Kamis, 19 Februari 2026

5 Kebiasaan Baik agar Jiwamu Lebih Damai

Evi Tanjung - Kamis, 19 Februari 2026 14:13 WIB
5 Kebiasaan Baik agar Jiwamu Lebih Damai
ist

POSMETROMEDAN,Medan - Ramadan selalu datang dengan harapan baru. Ada keinginan untuk menjadi lebih tenang, lebih sabar, dan lebih dekat dengan hal-hal yang memberi makna. Hanya saja terkadang bulan suci ini sering tetap diwarnai dengan kesibukan, tuntutan pekerjaan, urusan keluarga, hingga target pribadi yang tidak sedikit. Akhirnya, Ramadan terasa berlalu begitu saja tanpa benar-benar menghadirkan kedamaian yang diharapkan.

Padahal, kedamaian jiwa bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membangun ulang pola hidup dan pola batin agar lebih tertata. Bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih sadar.

Berikut lima kebiasaan baik yang bisa membantu Ramadan tahun ini terasa lebih damai dan bermakna.

Baca Juga:

1. Memulai Hari dengan Niat dan Hening Sejenak

Banyak orang memulai hari dengan terburu-buru. Setelah sahur, langsung kembali tidur atau segera bersiap mengejar aktivitas. Padahal, beberapa menit setelah Subuh adalah waktu yang sangat berharga untuk menata hati.

Baca Juga:

Cobalah duduk sejenak dalam keheningan. Tidak perlu lama, lima hingga sepuluh menit pun cukup. Gunakan waktu itu untuk menguatkan niat, mengingat tujuan berpuasa, dan menyadari bahwa hari ini adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik. Hening yang singkat namun sadar sering kali jauh lebih menenangkan daripada rutinitas panjang tanpa arah.

Kebiasaan ini melatih batin agar tidak reaktif. Ketika siang hari terasa melelahkan, hati yang sudah ditata sejak pagi cenderung lebih stabil. Kedamaian bukan muncul karena masalah hilang, tetapi karena hati sudah siap menghadapinya.

2. Mengatur Asupan Makanan agar Tubuh Lebih Seimbang

Kedamaian jiwa sangat berkaitan dengan kondisi tubuh. Saat tubuh terasa terlalu lelah, kembung, atau kekurangan nutrisi, emosi lebih mudah naik turun. Karena itu, mengatur asupan makanan selama Ramadan menjadi kebiasaan penting yang sering diremehkan.

Saat sahur, pilih makanan yang memberi energi tahan lama seperti karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah. Hindari terlalu banyak makanan manis atau berminyak yang membuat tubuh cepat lemas. Begitu juga saat berbuka, tidak perlu berlebihan. Berbuka secukupnya, lalu lanjutkan dengan makanan utama yang seimbang.

Mengurangi kebiasaan balas dendam setelah seharian berpuasa membantu tubuh bekerja lebih ringan. Tubuh yang terjaga keseimbangannya membuat pikiran lebih jernih dan hati lebih stabil. Ramadan bukan ajang pelampiasan selera, melainkan latihan mengendalikan diri, termasuk dalam urusan makan.

Ketika tubuh dirawat dengan baik, ibadah pun terasa lebih khusyuk. Energi cukup, fokus terjaga, dan suasana hati lebih terkendali.

3.Menjaga Lisan dan Respons, Bukan Hanya Menahan Lapar

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Tantangan yang lebih besar sering kali justru terletak pada menjaga sikap. Emosi lebih mudah terpancing ketika tubuh lelah dan energi menurun.

Ramadan adalah latihan pengendalian diri. Bukan hanya soal apa yang masuk ke tubuh, tetapi juga apa yang keluar dari mulut. Setiap kali muncul dorongan untuk membalas dengan nada tinggi, berhenti sejenak. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri, apakah respons ini perlu atau hanya luapan sesaat.

Menjaga lisan membuat hati lebih ringan. Tidak ada penyesalan karena ucapan yang menyakiti, tidak ada beban karena konflik yang sebenarnya bisa dihindari. Ketika hubungan dengan orang lain lebih tenang, jiwa pun ikut terasa damai.

Kedamaian sering kali tumbuh dari pilihan sederhana: memilih diam ketika tidak perlu berbicara, memilih lembut ketika bisa saja bersikap keras.

4.Mengurangi Distraksi dan Memilih Asupan yang Sehat untuk Pikiran

Selain menjaga asupan makanan, penting juga menjaga asupan pikiran. Ramadan sering identik dengan peningkatan ibadah, tetapi tanpa disadari waktu banyak tersita oleh hal-hal yang kurang perlu. Terlalu lama berselancar di media sosial, mengikuti perdebatan yang tidak penting, atau membandingkan diri dengan orang lain bisa membuat hati gelisah.

Cobalah mengurangi distraksi digital, terutama yang tidak memberi nilai tambah. Batasi waktu layar dan gunakan sebagian waktu itu untuk membaca hal yang menenangkan, mendengarkan kajian yang menyejukkan, atau sekadar merenung.

Pikiran yang terlalu penuh dengan informasi tidak selalu membuat hati kaya. Justru sering membuat batin lelah. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menyederhanakan asupan mental. Pilih yang membangun, tinggalkan yang memicu kecemasan dan iri hati.

Ketika pikiran lebih jernih, ibadah pun terasa lebih fokus. Hati lebih mudah tersentuh oleh makna dan tidak mudah goyah oleh hal-hal kecil.

5.Membiasakan Refleksi dan Tindakan Baik Secara Konsisten

Salah satu kebiasaan yang jarang dilakukan adalah refleksi diri secara rutin. Padahal, tanpa evaluasi, seseorang mudah mengulang kesalahan yang sama. Sebelum tidur, luangkan waktu beberapa menit untuk bertanya: Apa yang sudah dilakukan dengan baik hari ini? Di bagian mana emosi kurang terjaga? Apa yang bisa diperbaiki esok hari?

Refleksi bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk belajar. Akui kekurangan dengan jujur, lalu niatkan perbaikan secara bertahap.

Selain refleksi, perbanyak tindakan baik yang sederhana dan konsisten. Memberi perhatian pada keluarga, membantu rekan kerja tanpa diminta, atau sekadar mendengarkan dengan sungguh-sungguh adalah bentuk ibadah yang sering dianggap kecil, padahal dampaknya besar bagi ketenangan hati.

Banyak orang mencari ketenangan dengan cara yang rumit. Padahal, sering kali ketenangan lahir dari kesediaan untuk berbuat baik tanpa pamrih. Hati yang terbiasa memberi tidak mudah dikuasai rasa kurang.

Ramadan bukan sekadar momen menahan diri, tetapi kesempatan membangun ulang fondasi batin. Kedamaian jiwa tidak datang dari suasana luar yang selalu ideal, melainkan dari dalam diri yang terlatih.

Memulai hari dengan niat yang jernih, mengatur asupan makanan dengan bijak, menjaga lisan, mengurangi distraksi, serta membiasakan refleksi dan kebaikan sederhana adalah langkah nyata yang bisa dilakukan siapa saja. Tidak membutuhkan perubahan besar sekaligus. Cukup konsisten dalam hal-hal kecil.

Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya memperbaiki rutinitas, tetapi juga menenangkan jiwa. Ketika tubuh terjaga, pikiran lebih bersih, dan hati lebih terarah, Ramadan akan terasa lebih dalam dan bermakna.(fem/red)

Tags
beritaTerkait
Lapas Muara Bungo Sosialisasikan Mekanisme Kunjungan dan Ibadah Selama Ramadhan
Awal Ramadhan 2026 Berbeda, Rico Waas:Jaga Kualitas Ibadah serta Saling Menghormati
Sambut Ramadhan 1447 Hijriah, Pemerhati Sosial M. Arif Tanjung Rajut Silaturahmi Bersama Insan Pers ‎
Pasar Murah Ramadhan Medan 2026: Antara Kebijakan Pro-Rakyat dan Bayang-Bayang Mafia Pangan
Anggota DPRD Kota Medan Minta PLN tak Padam  saat Bulan Ramadhan
Tips Diet saat Puasa Ramadhan, Perhatikan Asupan Makan Sahur dan Buka
komentar
beritaTerbaru