Mobil PLN Hantam Tiang Listrik di Jalan Suprapto, Bagian Depan Hancur
Mobil PLN Hantam Tiang Listrik di Jalan Suprapto, Bagian Depan Hancur.
Medan 7 menit lalu
POSMETRO MEDAN,Beijing -- Seorang ayah di China menjadi sorotan publik setelah membagikan pengalaman putrinya yang menjalani hari sekolah hampir 14 jam setiap hari. Kisah ini viral di media sosial karena memperlihatkan betapa padatnya sistem pendidikan di China dibandingkan dengan di negara lain seperti Amerika Serikat dan Indonesia.
Dalam video yang diunggah di akun TikTok @sparkray, sang ayah bernama Ray mengaku terkejut ketika menyadari anaknya, Cindy, baru pulang sekolah pukul 20.45 setiap malam.
"Rasanya tidak masuk akal. Dalam sehari hanya ada 24 jam, dan 14 jam di antaranya ia habiskan di sekolah," kata Ray, dikutip dari Newsweek, Selasa (21/10/2025).
Rutinitas Sekolah yang Sangat Panjang
Dilansir dari Newsweek, kegiatan belajar siswa di China dimulai pukul 07.00 pagi dengan sesi membaca bersama, diikuti empat pelajaran utama masing-masing berdurasi 45 menit.
Setelah makan siang, siswa diberi waktu tidur siang selama satu jam sebelum kembali mengikuti pelajaran sore dan kegiatan ekstrakurikuler hingga malam.
Menurut Ray, jadwal sepadat ini sudah menjadi hal umum di banyak sekolah menengah di China. Bahkan, ketika ia masih menjadi pelajar, pola belajarnya pun tak jauh berbeda. "Di China, sangat umum bagi siswa SMP dan SMA untuk memiliki hari sekolah 14 jam," ujarnya.
Ia menambahkan, banyak orang tua mendukung sistem ini karena dianggap menanamkan disiplin, kerja keras, dan daya juang tinggi pada anak.
Namun, sistem ini juga mencerminkan budaya kompetitif yang sangat kuat di masyarakat China.
Tekanan Akademik dan Ujian Nasional
Beban belajar yang berat ini tidak lepas dari tekanan untuk berhasil dalam ujian masuk perguruan tinggi nasional atau Gaokao. Ujian tersebut menjadi faktor penentu masa depan siswa, karena hasilnya menentukan apakah mereka bisa masuk universitas bergengsi atau tidak.
Tak sedikit siswa yang mengikuti kelas tambahan di malam hari atau belajar mandiri hingga larut demi mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut.
Kondisi ini membuat banyak pengamat pendidikan menyoroti dampak negatif terhadap kesehatan mental dan keseimbangan hidup siswa, meskipun sistem tersebut terbukti menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik.
Beda Filosofi Pendidikan China, AS, dan Indonesia
Perbandingan sistem pendidikan antara China dan Amerika Serikat sudah lama menjadi topik diskusi global.
Dilansir dari The Atlantic, pendidikan di China menekankan ketekunan, kedisiplinan, dan hasil akademik, sedangkan sistem pendidikan di AS lebih berfokus pada kreativitas, inovasi, dan keseimbangan kehidupan belajar.
Di sekolah-sekolah AS, siswa biasanya pulang sekitar pukul 15.00, dan diberi waktu untuk berolahraga, berorganisasi, atau mengembangkan minat pribadi di luar kelas.
Pendekatan ini dianggap mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan berpikir kritis, meski dinilai kurang kompetitif dalam hal pencapaian akademik.
Sementara itu, Indonesia berada di tengah-tengah antara dua sistem tersebut. Rata-rata jam belajar siswa di Indonesia berkisar 6 hingga 8 jam per hari, tergantung jenjang dan kebijakan sekolah.
Melalui penerapan Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) berupaya menyeimbangkan aspek akademik dengan kesejahteraan mental dan karakter siswa.
Dilansir dari laman resmi kemdikbudristek.go.id, kurikulum ini menekankan pembelajaran yang fleksibel, kreatif, dan berpihak pada anak, bukan sekadar mengejar nilai.
Menemukan Titik Seimbang
Meski jam belajar panjang diyakini bisa membentuk kedisiplinan dan daya tahan siswa, keseimbangan tetap menjadi kunci penting dalam pendidikan. Terlalu banyak waktu di sekolah tanpa ruang beristirahat dan berekspresi bisa berdampak negatif terhadap motivasi belajar dan kesehatan mental anak.
Kisah Ray tentang putrinya di China menjadi refleksi bagi banyak negara, termasuk Indonesia, bahwa pendidikan berkualitas tidak selalu diukur dari lamanya waktu belajar, tetapi dari bagaimana proses belajar mampu menumbuhkan semangat, rasa ingin tahu, dan kebahagiaan siswa.
Indonesia bisa mengambil pelajaran dari dua ekstrem sistem pendidikan dunia: ketekunan dan etos kerja ala China, serta kreativitas dan keseimbangan hidup ala Amerika Serikat. Dengan memadukan keduanya, generasi muda Indonesia diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, berdaya saing tinggi, sekaligus bahagia dalam proses belajar.
(wan/kompas/bbs)
Mobil PLN Hantam Tiang Listrik di Jalan Suprapto, Bagian Depan Hancur.
Medan 7 menit lalu
POSMETRO MEDAN, Medan. Dua siswa MAN 1 Medan, Rafa Ruzain Ahmad dan Nazla Shakira Siregar, mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Pertu
Medan 2 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Medan Prestasi membanggakan kembali diraih Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Medan di tingkat nasional melalui inovasi di b
Inter-Nasional 3 jam lalu
Posmetro Medan, Karo Kasus pencurian disertai kekerasan yang menewaskan seorang dosen Institut Teknologi dan Bisnis (IT&B) Kabanjahe, Aspri
Peristiwa 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (DPC GRIB) Jaya Kota Medan menerima bantuan logistik berupa beras dar
Medan 9 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Lubuk Pakam Pemerintah Kabupaten Deli Serdang kembali menggelar Job Fair 2026 dengan melibatkan 30 perusahaan, sebagai up
Sumut 14 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Lubuk Pakam Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Kominfostan) Kabupaten Deli Serdang, Sandra D
Sumut 15 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Percut Sei Tuan Warga Dusun XVIII Persil, Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, menyambut penuh s
Sumut 15 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Langkat Aliansi Masyarakat dan Kontraktor Kabupaten Langkat bersama Badan Pengurus Cabang Gabungan Pelaksana Konstruksi N
Peristiwa 15 jam lalu
Polisi Bekuk Maling Kabel anti petir milik Stasiun Radio Pantai Sibolga.
Sumut 17 jam lalu