"Jam 2 dini hari sering ada begal dan geng motor. Larinya ke arah sungai, sebelum batas Medan Barat dan Medan Helvetia," katanya.
Menanggapi itu, Calvijn menyebut "rayap besi" bukan kasus kecil.
Baca Juga:

Baca Juga:
"Ternyata ini bisnis. 1 kg besi ada nilainya. Mereka jual ke penadah untuk beli narkoba. Lalu, mengulanginya, ini lingkaran setan," tegasnya.
Ia meminta penadah dipastikan tidak menerima barang curian, agar mata rantai kejahatan terputus.
Keluhan serupa datang dari Budi Zul Adha, Sekretaris MUI Helvetia. Ia menyoroti pencurian besi makam di Makam Islam Makla 1-6 dan tiang listrik di Tj. Gusta.
"Siang aman, kalau malam ada kendaraan ngebut, knalpot blong. Besi di makam pada berhilangan, ziarah itu siang hari Pak, bukan malam. Dua tiang listrik hilang tak berjejak," ujarnya.
Calvijn menyebut fenomena ini juga terjadi di Belawan, Marelan, dan Mabar.
"Bahkan ada pelaku simpan sabu di kuburan belakang rumahnya sendiri. Ini bukan Roro Jonggrang. Malam tidur, besok bangun, hilang semua," ucapnya disambut tawa warga.

Ia menegaskan ini bukan tugas polisi saja, tapi harus sinergi dengan Camat, Danramil, dan masyarakat.
"Curhat warga ini substansinya inti persoalan yang disampaikan dengan pola unik, tidak terlalu formil tapi penuh keharmonisan," kata Calvijn.
Tags
beritaTerkait
komentar