Mengurangi kebiasaan balas dendam setelah seharian berpuasa membantu tubuh bekerja lebih ringan. Tubuh yang terjaga keseimbangannya membuat pikiran lebih jernih dan hati lebih stabil. Ramadan bukan ajang pelampiasan selera, melainkan latihan mengendalikan diri, termasuk dalam urusan makan.
Ketika tubuh dirawat dengan baik, ibadah pun terasa lebih khusyuk. Energi cukup, fokus terjaga, dan suasana hati lebih terkendali.
Baca Juga:
3.Menjaga Lisan dan Respons, Bukan Hanya Menahan Lapar
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Tantangan yang lebih besar sering kali justru terletak pada menjaga sikap. Emosi lebih mudah terpancing ketika tubuh lelah dan energi menurun.
Baca Juga:
Ramadan adalah latihan pengendalian diri. Bukan hanya soal apa yang masuk ke tubuh, tetapi juga apa yang keluar dari mulut. Setiap kali muncul dorongan untuk membalas dengan nada tinggi, berhenti sejenak. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri, apakah respons ini perlu atau hanya luapan sesaat.
Menjaga lisan membuat hati lebih ringan. Tidak ada penyesalan karena ucapan yang menyakiti, tidak ada beban karena konflik yang sebenarnya bisa dihindari. Ketika hubungan dengan orang lain lebih tenang, jiwa pun ikut terasa damai.
Kedamaian sering kali tumbuh dari pilihan sederhana: memilih diam ketika tidak perlu berbicara, memilih lembut ketika bisa saja bersikap keras.
4.Mengurangi Distraksi dan Memilih Asupan yang Sehat untuk Pikiran
Selain menjaga asupan makanan, penting juga menjaga asupan pikiran. Ramadan sering identik dengan peningkatan ibadah, tetapi tanpa disadari waktu banyak tersita oleh hal-hal yang kurang perlu. Terlalu lama berselancar di media sosial, mengikuti perdebatan yang tidak penting, atau membandingkan diri dengan orang lain bisa membuat hati gelisah.
Cobalah mengurangi distraksi digital, terutama yang tidak memberi nilai tambah. Batasi waktu layar dan gunakan sebagian waktu itu untuk membaca hal yang menenangkan, mendengarkan kajian yang menyejukkan, atau sekadar merenung.
Tags
beritaTerkait
komentar