Minggu, 27 September 2026
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta

Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

Faliruddin Lubis - Senin, 10 Agustus 2026 13:12 WIB
Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026
IST
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta.

Pertunjukan semakin kuat melalui sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait. Musik pengiring menggunakan gaya sinandong lama, dengan kekayaan instrumen tradisional Melayu seperti gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, dan gong.

Perpaduan gerak, suara, musik, properti, busana, serta suasana ritus menjadikan "Dayang Nan Tujuh" bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah perjalanan imajinatif menuju ruang kebudayaan Melayu Deli yang lebih tua dan dalam.

Baca Juga:

Ketika Tari Melayu Menjadi Ruang Sakral

Pertunjukan tersebut dipimpin oleh M. Muhar Omtatok, yang sekaligus menjadi narasumber dan penulis sinandong. Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sedangkan tata musik digarap Zumaidi Abdullah. Dari Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, mendukung aktif dari pra pertunjukan hingga pertunjukan.

Baca Juga:

Respons penonton dan para pelaku seni terhadap pertunjukan itu menjadi catatan tersendiri. Seusai acara, sejumlah pakar tari dan seni pertunjukan berkumpul dan membicarakan "Dayang Nan Tujuh". Mereka mengaku menemukan sesuatu yang jarang hadir dalam pertunjukan Melayu kontemporer: dimensi sakral yang terasa utuh dan meyakinkan.

Selama ini, sebagian penonton dan pemerhati seni lebih sering berhadapan dengan tari Melayu dalam bentuk pertunjukan yang bersifat hiburan. "Dayang Nan Tujuh" justru membuka kemungkinan lain: menghadirkan tari Melayu sebagai medium untuk membaca kembali hubungan manusia, alam, leluhur, dan ruang kosmologis.

Salah seorang yang memberikan respons emosional positif adalah Elly D. Luthan, koreografer senior yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, Elly mengungkapkan kekagumannya.

"Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini."

Pernyataan tersebut menjadi semacam penegasan bahwa kekuatan "Dayang Nan Tujuh" tidak semata-mata terletak pada keindahan koreografi atau kemerduan musiknya. Lebih jauh, pertunjukan ini berhasil menghadirkan atmosfer kebudayaan, sebuah pengalaman yang membuat penonton seolah tidak sedang menyaksikan tari, melainkan sedang memasuki kembali ruang ingatan kolektif masyarakat Melayu Kota Medan.

Tags
beritaTerkait
Personel Sat Lantas Polres Dairi Gugur Saat Bertugas di Lokasi Kebakaran Sidikalang
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Putra Sang Proklamator yang Keluar dari Politik dan Menepi di Dunia Seni
250 Meter Jalan Dipaving, Dinas SDABMBK Kota Medan Benahi Akses Warga Gaperta Ujung
Rico Waas: Pembangunan 31 Puskesmas Harus Diikuti Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Zakiyuddin Tegaskan Kontraktor Wajib Rawat Medan Islamic Centre hingga Maret 2027
Dandema Pasmar 1 Pimpin Upacara Pemakaman Militer
komentar
beritaTerbaru