak Petani Asal Dairi Lolos Taruna Akmil Tahun 2026.
Profil 36 menit lalu
Respon Cepat Aduan Warga, Tim Macan Polres Pelabuhan Belawan Amankan Sajam dan Kendaraan dari Lokasi Perkelahian Massal
Medan 51 menit lalu
Wali Kota Medan Bebas Tugaskan Sementara Camat Medan Timur, Tindak Lanjuti Hasil Audit Khusus Inspektorat.
Medan 57 menit lalu
Dua Pelaku Pembuang Bayi Di Binjai Ditangkap Unit Pidum Polres Binjai.
Kriminal satu jam lalu
Pemeriksaan Kapolresta Banda Aceh Digaransi Profesional dan Transparan.
Peristiwa satu jam lalu