KPAI menilai bahwa motif utama pembunuhan adalah dendam dan sakit hati yang terakumulasi. Al mengaku menyimpan kemarahan terhadap sikap sang ibu yang disebut temperamental dan kerap meluapkan emosi di rumah.
"Motif utamanya mengarah pada dendam atau sakit hati. Informasi yang kami peroleh, korban memang sering temperamen," ungkap Diyah.
Baca Juga:
Kondisi tersebut, menurut KPAI, menciptakan tekanan psikologis yang tidak mampu dikelola oleh pelaku.
Ledakan Emosi Anak yang Tak Terkelola
Baca Juga:
KPAI menganalisis bahwa pemicu utama tindakan parisida ini adalah kegagalan pelaku dalam meregulasi emosi. Al berada dalam konflik batin antara keinginan membela dan ketidakmampuan menerima situasi keluarga yang ia anggap tidak adil.
"Emosional ini muncul karena anak belum mampu mengelola perasaannya. Ada kebingungan batin, protes yang tidak tersalurkan, hingga akhirnya meledak," terang Diyah.
Fenomena Berulang, Bukan Kasus Tunggal
KPAI menegaskan bahwa kasus ini bukan yang pertama. Beberapa bulan sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di Jakarta Selatan, di mana seorang anak membunuh ayah dan neneknya.
"Kami pernah menangani kasus serupa di Jaksel. Pelakunya juga tampak ceria, normal seperti anak lain. Jadi ini peringatan keras bahwa parisida bisa terjadi di keluarga mana pun," kata Diyah.
Faktor Pemicu Parisida
Tags
beritaTerkait
komentar