Ultah Unik ala Marandus Sirait dalam Peringatan HLH
Ultah unik ala Marandus Sirait dalam perringatan Hari Lingkungan Hidup.
Global 4 jam lalu
POSMETRO MEDAN, MEDAN -
Jalan Imam Bonjol kembali berubah jadi panggung kemarahan. Kamis siang (28/8/2025) pukul 13.00 WIB, giliran Aliansi Mahasiswa Universitas Nomensen Medan yang menyalakan api perlawanan di depan gedung DPRD Sumatera Utara. Tanpa tameng, tanpa pentungan, hanya berbekal toa, spanduk, dan suara serak, mereka menuntut agar gedung megah itu kembali mendengar denyut rakyat.
Di antara terik dan keringat, spanduk-spanduk mereka berkibar,
Baca Juga:
"Tikus Kantor, DPR Tidak Merakyat, Mereka Menyayat."
"Kami Butuh Perubahan, Bubarkan DPR."
Hingga sindiran pedas, "Info Loker. Kerja Joget-Joget Gaji 3 Juta/Hari #RIPDPR."
Nyanyian mahasiswa menjelma orkestra jalanan. Mereka berteriak lantang, "DPR jolma doho? sindiran dalam bahasa Batak yang menggugat kemanusiaan para wakil rakyat. Sebuah spanduk lain berbunyi, "Kerja pontang-panting hanya untuk bayar pajak," menyayat logika, rakyat bekerja keras, tapi hasilnya justru menghidupi kemewahan elite.
Namun dari balik pagar tinggi itu, sunyi yang menjawab.
Hingga pukul 16.35 WIB, tak seorang pun anggota DPRD Sumut keluar menemui mereka. Ketua DPRD Sumut, Erni Ariyanti Sitorus SH MKn, tetap bertahan di ruang rapat ber-AC. Diamnya gedung DPRD seolah jadi simbol jurang, rakyat berteriak di jalan, wakil rakyat bersembunyi dalam kenyamanan dingin mesin pendingin.
Hari ketiga ini menegaskan pola, mahasiswa bersuara, DPRD memilih bungkam. Yang satu mendesak perubahan, yang lain menutup pintu. Ketidakhadiran para legislator, terutama ketuanya, bukan sekadar soal protokol. Ia menjadi simbol ketidakpedulian bahwa wakil rakyat hanya hadir untuk seremoni, bukan untuk mendengar rakyat kecil.
Orasi yang awalnya bernada tuntutan berubah jadi satire getir. Nyanyian protes melebur dengan doa-doa sinis. "Lebih baik kami bicara pada Tuhan, karena wakil rakyat kami tidak mendengar," ucap seorang mahasiswa, menyalakan tawa getir di kerumunan.
Di hadapan aparat kepolisian yang berjaga dengan barikade, mahasiswa hanya membawa tangan kosong yang menggenggam spanduk. Tak ada kekerasan fisik yang meledak, tapi kekerasan simbolik justru lebih terasa, ketika rakyat diabaikan, ketika jeritan tak digubris, ketika perwakilan rakyat menutup telinga dan hati.
Dalam tradisi demokrasi, abainya wakil rakyat terhadap suara rakyat adalah luka paling dalam. Ia mungkin tidak meninggalkan lebam di tubuh, tapi menorehkan parut di nurani bangsa.
Hari ini, di bawah langit Medan, mahasiswa bernyanyi, sementara Ketua DPRD Sumut memilih diam.(erni)
Ultah unik ala Marandus Sirait dalam perringatan Hari Lingkungan Hidup.
Global 4 jam lalu
POSMETRO MEDAN Pimpinan Cabang Majelis Taklim dan Dzikir Al Haura Batubara mengelar acara pelantikan Majelis Taklim dan Dzikir Al Haura Kec
Sumut 6 jam lalu
POSMETRO MEDAN,Medan Polda Sumut resmi memulai Operasi Kepolisian Kewilayahan ASEAN U19 Toba 2026 dengan menggelar Apel Gelar Pasukan di
Medan 7 jam lalu
POSMETRO MEDAN,DELISERDANG Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Bobby Afif Nasution, memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasi
Medan 7 jam lalu
POSMETRO MEDAN, Deli Serdang Polresta Deli Serdang menggelar Apel Pergeseran Pasukan dalam rangka Pengamanan Pemilihan Kepala Desa (Pilkade
Sumut 7 jam lalu
Meksiko Salah Satu Kuda Hitam Piala Dunia 2026, Berikut Daftar Skuadnya.
Sport 8 jam lalu
Gedung Baru Rumah Aspirasi Sofyan Tan Diresmikan, Targetkan Pelayanan Pendidikan Lebih Luas.
Medan 9 jam lalu
Sejak 1 Juli 2026 pemerintah melindungi masyarakat dari penipuan digital, Registrasi SIM Biometrik.
Lifestyle 12 jam lalu
Patroli Blue Light Polsek Sunggal, Berikan Rasa Aman Dan Nyaman Kepada Warga.
Medan 12 jam lalu
Skuad Aljazair di Piala Dunia 2026, Lini Serang Diperkuat Houssem Aouar dan Amine Gouiri.
Sport 12 jam lalu