POSMETROMEDAN, Medan - Di sebuah desa bernama Gunung Baringin atau Mosa, Kecamatan Angkola Selatan, suara warga tidak terdengar lantang seperti demonstrasi di ibu kota. Ia lebih mirip keluhan yang ditahan lama tentang lampu yang sering padam, usaha kecil yang berjalan terseok, tentang masjid yang butuh sentuhan perbaikan.
Hari itu, Muniruddin Ritonga, S.H.I., M.Ag, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), datang dalam agenda Reses II Tahun Sidang 2025-2026 di daerah pemilihan Sumut 7. Reses, dalam tata kelola parlemen, bukan sekadar kewajiban formal.
Ia adalah jembatan antara gedung dewan dan tanah tempat rakyat berpijak.
Baca Juga:
Di ruang pertemuan sederhana itu, warga dipersilakan menyampaikan keluh kesahnya. Munir, yang kini duduk di Komisi B DPRD Sumut komisi yang membidangi perekonomian, mulai dari pertanian, perdagangan, energi, hingga UMKM mendengar satu per satu.
Baca Juga:

Lampu yang Padam Menjelang Ramadan
Dari empat aspirasi yang disampaikan persoalan listrik, bantuan UMKM, renovasi masjid, dan bantuan genset satu isu mencuat sebagai yang paling mendesak, mati lampu yang kerap terjadi, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.
"Kalau menurut warga, yang paling prioritas adalah masalah mengatasi mati lampu karena sebentar lagi akan masuk bulan suci Ramadan. Setelah itu masalah UMKM dan rehab masjid," ujar Munir.
Di desa, listrik bukan sekadar cahaya. Ia adalah penerang sahur, penguat pengeras suara masjid, penopang aktivitas kecil-kecilan yang menjadi sumber nafkah keluarga.
Ketika listrik padam, bukan hanya lampu yang gelap ritme kehidupan ikut tersendat, namun ibadah tetap jalan.
Munir menegaskan bahwa tujuan reses adalah menjaring dan menampung aspirasi masyarakat untuk diperjuangkan di DPRD Provinsi Sumut.
"Tujuan reses adalah untuk menjaring dan menampung aspirasi masyarakat di daerah pemilihan Sumut 7 serta memperjuangkan aspirasi tersebut," katanya.
Di sinilah fungsi wakil rakyat diuji. DPRD memiliki tiga fungsi utama yakni legislasi, anggaran, dan pengawasan.
Namun di lapangan, fungsi itu bermula dari satu hal yang lebih sederhana mendengar.
Tindakan Kecil, Makna Besar
Untuk salah satu aspirasi, yakni bantuan genset masjid, Munir tidak menunggu lama.
"Untuk genset, saya sudah bantu secara pribadi satu hari setelah acara dilaksanakan,"kata dia.
Langkah itu mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan energi desa. Namun di tengah gelap yang kerap datang tiba-tiba, satu genset bisa menjadi simbol bahwa keluhan warga tidak berhenti di catatan rapat.
Wakil Rakyat dan Jalan Sunyi Pengabdian
Reses sering dipandang sebagai rutinitas politik. Tetapi di Mosa, ia terasa seperti percakapan yang lebih dekat tentang bagaimana negara hadir dalam bentuk paling sederhana, listrik yang menyala, usaha kecil yang terbantu, dan rumah ibadah yang layak.
Munir, sebagai anggota Komisi B yang membidangi sektor ekonomi dan energi, kini memikul tanggung jawab membawa persoalan mati lampu itu ke ruang-ruang pembahasan di tingkat provinsi.
Aspirasi warga, sebagaimana ia tegaskan, akan menjadi bahan perjuangan di paripurna DPRD Sumut.
Namun pada akhirnya, pertanyaan yang lebih besar selalu menggantung, sejauh mana suara desa mampu bertahan ketika memasuki lorong-lorong birokrasi?
Wakil rakyat tidak hanya diukur dari seberapa sering ia berbicara di podium, tetapi dari seberapa dalam ia menyelami kegelisahan konstituennya.
Di Mosa, menjelang Ramadan, suara itu sederhana mereka hanya ingin lampu tetap menyala saat takbir berkumandang.
Dan mungkin, di situlah makna pengabdian menemukan wajahnya yang paling jujur, hadir, mendengar, lalu bergerak.(erni)
Tags
beritaTerkait
komentar