Sofyan Tan mengatakan, antara pemain depan dan belakang tidak ada yang lebih hebat, semuanya memiliki kontribusi yang sama. Mereka harus punya irama yang sehati.
Pemain di belakang bahkan bisa merasakan gerakan teman di depannya tanpa melihat langsung. "Ini membuktikan bahwa bermain barongsai melatih kepekaan hati dan empati untuk memahami orang lain," ungkapnya.
Baca Juga:
Berangkat dari nilai kepekaan tersebut, Sofyan Tan menyampaikan pesan moral mendalam kepada seluruh peserta yang hadir. Ia mengingatkan bahwa tantangan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan figur pemimpin yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga memiliki kelembutan hati untuk merangkul masyarakat.
Menurutnya orang pintar saja tidak akan otomatis sukses atau bisa menjadi pemimpin hebat. Namun, orang pintar yang memiliki kepekaan rasa, punya empati, dan sanggup merasakan penderitaan orang lain, itulah sosok yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan.
Baca Juga:
Mengakhiri sambutannya, Sofyan Tan menyampaikan terima kasih mendalam kepada Kemenpora RI, FOBI Sumut, pihak perguruan tinggi, para pelatih, serta seluruh siswa peserta dari lima sekolah yang tampil penuh semangat.
Ia berharap ajang ini dapat terus memicu semangat pemuda untuk melestarikan tradisi budaya sekaligus mengukir prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan negara.
Dalam atraksinya, kelima barongsai tampak meliuk-liuk melompat kesana kemari dengan lincah. Barongsai yang diisi atlet dari 5 sekolah tersebut juga mencoba berinteraksi langsung ke pengunjung yang menyaksikan dengan menaiki anak tangga satu persatu melewati kerumunan peserta yang hadir.
Sejumlah orang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merekam dan berfoto dari dekat dengan sejumlah barongsai. Ada juga peserta yang terlihat sedikit gugup dan ketakutan ketika dihampiri barongsai naik ke atas.(REL/*)
Tags
beritaTerkait
komentar