Minggu, 17 Mei 2026

KPAI Bongkar Motif Sebenarnya Kasus Pembunuhan Faizah Soraya: Dendam Anak Berujung Parisida

Evi Tanjung - Jumat, 19 Desember 2025 19:13 WIB
KPAI Bongkar Motif Sebenarnya Kasus Pembunuhan Faizah Soraya: Dendam Anak Berujung Parisida
Ist
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini

POSMETRO MEDAN, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap fakta mengejutkan di balik kasus pembunuhan sadis terhadap Faizah Soraya yang dilakukan oleh anak kandungnya, Al. Usai rekonstruksi perkara, KPAI menegaskan bahwa peristiwa ini masuk dalam kategori parisida, yakni pembunuhan orangtua oleh anak.

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menyebut bahwa kasus ini bukan sekadar tindakan spontan membela anggota keluarga, melainkan dipicu akumulasi emosi dan luka batin yang lama terpendam.

"Kejadian ini adalah parisida, di mana korban adalah orangtua dan pelakunya anak. Ini fenomena serius yang tidak berdiri sendiri," ujar Diyah dalam tayangan YouTube tvOne News, Rabu (17/12/2025).

Baca Juga:

Bukan Sekadar Bela Kakak

Di awal penyelidikan, motif pembunuhan diduga karena Al kesal melihat kakaknya dimarahi korban pada Selasa malam sebelum kejadian. Namun, hasil pendalaman KPAI mengungkap fakta lebih dalam.

Baca Juga:

Menurut Diyah, Al mengaku tidak hanya membela kakaknya, tetapi juga membela ayahnya yang kerap menjadi sasaran kemarahan korban.

"Anak ini merasa tidak nyaman dengan perilaku ibunya yang sering marah-marah, terutama kepada kakaknya dan ayahnya. Itu yang membentuk sakit hati," jelas Diyah.

Pengakuan tersebut disampaikan Al kepada KPAD Medan dan KPAI sebelum pelaksanaan rekonstruksi.

Dendam dan Sakit Hati Jadi Motif Utama

KPAI menilai bahwa motif utama pembunuhan adalah dendam dan sakit hati yang terakumulasi. Al mengaku menyimpan kemarahan terhadap sikap sang ibu yang disebut temperamental dan kerap meluapkan emosi di rumah.

"Motif utamanya mengarah pada dendam atau sakit hati. Informasi yang kami peroleh, korban memang sering temperamen," ungkap Diyah.

Kondisi tersebut, menurut KPAI, menciptakan tekanan psikologis yang tidak mampu dikelola oleh pelaku.

Ledakan Emosi Anak yang Tak Terkelola

KPAI menganalisis bahwa pemicu utama tindakan parisida ini adalah kegagalan pelaku dalam meregulasi emosi. Al berada dalam konflik batin antara keinginan membela dan ketidakmampuan menerima situasi keluarga yang ia anggap tidak adil.

"Emosional ini muncul karena anak belum mampu mengelola perasaannya. Ada kebingungan batin, protes yang tidak tersalurkan, hingga akhirnya meledak," terang Diyah.

Fenomena Berulang, Bukan Kasus Tunggal

KPAI menegaskan bahwa kasus ini bukan yang pertama. Beberapa bulan sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di Jakarta Selatan, di mana seorang anak membunuh ayah dan neneknya.

"Kami pernah menangani kasus serupa di Jaksel. Pelakunya juga tampak ceria, normal seperti anak lain. Jadi ini peringatan keras bahwa parisida bisa terjadi di keluarga mana pun," kata Diyah.

Faktor Pemicu Parisida

KPAI mencatat sedikitnya empat faktor utama yang kerap melatarbelakangi kasus anak membunuh orangtua:

1. Ketidakstabilan emosi anak

2. Tekanan ekonomi

3. Minimnya dukungan sosial

4. Pola pengasuhan yang bermasalah

Kasus Faizah Soraya menjadi potret kelam kegagalan sistem perlindungan keluarga dan pengasuhan, yang berujung pada tragedi tak terbayangkan: seorang anak menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri.( Rel)

Tags
beritaTerkait
Rico Waas Tegaskan Medan Kota Harmoni dan Toleransi Dalam Perayaan Waisak 2570 BE
Tahanan Titipan Polsek Air Batu Meninggal di Lapas Labuhan Ruku
Wagub Sumut Apresiasi Persetujuan Ranperda Perubahan Status PD AIJ Menjadi PT AIJ
Rico Waas: Perempuan Medan Penggerak Perubahan
Airin Rico Waas Dorong Peran Sektor Swasta Tekan Angka Zero Dose Imunisasi di Medan
Sambut Tim Supervisi PKK Sumut, Airin Rico Waas Paparkan Kesiapan Medan di HKG PKK 2026
komentar
beritaTerbaru