Kamis, 12 Februari 2026

Ketika Game Online Berujung Tragedi: Di Mana Negara dan Orang Tua?

Evi Tanjung - Selasa, 06 Januari 2026 21:54 WIB
Ketika Game Online Berujung Tragedi: Di Mana Negara dan Orang Tua?
ist
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumatera Utara, Muniruddin Ritonga SH, I, M Ag

POSMETRO MEDAN, Medan -

Sebuah tragedi di Kecamatan Medan Sunggal beberapa waktu lalu mengguncang kesadaran publik. Seorang anak, masih berusia belasan tahun, tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri. Fakta yang terungkap kemudian membuat banyak pihak terhenyak, amarah sang anak dipicu oleh dihapusnya sebuah game online dari gawai miliknya.

Peristiwa itu menjadi alarm keras bagi Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumatera Utara, Muniruddin Ritonga SH, I, M Ag Ia menilai, kasus tersebut bukan sekadar persoalan kriminal, melainkan potret rapuhnya psikologi anak di tengah arus digital yang tak terkendali.

"Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada pola. Salah satu faktor yang memengaruhi psikologi anak melakukan kekerasan itu adalah game yang dimainkan," kata Muniruddin, Selasa, (6/1/2026) melalui pesan WA-nya

Kekerasan Virtual, Dampak Nyata junior

Menurut Muniruddin, dunia digital kerap dianggap ruang aman bagi anak. Padahal, banyak gem daring menyuguhkan narasi agresi, kekerasan, dan dominasi, yang tanpa disadari membentuk cara berpikir anak- terutama pada usia rentan.

"Anak berusia 12 tahun itu menunjukkan pola pikir yang terindikasi kekerasan. Ia bertindak di luar kapasitas usianya. Ini tidak lepas dari apa yang dikonsumsinya secara digital," ujarnya.

Bagi Munir, tragedi Medan Sunggal hanyalah satu contoh nyata dari dampak yang selama ini kerap diabaikan. Ia menegaskan, pengaruh game online terhadap psikologi anak bukan lagi asumsi, melainkan fakta sosial yang kini hadir di tengah masyarakat Sumatera Utara dan Indonesia.

Negara, Orang Tua, dan Tanggung Jawab Bersama

Muniruddin menilai, persoalan ini tidak bisa dibebankan semata kepada keluarga korban. Ia mendesak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mengambil langkahin strategis dan konkret guna mencegah kejadian serupa.

"Kita tidak boleh menormalisasi game yang mengandung unsur kekerasan seolah-olah itu hal biasa. Ini harus disikapi serius," tegasnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat, terutama dalam pengawasan aktivitas digital anak- sebuah wilayah yang selama ini kerap luput dari perhatian kebijakan publik.

Peringatan yang Datang Terlambat?

Sebagai Anggota DPRD Sumut dari Fraksi PKB sekaligus anggota Komisi B, Muniruddin mengaku tragedi ini bukan sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan baginya. Ia menyebut, sejak 2016, dirinya bersama almarhum Aris Merdeka Sirait, mantan Ketua Komnas Perlindungan Anak, telah memperingatkan bahaya besar di balik laju teknologi digital.

"Kami sudah bicara tentang tsunami teknologi sejak lama. Kalau orang tua tidak dibekali pemahaman digital yang cukup, mereka akan kalah cepat dari perkembangan teknologi. Dan hari ini, kekhawatiran itu menjadi kenyataan," katanya.

Kala itu, mereka mendorong gerakan perlindungan anak berbasis kampung dan desa, sebagai benteng pertama menghadapi dampak teknologi terhadap tumbuh kembang anak.(erni)

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru