"Ironisnya, di tengah tingginya potensi kriminalitas ini, kawasan perbatasan tersebut justru gelap gulita pada malam hari karena minimnya fasilitas Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU)," bebernya.
"Kami seperti dibiarkan tanpa perlindungan. Aparatur di bawah Pemko Medan, mulai dari Camat Medan Helvetia hingga Lurah Tanjung Gusta, seolah menutup mata dengan kondisi ril di lapangan," kata salah satu warga yang identitasnya tidak ingin disebutkan.
Baca Juga:
"Kami menuntut komitmen Rico Waas, perbatasan adalah wajah kota sebagai wilayah perbatasan yang menjadi gerbang masuk dan "candradimuka" Kota Medan, kami (warga) mendesak Wali Kota Rico Waas dan jajarannya untuk segera turun ke lapangan dan melakukan pembenahan total," tegas warga itu.
Warga menuntut tiga tindakan nyata Infrastruktur, di antaranya:infrastruktur: pembangunan saluran drainase baru yang terintegrasi ke Sungai Bedera, serta pengerukan pendangkalan.
Baca Juga:
Fasilitas umum: pemasangan lampu penerangan jalan (LPJU) di titik-titik rawan untuk menekan ruang gerak pelaku kejahatan.
Keamanan: peningkatan patroli dari pihak berwajib dan ketegasan aparatur wilayah (Camat dan Lurah) dalam menjaga ketertiban umum dari teror begal dan geng motor.
Warga berharap Pemko Medan tidak tebang pilih dalam melakukan pembangunan, karena masyarakat perbatasan juga memiliki hak yang sama untuk hidup dengan aman, nyaman, dan normal.(RIZ)
Tags
beritaTerkait
komentar