Bagi Perak sendiri, ini adalah pengalaman pertama terpilih menjadi tuan rumah bagi perhelatan yang terhormat ini. Membawa nama besar UNESCO, kegiatan empat hari ini berfokus pada diskusi yang berkisar pada pembangunan wisata geologi, dan konservasi warisan geologi.
Baca Juga:
Keduanya memerlukan suatu titik kompromi yang jelas agar kepentingan ekonomi dan konservasi dapat disandingkan dengan selaras.
Rangkaian pemaparan akademik dari Indonesia dan Malaysia juga membahas dengan tajam isu-isu tentang sustainable development, hak dan peran indigenous people (orang asli) dalam konservasi dan keterlibatan mereka dalam pengelolaan warisan geologi, isu kekayaan hayati, geotrails, and pemberdayaan sosial.
Baca Juga:

Sambutan kunci disampaikan oleh peneliti dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Profesor Emeritus Dato' Dr Ibrahim Komoo, yang mengetengahkan suatu paparan berjudul "Understanding Fundamental: Geotourism or Geological Tourism".
Dalam kesempatan tersebut, guru besar yang juga menjadi Wakil Ketua di UNESCO GGN Council ini mengulas kembali persoalan mendasar yang membedakan antara makna geotourism yang tidak mesti dilakoni oleh para geolog, dan makna geological tourism yang memang memerlukan penjelasan dari para ahli geologi.
Pembicara lainnya adalah Associate Professor Dr Mohd Roslan Rosnon, seorang antropolog dan ahli sosiologi dari Fakultas Ekologi Manusia, Universiti Putra Malaysia (UPM), dan Profesor Dr Robert Sibarani dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Adapun dari sisi geologi, hadir Profesor Dato' Dr Mokhtar Saidin, seorang peneliti geologi dan arkeologi, Dr Dewarman Sitompul, seorang ahli warisan geologi, dan Dr Rapidah Mat Stafa, seorang ahli konservasi geologi.
Sebelumnya, Menteri Besar (setara gubernur) Perak, Dato' Seri Saarani Mohamad, menyapa dan memberi sambutan kepada seluruh delegasi yang hadir pada kesempatan acara makan malam resmi dan pembukaan The 7th Geotourism Festival & International Conference 2026 di Hotel Impiana Ballroom.
Tags
beritaTerkait
komentar