Di kawasan prioritas itu, Polri dapat berkoordinasi intensif dengan pengurus rumah ibadah, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan perangkat lingkungan untuk menyusun kegiatan sesuai kebutuhan setempat. Rumah ibadah dan lingkungan prioritas kedua dapat menjadi sasaran secara berkala atau acak, dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan warga.
Menurut Zulfan, tiap wilayah memiliki karakteristik berbeda sehingga programnya tidak harus seragam. Perencanaan perlu menyesuaikan kondisi sosial, tingkat kerawanan, ketersediaan sumber daya, dan aspirasi masyarakat. Ia juga menyarankan evaluasi berkala untuk mengukur efektivitas program, mulai dari tingkat partisipasi warga, kualitas komunikasi Polri dengan masyarakat, kebersihan lingkungan, hingga perkembangan gangguan kamtibmas.
Dari Kedekatan Menjadi Gerakan Berkelanjutan
Zulfan berharap langkah Kapolri mendatangi rumah ibadah menjadi momentum memperkuat pendekatan humanis kepolisian secara berkelanjutan. Baginya, kehadiran polisi dalam kegiatan keagamaan adalah awal yang baik, tetapi nilai strategisnya akan lebih besar bila dilanjutkan dengan program nyata yang menyentuh kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat.
"Polri Gemilang diharapkan menjadi gerakan bersama yang menghubungkan rumah ibadah, lingkungan, keamanan, kerukunan antarumat beragama, dan kepedulian terhadap alam. Dengan semangat Polri bersama masyarakat, kita ingin mewujudkan lingkungan yang aman, damai, rukun, bersih, dan cemerlang," tutupnya.
Ia berharap gagasan ini dapat menjadi bahan pertimbangan jajaran Polri untuk mengembangkan kegiatan keagamaan dan sosial menjadi gerakan kemasyarakatan yang terencana, inklusif, dan berkelanjutan demi situasi kamtibmas yang kondusif.
Tags
beritaTerkait
komentar