Maling Makin Merajalela di Balige, 2 Pekan, 4 Unit Rumah Dibobol
Empat rumah di Balige dibobol maling selama 2 pekan, warga resah minta polisi segera menangkap pelaku.
Peristiwa 2 menit lalu
Demokrasi Indonesia kerap dipotret dari sisi yang paling gelap. Setiap musim pemilu, ruang publik dipenuhi keluhan tentang politik uang, jual-beli suara, dan anggapan bahwa kursi legislatif hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki modal besar. Seolah-olah, rakyat telah kehilangan kebebasan menentukan pilihan, dan suara pemilih selalu dapat ditakar dengan sejumlah uang.
Pandangan itu memang lahir dari banyak kejadian. Nyata terjadi. Namun, ia tidak pernah menjadi seluruh kenyataan.
Di tengah berbagai praktik yang mencederai demokrasi, masih ada kisah-kisah yang menjaga optimisme. Kisah tentang orang-orang yang membangun kepercayaan, bukan membeli suara; yang lebih mengandalkan rekam jejak daripada amplop; yang memilih hadir di tengah masyarakat tanpa menjadikan uang sebagai bahasa utama politik. Mungkin jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan, tetapi keberadaan mereka menjadi penanda bahwa demokrasi Indonesia belum kehilangan harapan.
Salah satu kisah itu adalah perjalanan Ebenejer Sitorus. Bersama Zulkifli Tanjung, bulan lalu, kami berbincang di ringan tentang kisah perjalanan politiknya.
Sejak pertama kali terpilih menjadi anggota DPRD Asahan pada Pemilu 2009, kemudian melanjutkan pengabdian di DPRD Sumatera Utara selama tiga periode berturut-turut hingga masa jabatan 2024–2029, ia mempertahankan satu prinsip yang tidak pernah berubah: tidak menjadikan politik uang sebagai jalan meraih kemenangan. Bagi Ebenejer, kepercayaan rakyat tidak dibeli, tetapi diperjuangkan.
Kalau ada yang mengatakan perjalanan politik Ebenejer Sitorus sudah direncanakan sejak awal, ia sendiri mungkin akan tersenyum. Faktanya, masuknya Ebenejer ke dunia politik praktis justru berawal dari sesuatu yang nyaris bisa disebut sebagai sebuah kebetulan, jika tidak mau dikatakan "kecelakaan politik".
Januari 2009, ketika suasana tahun baru masih terasa hangat, politisi Partai Damai Sejahtera (PDS), Marasal Hutasoit, datang berkunjung ke rumahnya. Percakapan mereka mula-mula mengalir ringan, sebelum beralih pada dinamika politik nasional yang saat itu sedang berubah drastis.
Mereka membahas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22-24/PUU-VI/2008 yang dibacakan pada 23 Desember 2008. Putusan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah demokrasi Indonesia karena mengubah sistem penentuan calon legislatif terpilih dari berdasarkan nomor urut menjadi berdasarkan suara terbanyak.
Perubahan itu melahirkan optimisme baru.
Empat rumah di Balige dibobol maling selama 2 pekan, warga resah minta polisi segera menangkap pelaku.
Peristiwa 2 menit lalu
Bupati Karo Lantik 20 Kepala Sekolah SD dan SMP, Tegaskan Kesetaraan Kesempatan Bagi ASN PNS dan PPPK
Sumut 17 menit lalu
Mencetak Sejarah di Laut Baltik Perenang Polandia Pertama Kali Berenang Tanpa Henti dari Swedia ke Polandia.
Inter-Nasional 2 jam lalu
Satresnarkoba Polres Labuhanbatu Amankan 94,41 Gram Sabu, Tersangka Diamankan di Bilah Hilir
Sumut 2 jam lalu
Selebrasi Nguyen Hai Long Usai Bobol Gawang Indonesia di Piala AFF 2026 Bikin Gondok Fans Garuda.
Sport 2 jam lalu
POSMETRO MEDANDemokrasi Indonesia kerap dipotret dari sisi yang paling gelap. Setiap musim pemilu, ruang publik dipenuhi keluhan tentang pol
Politik 2 jam lalu
Banjir Kritik Usai Timnas Indonesia Digulung Vietnam, Rizky Ridho Saya Terima Itu.
Sport 3 jam lalu
Kejaksaan tinggi Sumatera Utara siap menerima laporan terkait dugaan penyalahgunaan aset Bank Mandiri.
Medan 3 jam lalu
Reaksi Erick Thohir Usai Saksikan Timnas Indonesia Dibantai Vietnam di Pakansari.
Sport 3 jam lalu
Kapolres Sibolga Tinjau Kesiapan Personel dan Peralatan Penanggulangan Karhutla.
Sumut 3 jam lalu