Senin, 10 Agustus 2026
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta

Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

Faliruddin Lubis - Senin, 10 Agustus 2026 13:12 WIB
Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026
IST
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta.

Pertunjukan semakin kuat melalui sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait. Musik pengiring menggunakan gaya sinandong lama, dengan kekayaan instrumen tradisional Melayu seperti gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, dan gong.

Perpaduan gerak, suara, musik, properti, busana, serta suasana ritus menjadikan "Dayang Nan Tujuh" bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah perjalanan imajinatif menuju ruang kebudayaan Melayu Deli yang lebih tua dan dalam.

Baca Juga:

Ketika Tari Melayu Menjadi Ruang Sakral

Pertunjukan tersebut dipimpin oleh M. Muhar Omtatok, yang sekaligus menjadi narasumber dan penulis sinandong. Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sedangkan tata musik digarap Zumaidi Abdullah. Dari Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, mendukung aktif dari pra pertunjukan hingga pertunjukan.

Baca Juga:

Respons penonton dan para pelaku seni terhadap pertunjukan itu menjadi catatan tersendiri. Seusai acara, sejumlah pakar tari dan seni pertunjukan berkumpul dan membicarakan "Dayang Nan Tujuh". Mereka mengaku menemukan sesuatu yang jarang hadir dalam pertunjukan Melayu kontemporer: dimensi sakral yang terasa utuh dan meyakinkan.

Selama ini, sebagian penonton dan pemerhati seni lebih sering berhadapan dengan tari Melayu dalam bentuk pertunjukan yang bersifat hiburan. "Dayang Nan Tujuh" justru membuka kemungkinan lain: menghadirkan tari Melayu sebagai medium untuk membaca kembali hubungan manusia, alam, leluhur, dan ruang kosmologis.

Salah seorang yang memberikan respons emosional positif adalah Elly D. Luthan, koreografer senior yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, Elly mengungkapkan kekagumannya.

"Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini."

Pernyataan tersebut menjadi semacam penegasan bahwa kekuatan "Dayang Nan Tujuh" tidak semata-mata terletak pada keindahan koreografi atau kemerduan musiknya. Lebih jauh, pertunjukan ini berhasil menghadirkan atmosfer kebudayaan, sebuah pengalaman yang membuat penonton seolah tidak sedang menyaksikan tari, melainkan sedang memasuki kembali ruang ingatan kolektif masyarakat Melayu Kota Medan.

Tags
beritaTerkait
Rico Waas Dorong IPSM Medan Jadi Mitra Strategis Pemerintah dan Turun Tangani Persoalan Sosial Warga
Siswi MTsN 3 Medan Wakili Kota Medan pada Jambore Nasional XII Cibubur
Ratusan Senjata dan Amunisi Ditemukan di Ruang Eks Ketua Yayasan Sekolah, Ada Juga Narkoba dan CD Porno
Duta Genre Terpilih Harus Jadi Penggerak Remaja, Rico Waas: Jangan Hanya Aktif Saat Ada Acara
Kepala Dinas Perkimcikatira Kota Medan, Dampingi Walikota Medan Tinjau Sekolah Rakyat
Kadis SDABMBK Dampingi Walikota Medan Tinjau Sekolah Rakyat di Tuntungan
komentar
beritaTerbaru