Kepada para undangan dan peserta konferensi, Saarani mengatakan bahwa Lenggong UGGp telah resmi menyandang pengakuan dari UNESCO melalui kekuatan lanskap geologi, kekayaan hayati, dan warisan arkeologi Lembah Lenggong yang bernilai sejarah hingga ratusan ribu tahun silam.
"Lenggong telah menggabungkan warisan arkeologi kelas dunia dengan geologi, kekayaan hayati, budaya, dan kehidupan masyarakat di kawasan yang menawarkan nilai-nilai edukasi, penelitian, dan wisata. Keterlibatan masyarakat merupakan pondasi dari usaha ini. Kehadiran para pengunjung nantinya akan menciptakan peluang bagi pengelola homestay, penyedia makanan, pembuat kerajinan, pengelola perjalanan, para pemandu wisata, UMKM, dan para anak muda, yang diharapkan semuanya terdiri dari warga lokal sendiri," katanya.
Baca Juga:
Yang cukup menarik dalam sesi presentasi para ahli adalah ketika studi geologi menjelaskan tentang sebaran material letusan gunung api purba Toba yang jejak abunya ditemukan secara signifikan di wilayah Lembah Lenggong, Malaysia.
Studi itu juga menjelaskan berbagai teori letusan gunung Toba dan bagaimana proses penyebaran debunya yang cenderung ke arah barat. Profesor Mokhtar dan Dr Dewarman berbagi peran dalam memaparkan peristiwa geologi yang mengubah wajah dunia 74.000 tahun lalu itu.
Baca Juga:
Bila Prof Mokhtar membahas dampak dan sebaran letusan gunung Toba sebagaimana temuan yang dia tunjukkan di Lembah Lenggong, maka Dr Dewarman mengajukan mekanisme letusan yang membentuk Kaldera Toba.
Kedua rekan geolog dari negara berbeda itu ternyata sama-sama jebolan UKM, yang juga sama-sama memberikan perhatian khusus pada sejarah letusan gunung Toba.
Dalam kesempatan ini, para praktisi geopark dan akademisi budaya diberikan kesempatan untuk berbagi konsep dan pengalaman dalam pengelolaan geopark. Dr Azizul Kholis selaku General Manager BP TC-UGGp mengusung judul presentasi "Keharmonisan Masyarakat Adat & Keberagaman Geo-Bio-Cultural".
Disusul oleh Penasihat JGI Farid Mohamad Zaini dan ahli kebudayaan Karo, Dr Jakmen Sinulingga dengan tema spesifik masing-masing. Farid menggugah para peserta dengan mengingatkan bahwa masyarakat lokal merupakan penjaga pertama kawasan geopark.
Pelestarian, menurutnya, tidak pernah lahir hanya dari regulasi, melainkan dari rasa memiliki terhadap tanah tempat kehidupan bertumbuh. Sedangkan Dr Jakmen menjelaskan pentingnya membangun jejaring geowisata lintas negara agar generasi muda memiliki ruang kolaborasi dalam mengembangkan inovasi berbasis warisan bumi.
Setelah menyelesaikan sesi konferensi, seluruh peserta dipandu untuk melakukan kunjungan lapangan (field trip). Objek kunjungan meliputi situs-situs geologi eksklusif dan cagar budaya prasejarah yang diakui dunia.
Tags
beritaTerkait
komentar