Kamis, 08 Oktober 2026
Catatan Redaksi Posmetro Medan

Jalanan, Risiko, dan Ketenangan Bagi Keluarga

Toga Nainggolan - Kamis, 21 Mei 2026 10:06 WIB
Jalanan, Risiko, dan Ketenangan Bagi Keluarga
Foto: Pemko Medan

Di hadapan para pengemudi ojek online yang memenuhi Gedung PKK Kota Medan, Rabu siang itu, Wali Kota Medan, Rico Waas, tampak berbicara dengan ritme yang hati-hati. Kata-katanya terasa ditenun dengan cermat. Tidak terdengar seperti pidato formal yang kaku. Ia seperti sedang memilih kata demi kata dengan penuh kesadaran, memahami benar siapa yang sedang duduk di depannya: orang-orang yang setiap hari menggantungkan hidup di jalanan, mengejar order, menerobos panas, hujan, kemacetan, dan segala kemungkinan yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Topik yang dibicarakan memang bukan perkara ringan. Tentang musibah, kecelakaan, bahkan yang paling buruk: kematian. Tentang risiko berkelahi dengan waktu di jalanan. Tentang pikiran akan kemungkinan terburuk yang sebenarnya selalu dibawa pulang diam-diam oleh para pejuang nafkah di jalanan itu setiap hari.

Karena itu, ketika atas nama Pemko Medan dia menyerahkan kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan kepada ribuan pengemudi ojek online, suasana acara tidak hanya terasa seremonial. Ada nuansa empati yang kuat di ruangan itu. Terlebih saat Rico Waas menyerahkan santunan kematian secara simbolis kepada keluarga salah seorang driver ojol yang telah berpulang.

Baca Juga:

Di titik itulah kehati-hatian Rico Waas dalam menyampaikan pesan terasa sangat penting. Ia tidak sedang ingin menakut-nakuti. Tidak pula ingin membuka luka atau memanggil kecemasan. Namun ia juga tidak ingin menutup mata terhadap kenyataan bahwa seberapa disiplin dan berhati-hatinya seseorang berkendara, risiko di jalan raya tetap tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.

"Di jalanan banyak hal yang tidak bisa kita prediksi. Kita sudah hati-hati, tapi bisa saja tertabrak karena kelalaian orang lain," ujarnya.

Baca Juga:

Kalimat itu meluncur tanpa nada menggurui. Justru terdengar seperti pengakuan jujur terhadap kerasnya kehidupan di jalan. Dan para pengemudi ojol yang mendominasi ruangan terlihat menerima dan memahami pesan tersebut dengan baik.

Rico Waas berkali-kali menegaskan bahwa program perlindungan sosial ini bukan berarti mengharapkan musibah terjadi. Sebaliknya, menurutnya, perlindungan diperlukan agar sebuah keluarga tidak langsung jatuh ke jurang kesulitan ketika tulang punggung mereka mengalami kecelakaan kerja atau meninggal dunia.

Ia kemudian mencontohkan santunan yang diterima keluarga almarhum Rajali, seorang driver ojol. Totalnya mencapai Rp 232 juta, terdiri atas santunan kematian dan beasiswa pendidikan untuk dua anak hingga perguruan tinggi.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin sekadar data. Namun bagi keluarga pekerja informal, jaminan semacam itu bisa menjadi pembeda antara mampu bertahan atau tenggelam dalam ketidakpastian ekonomi.

"Kalau kepala keluarga tidak ter-cover, bagaimana masa depan istri dan anak?" kata Rico Waas lagi.

Editor
: Faliruddin Lubis
Tags
beritaTerkait
Sapa Warga di Medan Selayang, Walikota Bawa Semua OPD Tindaklanjuti Keluhan Warga
RICO WAAS MULAI PROGRAM 1.000 LPJU MEDAN UTARA DAPAT 183 TITIK, TAHUN DEPAN DITARGETKAN 5.000
Tinjau Drainase Sei Asahan, Rico Waas Dorong Percepatan Penanganan Genangan
Rico Waas Tinjau Trotoar Adam Malik-HM Yamin, Pastikan Pekerjaan Sesuai Desain dan Spesifikasi
Rico Waas Ajak Warga Bersatu Bangun Kota Medan
250 Meter Jalan Dipaving, Dinas SDABMBK Kota Medan Benahi Akses Warga Gaperta Ujung
komentar
beritaTerbaru