Sabtu, 28 Maret 2026

Saat Golkar Berubah Arah, Kepemimpinan Diuji oleh Waktu dan Kepedulian

Faliruddin Lubis - Rabu, 14 Januari 2026 01:35 WIB
Saat Golkar Berubah Arah, Kepemimpinan Diuji oleh Waktu dan Kepedulian
IST
Timbul Jaya Hamonangan Sibarani.

POSMETRO MEDAN,Medan- Politik pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang sedang memegang palu. Ia adalah tentang ingatan kolektif-tentang bagaimana kekuasaan dijalankan, dan bagaimana seorang pemimpin dikenang setelah soroton meredup.

Di Sumatera Utara, Partai Golkar tengah berada pada persimpangan penting. Struktur bergerak, kepengurusan berubah, dan wacana kepemimpinan kembali menghangat menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Namun, di balik dinamika itu, satu pertanyaan apa yang seharusnya diwariskan dari sebuah kepemimpinan?

Ketua Komisi D DPRD Sumatera Utara dari Partai Golkar, Timbul Jaya Hamonangan Sibarani, memilih menjawabnya dengan tenang. Bagi Timbul, Golkar hari ini tidak boleh terjebak pada euforia kemenangan elektoral semata. Menjadi pemenang, kata dia, justru menghadirkan tanggung jawab yang lebih berat.

Baca Juga:

"Tantangannya sekarang bukan lagi bagaimana, menjaga kepercayaan dan soliditas," ujar Timbul, Selasa, (13/1/2026) melalui sambungan telepon kepada wartawan.

Ia menegaskan, Ketua DPD Golkar Sumut ke depan haruslah figur yang berkapasitas-mampu membaca denyut masyarakat, merangkul perbedaan/etnis dan menata kepengurusan secara inklusif.

Baca Juga:

Golkar, menurutnya, harus benar-benar menjadi rumah besar bagi seluruh elemen, pengusaha, petani, pekerja, hingga kelompok-kelompok sosial yang selama ini menjadi denyut nadi Sumatera Utara.

Namun, bagi Timbul, membicarakan masa depan tanpa menengok masa lalu adalah kekeliruan. Dalam setiap transisi, selalu ada pelajaran yang layak diwariskan.

Ia menyinggung kepemimpinan Musa Rajekshah, mantan Ketua DPD Golkar Sumut-bukan dalam konteks jabatan, melainkan dalam konteks nilai.

"Selama beliau menjabat, ada kepedulian yang nyata. Banyak sisi positif yang bisa dijadikan contoh," kata Timbul.

Salah satu yang ia ingat adalah kehadiran langsung dalam situasi bencana dan kepedulian kepada masyarakat merangkul masyarakat. Bagi Timbul, kepemimpinan diuji di medan nyata saat masyarakat menghadapi musibah dan negara dituntut hadir.

"Kepedulian itu bukan retorika. Ketika pemimpin turun langsung ke lapangan, di situ ada empati, ada keberanian mengambil beban," ujarnya.

Dalam pandangan Timbul, peran mantan ketua tidak berhenti ketika jabatan berakhir. Jaringan nasional, pengalaman panjang, dan kedekatan emosional dengan kader tetap memiliki arti penting-untuk, untuk menjaga kesejukan partai.

"Dalam masa transisi, kehadiran figur yang dihormati bisa menjadi penyangga moral. Supaya partai tetap teduh, tetap produktif," ucapnya.

Ia berharap Musda Golkar Sumut mendatang bukan hanya melahirkan struktur baru, tetapi juga kesadaran baru, bahwa politik yang sehat bertumpu pada etika, kepedulian, dan kesinambungan.

"Golkar harus terus bertransformasi. Bukan hanya kuat secara organisasi, tetapi juga matang secara moral. Dari Sumatera Utara, Golkar harus memberi teladan bahwa politik bisa dijalankan dengan kepala dingin dan hati yang hangat," pungkas Timbul.

Di tengah hiruk-pikuk wacana dan spekulasi, narasi seperti inilah yang kerap terlupakan, bahwa kekuasaan bersifat sementara, tetapi keteladanan adalah jejak yang tinggal paling lama.(erni)

Tags
beritaTerkait
Pemprov Sumut Tawarkan KEK Sei Mangkei dan BRT ke Investor Jepang
Silaturahmi Ke Kanwil DJP Sumut I, Zakiyuddin Harahap Sinergi Tingkatkan Penerimaan Pajak Untuk Pembangunan
Kapolda Sumut Tinjau Langsung Operasi Ketupat Toba 2026 di Berastagi
Kapolda Sumut Whisnu Hermawan Sapa Warga di Berastagi, Ciptakan Kehangatan di Tengah Pengamanan Lebaran
Kejati Sumut Masukkan Mantan Kepala KSOP Belawan ke Rutan Tanjung Gusta
Polda Sumut Bongkar Judi Online Jaringan Kamboja
komentar
beritaTerbaru